TEKNIK PEMIJAHAN IKAN KARPER
Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda
DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN
2019
TEKNIK PEMIJAHAN
IKAN KARPER
Pemijahan adalah
upaya mengawinkan induk jantan dan betina. Di berbagai daerah teknik pemijahan
ikan karper berbeda-beda, baik bentuk ukuran kolam maupun caranya sesuai dengan
daerah pertama kali mempopulerkannya. Namun biasanya aliran air harus lancar
(terus menerus) dan bentuk kolam persegi panjang.
Selain teknik
pemijahan di berbagai kolam, dikenal juga pemijahan tradisional, perbaikan
tradisional dan teknik baru menggunakan rangsangan hyphofise, terdapat juga
produksi benih karper unggul. Untuk keberhasilan pemijahan hal-hal yang harus
mendapat perhatian antara lain : dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas
atau berbatu-batu, air tidak terlalu keruh serta oksigen terlarut cukup. Karena
sifat telur ikan mas menempel, maka bahan penempel berupa ijuk atau
bahan lain misalnya tali rafia, atau tanaman air sangat diperlukan .
Beberapa sistem
pemijahan tradisional yang ada di
Indonesia antara lain :
a. Sistem sunda
Sistem Sunda biasanya luas kolam
berkisar antar 25-30 m2, sebagian dasar kolam sedikit berlumpur.
Kolam dikeringkan beberapa hari, kemudian air baru dimasukkan. Sebagai penempel
telur disediakan kakaban yang dipasang dibagian tengah kolam.
Induk siap pijah dimasukkan ke kolam antara jam 17.00 atau 18.00 WIB. Setelah
proses pemijahan selesai kakaban diangkat atau dipindahkan ke kolam penetasan.
b. Sistem Cimindi
Kolam
pemijahan terletak dibagian sudut kolam penetasan. Biasanya dibuat secara
sementara dengan pematang dari tanah. Persiapan –persiapan pemijahan sama
dengan sistem Sunda. Setelah memijah, induk-induknya ditangkap atau digiring ke
kolam penetasan dengan cara membuka pematang sementara tadi. Lazimnya, setelah
benih berumur seminggu, pematang sementara dibuka seluruhnya sehingga benih
masuk ke kolam penetasan.
c. Sistem Roncapaku
Cara ini pada prinsipnya sama seperti sistem cimindi, hanya pematang antara
terbuat dari batu. Susunan batu diatur hingga antara bebatuan terdapat
rongga-rongga. Dasar kolam ditaburi pasir atau kerikil. Bahan menempel telur
dipergunakanrumput kering yang ditabur secaramerata di seluruh permukaan air
kolam. Setelah kolam dikeringkan beberapa hari, pagi hari air dimasukkan dan
sore harinya induk dimasukkan ke kolam pemijahan. Penangkapan benih dilakukan setelah
berumur 3 minggu.
d. Sistem Sumatra Tengah
Luas kolam pemijahan yang digunakan kurang lebih hanya 5 m2.
Bahan penempel telur berupa ijuk yang
ditaburkan di permukaan air. Setelah induk memijah ditangkap dan dipindahkan ke
kolam penyimpanan induk, sedangkan ijuk
tetap dibiarkan. Menginjak benih berumur 5 hari dipindah ke kolam pendederan
atau sawah.
e. Sistem Dubish
Cara ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang berkebangsaan Jerman
bernama Dubish. Luas kolam pemijahan yang digunakan antara 25-50 m2.
Pada bagian pinggir kolam dibuatkan parit keliling selebar 60 cm, dalamnya
tidak kurang dari 35 cm. Sebagai penempel telur tidak menggunakan ijuk ataupun
rumput kering seperti sistem Roncapaku, tetapi menggunakanrumput hidup,
misalnya Cynodon dactylon persis
setinggi 40 cm di tengah kolam.
Setelah induk-induk memijah ditangkap dan dipindahkan ke kolam penyimpanan.
Sedangkan
penangkapan benih dilakukan setelah benih menginjak umur 5 hari.
f. Sistem Hofer
Luas kolam pemijahan tidak berbeda dengan Dubish yaitu 25-50 m2,
namun tidak dibuatkan parit keliling. Rumput sebagai penempel telur ditanam
sebelah depan aliran masuk untuk mencegah kekeruhan. Ketinggian air pada pintu
pemasukan sekitar 40 cm, sedangkan bagian pengeluaran tinggi air kurang lebih
70 cm. Cara
ini merupakan perbaikan sistem Dubish.
Dari 6 sistem pemijahan
tersebut, cara sistem Sunda paling banyak digunakan petani karena telah banyak
terbukti berhasil baik proses pemijahan maupun jumlah benih yang dihasilkan.
Sistem Sunda kemudian
diperbaiki terutama penanganan penetasan telur
yang dilakukan dalam kantong hapa berupa kain terilin bermata lembut dan
halus berukuran 2 x 2 x 1 m atau 2 x 1 x 1 m. Sebelum telur pada kakaban
ditetaskan dalam hapa terlebih dahulu direndam PK (Kalium Permanganat) beberapa saat, agar telur-telur bebas penyakit
(terutama jamur). Dengan perbaikan ini diharapkan jumlah telur yang menetas
menjadi benih dapat lebih banyak.

No comments:
Post a Comment