BUDIDAYA PAKAN
ALAMI
(Dapnia sp)
Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda
DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN
2019
Budidaya Pakan
Alami
Dapnia sp
A.
Pendahuluan
Dapnia sp
merupakan salah satu jenis makanan alami bagi ikan terutama untuk ikan ukuran
kecil. Dapnia termasuk organisme yang bersifat planktonik dan
bergerak aktif dengan alat geraknya yaitu kaki renang. Organisme ini termasuk
dalam filum Artropoda, kelas Crustacea, sub kelas Entomos, ordo Phylopoda dan
sub ordo Cladocera. Tubuh dapnia berbentuk lonjong, pipih dan segmen badan
tidak terlihat. Tubuh ditutupi cangkang yang terbuat dari kitin transparan.
Pada bagian belakang cangkang ada sebuah kantong yang berfungsi sebagai tempat
penampungan dan perkembangan telur. Ukuran tubuh dapnia antara 1.000 – 5.000
mikron. Dapnia berkembang biak dengan cara partenogenesis
(bertelur tanpa kawin) dan selanjutnya telur yang dihasilkan induk betina
ditampung pada kantong di bagian belakang cangkang. Telur di dalam kantong
terus berkembang hingga membentuk nauplius. Nauplius ini akan dikeluarkan dari
tubuh induknya saat induknya mengalami proses ganti kulit. Umur dapnia sekitar
34 hari dan mulai bertelur setelah umur 5 hari.
Di daerah yang
beriklim dingin, perkembangbiakan selama musim dingin terjadi secara kawin.
Sementara itu pada musim panas, perkembangbiakan terjadi secara partenogenesis.
Pada saat musim dingin akan dihasilkan individu-individu jantan yang
selanjutnya menjadi pejantan dan akan mengawini induk-induk betina.
Dapnia hidup di
air tawar seperti di danau atau kolam dan dapat ditemui di daerah tropis maupun
sub tropis. Dapnia tumbuh baik pada perairan dengan suhu 21oC dan pH
6,5-9. Pakan dapnia adalah fitoplankton, detritus dan zooplankton. Cara
makannya dengan menggerak-gerakan kakinya sehingga timbul arus yang kan membawa
pakan tersebut.
B.
Pembibitan
Bibit bisa
diperoleh dari peternak ikan yang melakukan usaha pengembangan dapnia. Bisa
juga dengan malakukan penangkapan di perairan umum seperti sungai, danau, waduk
atau di rawa-rawa. Keberadaan dapnia dapat diketahui dengan cara membenamkan
lempengan putih atau piring secchi ke dalam perairan pada saat pagi hari yang
cerah. Lempengan putih tersebut dapat dibuat dari papan kayu atau tripleks yang dibuat berbentuk lingkaran
dengan diameter sekitar 20 cm, selanjutnya dicat putih dan diberi gagang kayu
di tengahnya. Bila terlihat seperti kumpulan awan yang bergerak-gerak
menandakan bahwa perairan tersebut mengandung banyak spesies dari kelompok Cladocera. Alat-alat
yang digunakan untuk menangkap dapnia ialah serok/seser yang terbuat dari kain
saringan plankton, ember yang tutupnya berlubang-lubang yang sudah diisi air
tawar, aerator baterai dan bila cuaca cukup terik maka disediakan es batu
sebagai pendingin. Es batu tersebut dibungkus dengan kantong plastik kecil dan
selanjutnya dimasukan ke dalam ember yang berisi air. Bibit yang tertangkap
dengan serok ditampung dalam ember dan selanjutnya diberi aerasi. Suhu air di
ember penampungan diusahakan terjaga pada kisaran 27-30oC.
C.
Pengembangan Dapnia
Pengembangan
dapnia dapat dilakukan dalam skala kecil ataupun secara massal.
Pengembangan dapnia skala kecil
Wadah pemeliharaan bibit
dapnia adalah akuarium atau fiberglas ukuran 25 liter. Wadah pemeliharaan dicuci
dan dikeringkan kemudian diisi air tawar sebanyak 80-90% dari ketinggian wadah.
Pemupukan dilakukan dengan kotoran ayam kering sebanyak 2-5 g untuk setiap
1 liter air. Pupuk tersebut dibungkus dengan kain strimin kemudian digantungkan
di dalam air. Setelah 4-5 hari, air akan ditumbuhi diatome sehingga terlihat
berwarna kecoklatan. Setelah ditumbuhi diatome, bibit dapnia siap ditebarkan.
Pengembangan dapnia secara massal
Wadah yang digunakan untuk
pengembangan dapnia skala massal adalah bak semen atau fiberglas ukuran 1 ton.
Bak pemeliharaan
dibersihkan dan dikeringkan kemudian diisi air tawar 80-90% dari ketinggian dan
diberi aerasi.
Pupuk yang digunakan dalam
pengembangan dapnia yaitu kotoran ayam kering dan bisa ditambahkan tepung
bungkil kelapa. Jumlah pupuk yang diberikan sebanyak 2-5 g kotoran ayam dan 0,2
g tepung bungkil kelapa untuk setiap 1 liter air. Kedua jenis pupuk tersebut
dicampur kemudian dimasukan dalam kain strimin dan digantungkan dalam air.
Sehari setelah
pemupukan, bibit dapnia siap ditebarkan dengan kepadatan 10-20 ekor/liter air.
Pemupukan ulang
dilakukan rutin setiap 7-8 hari sekali setelah pemupukan sebelumnya. Jumlah
pupuk yang diberikan pada pemupukan ulang sebanyak setengah dari jumlah pupuk
pada pemupukan pertama.
Panen
dilakukan setelah 7-8 hari masa pemeliharaan dan dapat dilakukan secara
berkesinambungan. Jumlah yang dipanen untuk sekali panen sebaiknya hanya 1/3
dari populasi yang ada. Panen dilakukan dengan alat serok atau seser
dengan ukuran mata jaring 1,5-2 mm. Dengan ukuran mata jaring ini, diharapkan
hanya dapnia yang besar saja yang dipanen.

No comments:
Post a Comment