BUDIDAYA INFUSORIA
Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda
DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN
2019
Budidaya Infusoria
Infusoria adalah salah
satu pakan alami dari golongan protozoa, yaitu kumpulan organisme bersel
tunggal yang terdiri dari kelompok siliata dan kelompok flagelata. Kedua
kelompok ini dibedakan dari alat gerak yang dimiliki. Kelompok siliata
mempunyai alat gerak yang disebut silia atau rambut getar, sedangkan kelompok
flagelata mempunyai alat gerak yang disebut flagel atau bulu cambuk.
Infusoria
berkembang biak dengan dua cara, yaitu dengan konjugasi dan pembelahan sel.
Cara konjugasi yaitu dua sel induk saling menempel dan kemudian terjadi
pertukaran dan pembauran inti sel, sedangkan cara pembelahan sel adalah sel
membelah secara horisontal dengan pembagian inti yang sesuai. Kelompok siliata yang
biasa dijumpai dalam budidaya infusoria ialah paramaecium. Untuk kelompok
flagelata yang biasa ditemui antara lain Chlamydomonas, Euglena viridis dan
Ceratium hirudinella. Paramaecium mempunyai ukuran panjang
80-350 mikron, bentuknya lonjong mirip sandal dan pada ujung tubuhnya yang
lancip terdapat lekukan yang merupakan mulutnya serta pada seluruh tubuhnya
terdapat bulu getar yang merupakan alat geraknya. Hidupnya bergerombol
sehingga mudah dilihat dengan mata telanjang, sering ditemui di perairan yang
banyak mengandung bahan organik. Tempat seperti itu misalnya perairan sawah
yang mengandung busukan jerami, di perairan yang ada limbah rumah tangga, dan
perairan yang banyak ditumbuhi tanaman air seperti teratai dan enceng gondok.
Di perairan seperti ini biasanya banyak ditemui bakteri, protozoa lain yang
lebih kecil, ragi ataupun detritus yang merupakan pakan infusoria.
A.
Pembibitan
Untuk mendapatkan bibit
infusoria, air di tempat yang telah ditentukan kemudian disaring menggunakan
plankton net. Air hasil saringan ditampung dalam botol dan selanjutnya diamati
di bawah mikroskop untuk mengetahui keberadaan infusoria.
Setelah mendapatkan bibit
infusoria, langkah selanjutnya adalah membuat media pengembangan yaitu ekstrak
rebusan jerami. Caranya adalah sebagai berikut :
a. Jerami dicuci pada air
mengalir untuk menghilangkan kotoran yang melekat seperti lumpur dan sisa
pestisida. Selanjutnya jerami dipotong-potong halus dan direbus dengan air
bersih selama 15 menit. Setelah dingin, air disaring dengan kain blacu.
b. Sementara jerami direbus, wadah yang
akan digunakan disiapkan dan dibersihkan. Sebagai wadah digunakan fiberglas
atau ember ukuran 25 liter. Air media yang telah disaring ditampung dalam wadah
tersebut dan selanjutnya bibit diinokulasi serta diberi aerasi. Setelah 3 hari, air sudah
ditumbuhi infosoria.
B.
Pengembangan secara masal
Pengembangan
secara massal menggunakan wadah dari fiberglas atau bak semen ukuran 200-1000 liter.
Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut :
- Wadah
dibersihkan dan selanjutnya diisi dengan air bersih.
- Potongan-potongan jerami dimasukan ke dalam air. Bisa juga ditambahkan potongan selada dan kol atau bahkan kulit pisang kering apabila tidak mempunyai cukup stok jerami. Jumlah potongan jerami atau bahan lain yang digunakan sebanyak 5 kg untuk setiap 1.000 liter air
- Rendaman ini dibiarkan kurang lebih seminggu dan selama itu diberi aerasi terus-menerus. Setelah satu minggu, bibit infusoria dimasukan dan tetap diberikan aerasi untuk suplai oksigen serta untuk menghindari penguraian bakteri secara anaerob yang dapat menghasilkan gas beracun seperti H2S. Pemanenan dapat dilakukan setelah 7 – 8 hari masa pemeliharaan. Panen dapat dilakukan dengan menciduk air dalam wadah pemeliharaan atau dengan cara penyiponan kemudian disaring dengan plankton net. Selanjutnya air yang tertampung dalam tabung plankton net dimasukan ke dalam ember dan siap dimasukan ke dalam bak pemeliharaan sebagai pakan benih ikan.

No comments:
Post a Comment