TEKNIK PEMIJAHAN IKAN
NILEM

Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda
DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN
2019
TEKNIK PEMIJAHAN IKAN NILEM
Pemijahan adalah suatu
peristiwa pertemuan antara ikan jantan dengan ikan betina yang bertujuan untuk
pembuahan telur oleh spermatozoa. Di kolam, pemijahan ikan nilem dapat
dilakukan sepanjang tahun dengan cara mengatur kondisi lingkungan, perlu
dilakukan manipulasi lingkungan yaitu dengan pengeringan dasar kolam dan
pemberian air baru yang mengalir.
Ikan nilem betina mulai
dapat dipijahkan pada umur 1,5 tahun dengan berat badan sekitar 100 gr.Untuk
ikan nilem jantan sudah dapat dipijahkan sekitar umur 8 bulan. Induk ikan
betina dapat dipijahkan sekitar 3 atau 4 bulan sekali.
Untuk membedakan induk ikan nilem jantan dan
betina dapat dilakukan dengan cara memijit pada bagian perut ke arah anus. Pada
induk ikan nilem jantan akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang
genetalnya,sedangkan ikan betina tidak. Induk ikan nilem betina yang sudah
matang telur dapat dilihat dengan perutnya yang relatif membesar dan lunak
apabila diraba, serta dari lubang genetalnya akan keluar cairan kekuningan bila
bagian perut dipijit perlahan-lahan ke arah anus.
Kondisi ekologis
sebagai faktor luar yang berperan penting terhadap pemijahan ikan adalah
cahaya, suhu, oksigen, dan derajat keasaman. Aliran air juga memegang peranan
penting dalam proses pemijahan. Sebagian ikan memijah pada sore hari menjelang
malam dan sebagian lagi memijah pada dini hari menjelang pagi. Selain faktor
lar tersebut, faktor dari dalam (internal) juga beperan penting dalam proses
pemijahan ikan. Faktor internal tesebut antara lain kematangan telur dan
ketersediaan hormon tertentu di dalam tubuhnya.
Terdapat
beberapa sistem dalam proses pemijahan ikan nilem yaitu
1. Sistem Tradisional
Dalam sistem
tradisional dibagi atas 2 yaitu sistem
kurungan dan kantong. Sistem kurungan tidak memerlukan kolam khusus untuk
pemijahan, kolam pemijahan berlaku juga sebagai kolam penetasan. Ruang
penetasan ditempatkan pada salah satu sudut kolam dekat dengan aliran air dan
diberi rumput-rumputan atau ijuk. Setelah induk ikan memijah, segera
dipindahkan dari kolam pemijahan dan ditutup dengan kurungan dari kain kasa
yang berbingkai atau menggunakan daun kelapa. Hal tersebut dimaksudkan untuk
melindungi telur-telur ikan dari kemungkinan dimakan induknya. Sebagai peneduh
dalam kolam pemijahan dapat diletakkan daun kelapa atau daun pisang. Proses pemijahan biasanya
berlangsung pagi hari.
Pemijahan menggunakan
sistem kantong diperlukan sebuah kolam untuk pemijahan dan 1 kolam untuk
prosese penetasan telur. Kolam pemijahan memiliki dasar kerikil dan berpasir,
kolam penetasan dibuat 2 kolam yang bisa bergantian agar tidak terlalu lama
dalam menunggu masa pergantian pemijahan pada tahap berikutnya. Pada proses
pemijahan kolam pemijahan dapat ditutup dengan lapisan rumput atau ijuk, ikan
memijah dengan bantuan aliran air deras, telur akan mengalir ke dalam kolam
penetasan (Handayani, 1988).
2. Sistem Tradisional yang Diperbaiki
Pada prinsipnya
tidak berbeda jauh dengan sistem tradisional. Pada cara ini dasar kolam diberi
hapa untuk memudahkan memindahkan telur ke kolam penetasan atau ke corong
penetasan. Hapa adalah tempat pemijahan ikan yang ditempatkan ke dalam kolam
yang terbuat dari kainkasa yang halus agar pergerakan ikan dapat dibatasi.
Segera setelah induk ikan nilem memijah hapa diangkat dan telur-telurnya dapat
dipindahkan (Handayani, 1988).
3. Sistem Kawin Suntik (Induce
breeding)
Sistem ini adalah usaha
untuk memproduksi benih ikan secara optimal yang tidak tergantung pada musim.
Disamping itu metode ini dapat digunakan untuk memproduksi benih ikan dari
induk yang tidak mau memijah secara alami, sehingga dalam proses pemijahan
harus dirangsang dengan kelenjar hipofisa atau dengan hormon buatan. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyuntikan
yaitu pemilihan hormon dosis yang tepat bagi induk, waktu dan frekuensi
penyuntikan, serta penanganan induk. Tingkat keberhasilan pemijahan dengan cara
ini sangat ditentukan oleh tingkat kematangan gonatnya. Apabila
kematangan gonatnya kurang, maka hasilnya juga kurang bagus, bisa-bisa malah
tidak memijah.

No comments:
Post a Comment