Wednesday, October 2, 2019

TEKNIK PEMIJAHAN IKAN KARPER






Pemijahan adalah upaya mengawinkan induk jantan dan betina. Di berbagai daerah teknik pemijahan ikan karper berbeda-beda, baik bentuk ukuran kolam maupun caranya sesuai dengan daerah pertama kali mempopulerkannya. Namun biasanya aliran air harus lancar (terus menerus) dan bentuk kolam persegi panjang.
Selain teknik pemijahan di berbagai kolam, dikenal juga pemijahan tradisional, perbaikan tradisional dan teknik baru menggunakan rangsangan hyphofise, terdapat juga produksi benih karper unggul. Untuk keberhasilan pemijahan hal-hal yang harus mendapat perhatian antara lain : dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas atau berbatu-batu, air tidak terlalu keruh serta oksigen terlarut cukup. Karena sifat telur ikan mas menempel, maka bahan penempel berupa ijuk atau bahan lain misalnya tali rafia, atau tanaman air sangat diperlukan .
Beberapa sistem pemijahan tradisional  yang ada di Indonesia antara lain :
a.       Sistem sunda
Sistem Sunda  biasanya luas kolam berkisar antar 25-30 m2, sebagian dasar kolam sedikit berlumpur. Kolam dikeringkan beberapa hari, kemudian air baru dimasukkan. Sebagai penempel telur disediakan kakaban yang dipasang dibagian tengah kolam.
Induk siap pijah dimasukkan ke kolam antara jam 17.00 atau 18.00 WIB. Setelah proses pemijahan selesai kakaban diangkat atau dipindahkan ke kolam penetasan.
b.      Sistem Cimindi
Kolam pemijahan terletak dibagian sudut kolam penetasan. Biasanya dibuat secara sementara dengan pematang dari tanah. Persiapan –persiapan pemijahan sama dengan sistem Sunda. Setelah memijah, induk-induknya ditangkap atau digiring ke kolam penetasan dengan cara membuka pematang sementara tadi. Lazimnya, setelah benih berumur seminggu, pematang sementara dibuka seluruhnya sehingga benih masuk ke kolam penetasan.
c.       Sistem Roncapaku
Cara ini pada prinsipnya sama seperti sistem cimindi, hanya pematang antara terbuat dari batu. Susunan batu diatur hingga antara bebatuan terdapat rongga-rongga. Dasar kolam ditaburi pasir atau kerikil. Bahan menempel telur dipergunakanrumput kering yang ditabur secaramerata di seluruh permukaan air kolam. Setelah kolam dikeringkan beberapa hari, pagi hari air dimasukkan dan sore harinya induk dimasukkan ke kolam pemijahan. Penangkapan benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.
d.      Sistem Sumatra Tengah
Luas kolam pemijahan yang digunakan kurang lebih hanya 5 m2. Bahan  penempel telur berupa ijuk yang ditaburkan di permukaan air. Setelah induk memijah ditangkap dan dipindahkan ke kolam penyimpanan induk, sedangkan  ijuk tetap dibiarkan. Menginjak benih berumur 5 hari dipindah ke kolam pendederan atau sawah.
e.       Sistem Dubish
Cara ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Dubish. Luas kolam pemijahan yang digunakan antara 25-50 m2. Pada bagian pinggir kolam dibuatkan parit keliling selebar 60 cm, dalamnya tidak kurang dari 35 cm. Sebagai penempel telur tidak menggunakan ijuk ataupun rumput kering seperti sistem Roncapaku, tetapi menggunakanrumput hidup, misalnya Cynodon dactylon persis setinggi 40 cm di tengah kolam.
Setelah induk-induk memijah ditangkap dan dipindahkan ke kolam penyimpanan. Sedangkan penangkapan benih dilakukan setelah benih menginjak umur 5 hari.
f.       Sistem Hofer
Luas kolam pemijahan tidak berbeda dengan Dubish yaitu 25-50 m2, namun tidak dibuatkan parit keliling. Rumput sebagai penempel telur ditanam sebelah depan aliran masuk untuk mencegah kekeruhan. Ketinggian air pada pintu pemasukan sekitar 40 cm, sedangkan bagian pengeluaran tinggi air kurang lebih 70 cm. Cara ini merupakan perbaikan sistem Dubish.
Dari 6 sistem pemijahan tersebut, cara sistem Sunda paling banyak digunakan petani karena telah banyak terbukti berhasil baik proses pemijahan maupun jumlah benih yang dihasilkan.
Sistem Sunda kemudian diperbaiki terutama penanganan penetasan telur  yang dilakukan dalam kantong hapa berupa kain terilin bermata lembut dan halus berukuran 2 x 2 x 1 m atau 2 x 1 x 1 m. Sebelum telur pada kakaban ditetaskan dalam hapa terlebih dahulu direndam PK (Kalium Permanganat) beberapa saat, agar telur-telur bebas penyakit (terutama jamur). Dengan perbaikan ini diharapkan jumlah telur yang menetas menjadi benih dapat lebih banyak.



OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN

2019

No comments:

Post a Comment