BUDIDAYA
IKAN BELUT
(
Synbranchus )
1.
SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan
bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya
licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di
sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak
tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak
dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.
2.
MANFAAT
Manfaat dari budidaya belut adalah:
a) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
b) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
c)
Sebagai obat penambah darah.
3. PERSYARATAN LOKASI
1.
Secara
klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang
spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah
sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada
batasan yang spesifik.
2.
Kualitas
air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak
tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah
dasar kolam tidak beracun.
3.
Suhu
udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31
derajat C.
4.
Pada
prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen
terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm.
4.
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
4.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1)
Perlu
diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain:
kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2
cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan
belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2
bulan) yaitu untuk pemeliharaan belutukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20
cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran
30-40 cm.
2)
Bangunan jenis-jenis
kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan
daya tampung belut itu sendiri.
3)
Ukuran
kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2
cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya
tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran
5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua
(ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan
kelak berukuran 3-50 cm.
4)
Pembuatan
kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu
diplester.
5)
Peralatan
lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan
yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
6)
Media
dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi
dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi
sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10
cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami
kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal
seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara
perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik + air). Dengan demikian
media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat
agar sampai menjadi lumpur sawah.
Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.
4.2. Penyiapan Bibit
1)
Menyiapkan
Bibit
- Anak belut yang sudah siap dipelihara secara
intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2
tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
- Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau
bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
- Pemilihan
bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina
berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
- Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan
kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1
m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan
belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut
berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk
ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan
ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan
calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran
5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam
belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam
pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan
secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan
lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.
4.3.
Pemeliharaan Pembesaran
- Pemupukan
Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk
pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu
bahan organik utama.
- Pemberian
Pakan
Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa
cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
- Pemberian Vaksinasi
- Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah
menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.
5.
HAMA DAN PENYAKIT
5.1. Hama
- Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang
langsung mengganggu kehidupan belut.
- Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering
menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga,
musang air dan ikan gabus.
- Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama
yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan
belut secara intensif tidak banyak diserang hama.
5.2.
Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang
disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan
protozoa yang berukuran kecil.
6. PANEN
Pemanenan
belut berupa 2 jenis yaitu :
a.
Berupa benih/bibit yang
dijual untuk diternak /dibudidayakan.
b.
Berupa hasil akhir
pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai
dengan permintaan pasar/konsumen).
Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap
ikan lainnya denganperalatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata
lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut
tinggal diambil saja. akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati
konsumen.
OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin
DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

No comments:
Post a Comment