BUDIDAYA IKAN
BELUT
( Synbranchus )

Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda
DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN
2019
BUDIDAYA
IKAN BELUT
(
Synbranchus )
1.
SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan
bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya
licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di
sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak
tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak
dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.
2.
MANFAAT
Manfaat dari budidaya belut adalah:
a) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
b) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
c)
Sebagai obat penambah darah.
3. PERSYARATAN LOKASI
1. Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi
iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat
berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban
dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
2. Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak
terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah
pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
3. Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut
yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
4. Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus
bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu
ukuran 1-2 cm.
4.
PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
4.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut
harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan
(untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran
3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang
masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belutukuran
5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran
15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
2) Bangunan
jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran,
kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
3) Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam
pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut
remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut
konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam
belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga
panjang belut pemanenan kelak berukuran 3-50 cm.
4) Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding
tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester.
5) Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air
yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan
peralatan-peralatan lainnya.
6) Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik
seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih
kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya
ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun
dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan
organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan
kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik +
air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut
dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah.
Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.
4.2. Penyiapan Bibit
1) Menyiapkan Bibit
- Anak belut yang sudah siap dipelihara secara
intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2
tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
- Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau
bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
- Pemilihan
bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina
berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
- Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan
kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1
m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan
belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut
berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk
ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan
ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan
calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran
5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam
belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam
pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan
secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan
lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.
4.3.
Pemeliharaan Pembesaran
- Pemupukan
Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk
pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu
bahan organik utama.
- Pemberian
Pakan
Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa
cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
- Pemberian Vaksinasi
- Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah
menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.
5.
HAMA DAN PENYAKIT
5.1. Hama
- Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang
langsung mengganggu kehidupan belut.
- Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering
menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga,
musang air dan ikan gabus.
- Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama
yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan
belut secara intensif tidak banyak diserang hama.
5.2.
Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang
disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan
protozoa yang berukuran kecil.
6. PANEN
Pemanenan
belut berupa 2 jenis yaitu :
a. Berupa
benih/bibit yang dijual untuk diternak /dibudidayakan.
b. Berupa
hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi
(besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).
Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap
ikan lainnya denganperalatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata
lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut
tinggal diambil saja. akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati
konsumen.

No comments:
Post a Comment