Tuesday, May 28, 2019

DIAGNOSA PENYAKIT
 PADA IKAN AIR TAWAR











Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda











DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN

2019

DIAGNOSA PENYAKIT
 PADA IKAN AIR TAWAR

Dalam dunia budidaya ikan diagnosa terhadap jenis penyakit sangatlah penting. Diagnosa penyakit adalah pemeriksaan secara cermat  terhadap ikan yang terkena penyakit, mengingat ciri luar yang terlihat belum cukup untuk membuat kesimpulan yang pasti tentang kondisi ikan, jenis penyakit dan penyebabnya. Diagnosis terhadap ikan yang terkena penyakit sangat penting untuk kesuksesan langkah pengobatan selanjutnya. Sehingga dengan diagnosa yang tepat diharapkan ikan yang terserang penyakit segera ditemukan alternatif pengobatannya.
Pada saat mendiagnosa penyakit ikan, ciri-ciri penyerangan suatu jenis penyakit harus diketahui karena setiap penyakit ikan  biasanya memperlihatkan tanda-tanda yang berbeda.
Berikut ini adalah cara mendiagnosa penyakit ikan dengan mengamati ciri-cirinya dan tingkah laku ikan :
1.   Kelainan pada tulang belakang (bengkok), scoliosis dan lordosis
Diagnosa :
-          Keturunan
-          Myxosoma cerebralis
-          Infeksi bakteri/virus
-          Kekurangan vitamin

2.   Kelainan pada rahang atas atau bawah
Diagnosa :
-          Myxosoma cerebralis
-          Kelainan kelenjar tiroid

3.   Rontok sirip
Diagnosa :
-          Infeksi bakteri Flexibacter sp
-          Parasit Costia sp
-          Sifat air terlalu basa
-          Parasit Gyrodactylus
4.   Perut gembung (dropsy)
Diagnosa :
-          Bacterial hemorrhagic septicaemia (BHS)
-          Viral hemorrhagic septicaemia (VHS)
5.   Ikan menjadi kurus
Diagnosa :
-          Tuberkulosis
-          Penyakit cacing
-          Penyakit Octomitus sp
6.   Sisik kasar
Diagnosa :
-          Infeksi bakteri
-          Air terlalu asam
7.   Mata menonjol
Diagnosa :
-          Tuberkulosis
-          Infeksi cacing
-          Infeksi virus
8.   Mata masuk ke dalam
Diagnosis :
-          Infeksi bakteri
-          Infeksi trypanoplasma (Cryptobia)

9.   Serabut seperti kapas pada kulit
Diagnosa :
-          Penyakit jamur Saprolegnia sp
10.         Perdarahan (hemorrhage)
Diagnosa :
-          Serangan Argulus sp
-          Infeksi bakteri
-          Infeksi Trichodina sp
-          Gigitan lintah
11.         Kulit terasa kasar dan bintik hitam
Diagnosa :
-          Ichthyosporodium
12.         Insang pucat (anemia)
Diagnosa :
-          Infeksi bakteri
-          Infeksi virus
13.         Insang rontok
Diagnosa :
-          Bakteri Flexibacter sp
-          Myxobacteria
-          Parasit Dactylogyrus sp
14.         Bintik putih kemerahan
Diagnosa :
-          Myxobolus sp
15.         Frekwensi pernafasan bertambah
Diagnosa :
-          Myxobacteria
-          Flexibacter sp
Parasit Dactylogyrus sp.

Wednesday, May 22, 2019


PENYAKIT NON-INFEKSI PADA IKAN LELE










Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda








DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN

2019

PENYAKIT NON-INFEKSI
PADA IKAN LELE

Ikan lele dapat terserang oleh penyakit non-infeksi. Penyakit ini disebabkan oleh kesalahan lingkungan atau kesalahan nutrisi. Pemicu terjadinya penyakit non-infeksi atau nonparasiter diantaranya adanya gas-gas beracun (amonia) akibat penumpukan sisa-sisa kotoran (feses) dan pakan pada dasar kolam, kekurangan oksigen dalam air, derajat keasaman (pH) yang terlalu rendah, perubahan suhu yang mendadak, kekurangan vitamin dan mineral, komposisi gizi pakan yang buruk, serta pakan yang telah membusuk dan mengandung kuman. Adapun jenis-jenis penyakit non-infeksi yang sering menyerang ikan lele adalah sebagai berikut :
1.   Penyakit Kuning (Jaundice)
Penyebab :
Biasanya penyakit ini muncul jika ikan tidak diberi pakan yang cukup, pakan kadaluarsa atau pakan disimpan ditempat lembab. Beberapa literatur dan penelitian menunjukan bahwa lele yang diberi pakan campuran jeroan ayam dan secara penuh diberi pakan tersebut banyak yang menunjukan gejala jaundice.
Gejala :
Penyakit ini ditandai dengan perubahan warna tubuh ikan menjadi kuning dan diikuti dengan kematian. Selain terlihat pada bagian tubuh bagian luar, warna kuning juga terlihat pada organ dalam seperti hati, ginjal dan usus ikan saat ikan tersebut dibedah.
Pencegahan :
Cara mengatasi penyakit ini adalah dengan menghindari pemberian pakan berupa ikan rucah dan jeroan ayam secara penuh dan kontinyu. Penggunaan pellet yang masih baru dan berkualitas sangat dianjurkan. Selain itu, dilakukan penggantian air kolam yang terus diulang.
2.   Penyakit yang disebabkan oleh pemberian pakan yang berlebihan
Pemberian pakan yang berlebihan dapat menyebabkan ikan mudah terserang penyakit. Selain itu, akan terjadi penurunan kualitas air pada kolam.
Gejala :
Pembeian pakan yang berlebihan ini akan mempengaruhi wabah gejala pecahnya usus yang dikenal dengan RIS (Reptured Intestine Syndrom) pada berbagai jenis ikan rakus, seperti ikan lele. Usus ikan yang kenyang berlebihan akan mudah pecah. Pada ikan lele muda, bagian usus yang mudah pecah, yaitu usus belakang atau usus tengah. Selanjutnya, akan menimbulkan radang pada dinding perut yang menyebabkan luka yang berasal dari dalam pecahnya dinding bagian ventral.
Pencegahan :
Cara mengatasi penyakit dengan memberikan pakan secara tepat. Pemberian pellet mengacu pada berat tubuh ikan. Selain itu, penggantian air kolam dilakukan secara berkala agar sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang menumpuk di dasar kolam.
3.   Penyakit yang disebabkan kekurangan vitamin C
Vitamin merupakan bahan organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, tetapi sangat penting. Vitamin diperlukan selama pertumbuhan dan pada waktu reproduksi (pemijahan). Jika kekurangan vitamin, akan menyebabkan ikan sakit atau avitaminosis. Vitamin C khususnya, sangat aktif dalam beberapa sistem dan merupakan vitamin terpenting untuk perkembangan kolagen dan tulang rawan.
Gejala :
Tubuh ikan menjadi bengkok dan tulang kepala lele yang retak-retak, pendarahan di kulit, mata, ginjal, usus dan mulut.
Pengobatan :
Penanggulangan penyakit tersebut adalah dengan cara menambahkan vitamin C dengan dosis 1 g/kg pakan selama 5-7 hari.
4.   Penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan
Penyebab :
Penumpukan sisa pakan dan kotoran ikan di dasar kolam akan memicu pertumbuhan bakteri patogen dan plankton. Padahal, kepadatan plankton yang terlalu tinggi akan menyebabkan fluktuasi pH harian yang tinggi. Faktor lingkungan lainnya adalah fluktuasi suhu harian antara siang dan malam yang cukup tinggi, terutama pada musim hujan. Perubahan lingkungan yang ekstrim tersebut akan menyebabkan ikan strees dan membutuhkan lebih banyak energi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
Gejala :
Lele yang mengalami gangguan akibat faktor lingkungan, seperti kelebihan sisa pakan, bahan kimia industri dan pestisida dari lahan Perikanan biasanya berenang lebih cepat dibandingkan saat normal. Tanda lain adalah lele berkumpul pada saluran pemasukan air atau mengambang pada permukaan air. Jika kondisinya lebih buruk, permukaan tubuh ikan menjadi pucat, insang membengkak, sungut melipat dan sirop geripis.
Pengobatan :
Penanggulangannya dengan pergantian air sebanyak 20 % setiap dua hari sekali sampai kesehatan lele membaik dan sehat.

Thursday, May 16, 2019

FORMALIN DALAM IKAN












Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda










DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN

2019


FORMALIN DALAM IKAN


Pendahuluan
          Merebaknya isu penggunaan bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan hasil perikanan akhir-akhir ini akan berdampak negatif terhadap upaya pemerintah untuk melaksanakan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan. Pasalnya, masyarakat yang sudah mempunyai minat akan makan ikan akan surut begitu mendengar sebagian ikan yang tersedia di pasar mengandung bahan berbahaya, apalagi bagi masyarakat yang belum memahami pentingnya makan ikan. Di samping itu, kandungan formalin pada produk-produk perikanan indonesia dapat menjadi alat bagi negara-negara importir untuk menolak produk-produk perikanan asal indonesia. Lalu, apa sebenarnya formalin, fungsinya dan efeknya terhadap kesehatan?
Cara Mengenali Formalin
Formalin merupakan gas formaldehid yang tersedia dalam bentuk larutan 40 %, berupa cairan jernih, tidak berwarna dengan bau menusuk.
Berbagai macam fungsi formalin diantaranya adalah :
1. Sebagai antiseptik untuk membunuh  mikroorganisme
2. Bahan pengawet hewan kecil, serangga hingga mayat manusia
3. Desinfektan misal untuk mensterilkan kandang
4. Dalam kosmetika digunakan sebagai deodorant dan antihidrolitik ( menghambat keriingat )
5. Bahan tambahan dalam pembuatan kertas tissue untuk toilet
6. Bahan baku dalam industri lem playwood, resin maupun tekstil
Berdasarkan penelitian, formalin bersifat karsinogen yaitu senyawa yang dapat menyebabkan kanker pada manusia. Konsumsi formalin dalam dosis rendah, dapat menyebabkan mual, muntah, rasa terbakar pada tenggorakan, sakit perut akut, mencret darah, depresi syaraf dan gangguan peredaran darah. Pada dosis tinggi berakibat konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), muntah darah dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Jika formalin dikonsumsi secara terus menerus dan dalam jangkla waktu yang panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Mengingat besarnya bahaya yang ditombulkan, formalin dilarang digunakan sebagai bahan tambahan makanan.
Alasan penggunaan formalin bagi sebagian nelayan adalah lebih ekonomis karena 1 kg formalin dapat dibeli dengan harga lebih murah dibandingkan harga es batu, daya awetnya lebih lama, resiko kerusakan lebih rendah, penampakan lebih baik, formalin lebih mudah diperoleh serta lebih praktis dan tidak makan tempat yang luas dibandingkan dengan es batu.
Sedangkan alasan bagi pengolah ikan adalah biaya produksi lebih rendah, rendemen hasil lebih tinggi karena selama pengeringan ikan, formalin dapat mencegah turunnya bobot dari sekitar 60 % hanya menjadi 30 %, proses pengeringan lebih cepat dan penampakan lebih baik.
Ciri-ciri ikan yang mengandung formalin
Ikan Basah :
a.     Penampakan luar bersih dan cemerlang
b.     Tekstur daging kaku/kenyal
c.     Mata ikan merah tetapi insang pucat
d.     Sedikit lendir, bau amis (spesifik ikan) berkurang
e.     Ada bau seperti kaporit, lalat kurang / tidak mau hinggap
Ikan Kering :
a.     Penampakan luar bersih, cerah
b.     Tekstur keras, kenyal
c.     Bau hampir netral (bau amis berkurang)
Peraturan yang melarang penggunaan formalin :
a.     UU Perikanan No. 31 tahun 2004, Pelaku penggunaan bahan kimia berbahaya pada makanan diancam kurungan 6 tahun penjara atau denda Rp. 1,5 milyar
b.     UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen penggunaan bahan terlarang sebagai bahan tambahan makanan dikenai ancaman hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun serta denda paling banyak 2 milyar
c.     UU No. 7 tahun 1996 tentang pangan. Pelaku penggunaan bahan yang dilarang dipakai sebagai bahan tambahan pangan seperti formalin diancam hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda Rp. 600 juta
d.     Kepmenkes No. 722 tahun 1988 tentang bahan tambahan makanan
e.     Peraturan Menteri Kesehatan No. 472/1996 tentang pengamanan bahan bahaya bagi kesehatan
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 254/2000 tentang tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu.

Thursday, May 9, 2019

BUDIDAYA IKAN BELUT
( Synbranchus )










Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda






DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN
2019

BUDIDAYA IKAN BELUT
( Synbranchus )

1. SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

2. MANFAAT
Manfaat dari budidaya belut adalah:
a) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
b) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
c) Sebagai obat penambah darah.

3. PERSYARATAN LOKASI
1.  Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
2.  Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
3.  Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
4.  Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm.

4. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
4.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1)   Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belutukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
2)   Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
3)   Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 3-50 cm.
4)   Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester.
5)   Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
6)   Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik + air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah.
Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.
4.2. Penyiapan Bibit
1)   Menyiapkan Bibit
  1. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
  2. Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
  3. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
  4. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

4.3. Pemeliharaan Pembesaran
  1. Pemupukan
Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.
  1. Pemberian Pakan
Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
  1. Pemberian Vaksinasi
  2. Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

5. HAMA DAN PENYAKIT
5.1. Hama
  1. Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut.
  2. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan ikan gabus.
  3. Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama.
5.2. Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

6. PANEN
Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
a.  Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak /dibudidayakan.
b.  Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).
Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya denganperalatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja. akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.