Monday, April 29, 2019


TEKNIK PEMIJAHAN IKAN KARPER














Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda







DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN

2019

TEKNIK PEMIJAHAN IKAN KARPER

Pemijahan adalah upaya mengawinkan induk jantan dan betina. Di berbagai daerah teknik pemijahan ikan karper berbeda-beda, baik bentuk ukuran kolam maupun caranya sesuai dengan daerah pertama kali mempopulerkannya. Namun biasanya aliran air harus lancar (terus menerus) dan bentuk kolam persegi panjang.
Selain teknik pemijahan di berbagai kolam, dikenal juga pemijahan tradisional, perbaikan tradisional dan teknik baru menggunakan rangsangan hyphofise, terdapat juga produksi benih karper unggul. Untuk keberhasilan pemijahan hal-hal yang harus mendapat perhatian antara lain : dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas atau berbatu-batu, air tidak terlalu keruh serta oksigen terlarut cukup. Karena sifat telur ikan mas menempel, maka bahan penempel berupa ijuk atau bahan lain misalnya tali rafia, atau tanaman air sangat diperlukan .
Beberapa sistem pemijahan tradisional  yang ada di Indonesia antara lain :
a.    Sistem sunda
Sistem Sunda  biasanya luas kolam berkisar antar 25-30 m2, sebagian dasar kolam sedikit berlumpur. Kolam dikeringkan beberapa hari, kemudian air baru dimasukkan. Sebagai penempel telur disediakan kakaban yang dipasang dibagian tengah kolam.
Induk siap pijah dimasukkan ke kolam antara jam 17.00 atau 18.00 WIB. Setelah proses pemijahan selesai kakaban diangkat atau dipindahkan ke kolam penetasan.
b.    Sistem Cimindi
Kolam pemijahan terletak dibagian sudut kolam penetasan. Biasanya dibuat secara sementara dengan pematang dari tanah. Persiapan –persiapan pemijahan sama dengan sistem Sunda. Setelah memijah, induk-induknya ditangkap atau digiring ke kolam penetasan dengan cara membuka pematang sementara tadi. Lazimnya, setelah benih berumur seminggu, pematang sementara dibuka seluruhnya sehingga benih masuk ke kolam penetasan.
c.    Sistem Roncapaku
Cara ini pada prinsipnya sama seperti sistem cimindi, hanya pematang antara terbuat dari batu. Susunan batu diatur hingga antara bebatuan terdapat rongga-rongga. Dasar kolam ditaburi pasir atau kerikil. Bahan menempel telur dipergunakanrumput kering yang ditabur secaramerata di seluruh permukaan air kolam. Setelah kolam dikeringkan beberapa hari, pagi hari air dimasukkan dan sore harinya induk dimasukkan ke kolam pemijahan. Penangkapan benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.
d.   Sistem Sumatra Tengah
Luas kolam pemijahan yang digunakan kurang lebih hanya 5 m2. Bahan  penempel telur berupa ijuk yang ditaburkan di permukaan air. Setelah induk memijah ditangkap dan dipindahkan ke kolam penyimpanan induk, sedangkan  ijuk tetap dibiarkan. Menginjak benih berumur 5 hari dipindah ke kolam pendederan atau sawah.
e.    Sistem Dubish
Cara ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Dubish. Luas kolam pemijahan yang digunakan antara 25-50 m2. Pada bagian pinggir kolam dibuatkan parit keliling selebar 60 cm, dalamnya tidak kurang dari 35 cm. Sebagai penempel telur tidak menggunakan ijuk ataupun rumput kering seperti sistem Roncapaku, tetapi menggunakanrumput hidup, misalnya Cynodon dactylon persis setinggi 40 cm di tengah kolam.
Setelah induk-induk memijah ditangkap dan dipindahkan ke kolam penyimpanan. Sedangkan penangkapan benih dilakukan setelah benih menginjak umur 5 hari.
f.     Sistem Hofer
Luas kolam pemijahan tidak berbeda dengan Dubish yaitu 25-50 m2, namun tidak dibuatkan parit keliling. Rumput sebagai penempel telur ditanam sebelah depan aliran masuk untuk mencegah kekeruhan. Ketinggian air pada pintu pemasukan sekitar 40 cm, sedangkan bagian pengeluaran tinggi air kurang lebih 70 cm. Cara ini merupakan perbaikan sistem Dubish.
Dari 6 sistem pemijahan tersebut, cara sistem Sunda paling banyak digunakan petani karena telah banyak terbukti berhasil baik proses pemijahan maupun jumlah benih yang dihasilkan.
Sistem Sunda kemudian diperbaiki terutama penanganan penetasan telur  yang dilakukan dalam kantong hapa berupa kain terilin bermata lembut dan halus berukuran 2 x 2 x 1 m atau 2 x 1 x 1 m. Sebelum telur pada kakaban ditetaskan dalam hapa terlebih dahulu direndam PK (Kalium Permanganat) beberapa saat, agar telur-telur bebas penyakit (terutama jamur). Dengan perbaikan ini diharapkan jumlah telur yang menetas menjadi benih dapat lebih banyak.

Wednesday, April 24, 2019


TEKNIK PEMIJAHAN IKAN NILEM












Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda







DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN

2019

TEKNIK PEMIJAHAN IKAN NILEM

Pemijahan adalah suatu peristiwa pertemuan antara ikan jantan dengan ikan betina yang bertujuan untuk pembuahan telur oleh spermatozoa. Di kolam, pemijahan ikan nilem dapat dilakukan sepanjang tahun dengan cara mengatur kondisi lingkungan, perlu dilakukan manipulasi lingkungan yaitu dengan pengeringan dasar kolam dan pemberian air baru yang mengalir.
Ikan nilem betina mulai dapat dipijahkan pada umur 1,5 tahun dengan berat badan sekitar 100 gr.Untuk ikan nilem jantan sudah dapat dipijahkan sekitar umur 8 bulan. Induk ikan betina dapat dipijahkan sekitar 3 atau 4 bulan sekali.
 Untuk membedakan induk ikan nilem jantan dan betina dapat dilakukan dengan cara memijit pada bagian perut ke arah anus. Pada induk ikan nilem jantan akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang genetalnya,sedangkan ikan betina tidak. Induk ikan nilem betina yang sudah matang telur dapat dilihat dengan perutnya yang relatif membesar dan lunak apabila diraba, serta dari lubang genetalnya akan keluar cairan kekuningan bila bagian perut dipijit perlahan-lahan ke arah anus.
Kondisi ekologis sebagai faktor luar yang berperan penting terhadap pemijahan ikan adalah cahaya, suhu, oksigen, dan derajat keasaman. Aliran air juga memegang peranan penting dalam proses pemijahan. Sebagian ikan memijah pada sore hari menjelang malam dan sebagian lagi memijah pada dini hari menjelang pagi. Selain faktor lar tersebut, faktor dari dalam (internal) juga beperan penting dalam proses pemijahan ikan. Faktor internal tesebut antara lain kematangan telur dan ketersediaan hormon tertentu di dalam tubuhnya.
Terdapat beberapa sistem dalam proses pemijahan ikan nilem yaitu

1. Sistem Tradisional 
Dalam sistem tradisional dibagi atas 2 yaitu  sistem kurungan dan kantong. Sistem kurungan tidak memerlukan kolam khusus untuk pemijahan, kolam pemijahan berlaku juga sebagai kolam penetasan. Ruang penetasan ditempatkan pada salah satu sudut kolam dekat dengan aliran air dan diberi rumput-rumputan atau ijuk. Setelah induk ikan memijah, segera dipindahkan dari kolam pemijahan dan ditutup dengan kurungan dari kain kasa yang berbingkai atau menggunakan daun kelapa. Hal tersebut dimaksudkan untuk melindungi telur-telur ikan dari kemungkinan dimakan induknya. Sebagai peneduh dalam kolam pemijahan dapat diletakkan daun kelapa atau daun pisang. Proses pemijahan biasanya berlangsung pagi hari.
Pemijahan menggunakan sistem kantong diperlukan sebuah kolam untuk pemijahan dan 1 kolam untuk prosese penetasan telur. Kolam pemijahan memiliki dasar kerikil dan berpasir, kolam penetasan dibuat 2 kolam yang bisa bergantian agar tidak terlalu lama dalam menunggu masa pergantian pemijahan pada tahap berikutnya. Pada proses pemijahan kolam pemijahan dapat ditutup dengan lapisan rumput atau ijuk, ikan memijah dengan bantuan aliran air deras, telur akan mengalir ke dalam kolam penetasan (Handayani, 1988).
2. Sistem Tradisional yang Diperbaiki
Pada prinsipnya tidak berbeda jauh dengan sistem tradisional. Pada cara ini dasar kolam diberi hapa untuk memudahkan memindahkan telur ke kolam penetasan atau ke corong penetasan. Hapa adalah tempat pemijahan ikan yang ditempatkan ke dalam kolam yang terbuat dari kainkasa yang halus agar pergerakan ikan dapat dibatasi. Segera setelah induk ikan nilem memijah hapa diangkat dan telur-telurnya dapat dipindahkan (Handayani, 1988).

3. Sistem Kawin Suntik (Induce breeding)
Sistem ini adalah usaha untuk memproduksi benih ikan secara optimal yang tidak tergantung pada musim. Disamping itu metode ini dapat digunakan untuk memproduksi benih ikan dari induk yang tidak mau memijah secara alami, sehingga dalam proses pemijahan harus dirangsang dengan kelenjar hipofisa atau dengan hormon buatan. Hal  yang perlu diperhatikan dalam penyuntikan yaitu pemilihan hormon dosis yang tepat bagi induk, waktu dan frekuensi penyuntikan, serta penanganan induk. Tingkat keberhasilan pemijahan dengan cara ini sangat ditentukan oleh tingkat kematangan gonatnya. Apabila kematangan gonatnya kurang, maka hasilnya juga kurang bagus, bisa-bisa malah tidak memijah.

Saturday, April 13, 2019

PENETASAN TELUR DAN PENDEDERAN
IKAN GURAMI DALAM AKUARIUM













Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda





DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN
2019

PENETASAN TELUR DAN PENDEDERAN
IKAN GURAMI DALAM AKUARIUM


Gurami merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi, bahkan bisa dikatakan sebagai primadonanya ikan air tawar. Namun, di balik semua itu gurami mempunyai kelemahan jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, yaitu masa pemeliharaan yang lama. Untuk mengatasi masalah tersebut para pembudidaya ikan melakukan pentahapan dalam budidaya. Salah satu tahapan dalam budidaya tersebut adalah penetasan telur dan pendederan. Permasalahan yang sering muncul pada tahapan ini adalah para pembudidaya ikan kadang-kadang kurang memperhatikan kesehatan telur yang dihasilkan, sehingga hasilnya juga tidak optimal. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan usaha penetasan telur dan pendederan ikan gurami di akuarium. Dengan menggunakan akuarium, kita dapat mengamati pertumbuhan ikan dan dapat mengontrolnya dengan lebih mudah. Selain itu, kendala kendala yang ada seperti pH air, suhu air, kebersihan dan tingginya mortalitas dapat diatasi.
Adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut :
  1. Pengambilan telur
Telur yang akan didederkan bisa berasal dari kolam pemijahan milik sendiri, bisa juga berasal dari sumber lain. Jika berasal dari kolam milik sendiri , langkah lanjutan (setelah menyiapkan akuarium) dalam melakukan pendederan adalah mengambil telur-telur tersebut dari sarangnya. Sarang yang boleh dipanen untuk diambil telurnya adalah sarang yang sudah tertutup penuh. Pengambilan harus dilakukan secara hati-hati sebab biasanya induk gurami lebih galak saat menjaga sarang tersebut.
Setelah sarang diambil, kumpulan telur di sarang dikeluarkan. Dengan menggunakan saringan teh, bersihkan sarang dari kotoran dan minyak yang ada. Pekerjaan tersebut dapat dilakukan di bak terbuka atau ember besar. Setelah bersih, kumpulan telur siap untuk dimasukan ke dalam akuarium yang telah disiapkan.
  1. Penetasan telur
Memasukan telur yang telah bersih ke dalam akuarium bisa dilakukan dengan menggunakan saringan the. Ciduklah telur dari dalam bak atau ember besar, lalu masukan dalam akuarium. Saat menciduk, jangan lupa untuk menghitung jumlah telur. Jumlah maksimal telur yang dimasukan ke dalam setiap akuarium adalah 800 telur (besarnya akuarium 100 cm x 50 cm x 40 cm).
Pastikan bahwa telur yang dimasukan adalah telur yang hidup. Telur yang hidup mempunyai ciri berwarna kuning kemerahan dan mengkilat. Sebaliknya telur yang mati berwarna kuning keputihan dan kusam. Telur mengalami kematian karena tidak dibuahi. Telur tersebut dengan cepat diserang cendawan berwarna putih yang disebut  Saprolignea. Setelah terserang, telur yang mati akan membusuk dan akan mengganggu perkembangan telur yang hidup. Karenanya, telur yang mati lebih baik secepatnya dibuang dari akuarium dengan cara mengambilnya dengan saringan the.
Telur hidup yang berkembang dengan baik akan menetas menjadi larva. Untuk menjaga agar larva yang terbentuk tidak mengalami kelelahan akibat naik ke permukaan air dan turun lagi ke dasar akuarium, akuarium pada tahap awal cukup diisi air setinggi 6 cm. Oksigen dialirkan dalam jumlah tidak terlalu besar sehungga tidak terjadi guncangan besar yang akan mematikan telur.


  1. Perawatan larva
Setelah berumur 3 hari, larva sudah mulai bergerak berputar-putar dan ekor larva mulai tumbuh, sehingga memungkinkan larva dapat berenang. Pada hari ke 7, larva sudah berbentuk ikan kecil, dan memiliki tanda bulatan warna kuning di bagian perutnya. Bagian kuning ini berfungsi sebagai sumber makanan cadangan. Karenanya, larva tidak memerlukan makanan tambahan. Makanan cadangan tersebut akan habis (ditandai dengan hilangnya warna kuning di perut larva) pada hari ke sembilan atau kesepuluh. Pada saat ini kondisi larva sangat lemah dan mudah sekali mati. Untuk menghindari terjadinya kematian pada larva, sebaiknya makanan tambahan disiapkan sebelum makanan cadangan di tubuh larva habis.
  1. Perwatan benih
Tahap pembenihan dimulai ukuran gabah (umur 10 hari) ke ukuran kuku (umur 3 minggu) atau dari ukuran gabah ke ukuran jempol (1 bulan) atau dari ukuran gabah ke ukuran silet (umur 2 bulan). Setelah mencapai ukuran kuku atau silet, benih siap dipindahkan ke kolam tanah (tradisional). Dari pengalaman, pembenihan sampai ukuran jempol idealnya di akuarium, setelah itu dipindahkan ke kolam. Pasalnya, pada ukuran jempol benih sudah mempunyai daya tahan tubuh yang cukup terhadap kondisi lingkungan yang berubah-ubah.

Friday, April 12, 2019


BUDIDAYA INFUSORIA












Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda







DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN

2019


Budidaya Infusoria

Infusoria adalah salah satu pakan alami dari golongan protozoa, yaitu kumpulan organisme bersel tunggal yang terdiri dari kelompok siliata dan kelompok flagelata. Kedua kelompok ini dibedakan dari alat gerak yang dimiliki. Kelompok siliata mempunyai alat gerak yang disebut silia atau rambut getar, sedangkan kelompok flagelata mempunyai alat gerak yang disebut flagel atau bulu cambuk.
Infusoria berkembang biak dengan dua cara, yaitu dengan konjugasi dan pembelahan sel. Cara konjugasi yaitu dua sel induk saling menempel dan kemudian terjadi pertukaran dan pembauran inti sel, sedangkan cara pembelahan sel adalah sel membelah secara horisontal dengan pembagian inti yang sesuai. Kelompok siliata yang biasa dijumpai dalam budidaya infusoria ialah paramaecium. Untuk kelompok flagelata yang biasa ditemui antara lain Chlamydomonas, Euglena viridis dan Ceratium hirudinella. Paramaecium mempunyai ukuran panjang 80-350 mikron, bentuknya lonjong mirip sandal dan pada ujung tubuhnya yang lancip terdapat lekukan yang merupakan mulutnya serta pada seluruh tubuhnya terdapat bulu getar yang merupakan alat geraknya. Hidupnya bergerombol sehingga mudah dilihat dengan mata telanjang, sering ditemui di perairan yang banyak mengandung bahan organik. Tempat seperti itu misalnya perairan sawah yang mengandung busukan jerami, di perairan yang ada limbah rumah tangga, dan perairan yang banyak ditumbuhi tanaman air seperti teratai dan enceng gondok. Di perairan seperti ini biasanya banyak ditemui bakteri, protozoa lain yang lebih kecil, ragi ataupun detritus yang merupakan pakan infusoria.


A.   Pembibitan
Untuk mendapatkan bibit infusoria, air di tempat yang telah ditentukan kemudian disaring menggunakan plankton net. Air hasil saringan ditampung dalam botol dan selanjutnya diamati di bawah mikroskop untuk mengetahui keberadaan infusoria.
Setelah mendapatkan bibit infusoria, langkah selanjutnya adalah membuat media pengembangan yaitu ekstrak rebusan jerami. Caranya adalah sebagai berikut :
a.     Jerami dicuci pada air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang melekat seperti lumpur dan sisa pestisida. Selanjutnya jerami dipotong-potong halus dan direbus dengan air bersih selama 15 menit. Setelah dingin, air disaring dengan kain blacu.
b.       Sementara jerami direbus, wadah yang akan digunakan disiapkan dan dibersihkan. Sebagai wadah digunakan fiberglas atau ember ukuran 25 liter. Air media yang telah disaring ditampung dalam wadah tersebut dan selanjutnya bibit diinokulasi serta diberi aerasi. Setelah 3 hari, air sudah ditumbuhi infosoria.

B.   Pengembangan secara masal
Pengembangan secara massal menggunakan wadah dari fiberglas atau bak semen ukuran 200-1000 liter.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :
  1. Wadah dibersihkan dan selanjutnya diisi dengan air bersih.
  2. Potongan-potongan jerami dimasukan ke dalam air. Bisa juga ditambahkan potongan selada dan kol atau bahkan kulit pisang kering apabila tidak mempunyai cukup stok jerami. Jumlah potongan jerami atau bahan lain yang digunakan sebanyak 5 kg untuk setiap 1.000 liter air 
  3. Rendaman ini dibiarkan kurang lebih seminggu dan selama itu diberi aerasi terus-menerus. Setelah satu minggu, bibit infusoria dimasukan dan tetap diberikan aerasi untuk suplai oksigen serta untuk menghindari penguraian bakteri secara anaerob yang dapat menghasilkan gas beracun seperti H2S. Pemanenan dapat dilakukan setelah 7 – 8 hari masa pemeliharaan. Panen dapat dilakukan dengan menciduk air dalam wadah pemeliharaan atau dengan cara penyiponan kemudian disaring dengan plankton net. Selanjutnya air yang tertampung dalam tabung plankton net dimasukan ke dalam ember dan siap dimasukan ke dalam bak pemeliharaan sebagai pakan benih ikan.

Thursday, April 4, 2019

BUDIDAYA PAKAN ALAMI
(Dapnia sp)














Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda









DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN

2019

Budidaya Pakan Alami
Dapnia sp

A.       Pendahuluan
Dapnia sp merupakan salah satu jenis makanan alami bagi ikan terutama untuk ikan ukuran kecil. Dapnia termasuk organisme yang bersifat planktonik dan bergerak aktif dengan alat geraknya yaitu kaki renang. Organisme ini termasuk dalam filum Artropoda, kelas Crustacea, sub kelas Entomos, ordo Phylopoda dan sub ordo Cladocera. Tubuh dapnia berbentuk lonjong, pipih dan segmen badan tidak terlihat. Tubuh ditutupi cangkang yang terbuat dari kitin transparan. Pada bagian belakang cangkang ada sebuah kantong yang berfungsi sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur. Ukuran tubuh dapnia antara 1.000 – 5.000 mikron. Dapnia berkembang biak dengan cara partenogenesis (bertelur tanpa kawin) dan selanjutnya telur yang dihasilkan induk betina ditampung pada kantong di bagian belakang cangkang. Telur di dalam kantong terus berkembang hingga membentuk nauplius. Nauplius ini akan dikeluarkan dari tubuh induknya saat induknya mengalami proses ganti kulit. Umur dapnia sekitar 34 hari dan mulai bertelur setelah umur 5 hari.
Di daerah yang beriklim dingin, perkembangbiakan selama musim dingin terjadi secara kawin. Sementara itu pada musim panas, perkembangbiakan terjadi secara partenogenesis. Pada saat musim dingin akan dihasilkan individu-individu jantan yang selanjutnya menjadi pejantan dan akan mengawini induk-induk betina.
Dapnia hidup di air tawar seperti di danau atau kolam dan dapat ditemui di daerah tropis maupun sub tropis. Dapnia tumbuh baik pada perairan dengan suhu 21oC dan pH 6,5-9. Pakan dapnia adalah fitoplankton, detritus dan zooplankton. Cara makannya dengan menggerak-gerakan kakinya sehingga timbul arus yang kan membawa pakan tersebut.
B.        Pembibitan
Bibit bisa diperoleh dari peternak ikan yang melakukan usaha pengembangan dapnia. Bisa juga dengan malakukan penangkapan di perairan umum seperti sungai, danau, waduk atau di rawa-rawa. Keberadaan dapnia dapat diketahui dengan cara membenamkan lempengan putih atau piring secchi ke dalam perairan pada saat pagi hari yang cerah. Lempengan putih tersebut dapat dibuat dari papan kayu atau  tripleks yang dibuat berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 20 cm, selanjutnya dicat putih dan diberi gagang kayu di tengahnya. Bila terlihat seperti kumpulan awan yang bergerak-gerak menandakan bahwa perairan tersebut mengandung banyak spesies dari kelompok Cladocera. Alat-alat yang digunakan untuk menangkap dapnia ialah serok/seser yang terbuat dari kain saringan plankton, ember yang tutupnya berlubang-lubang yang sudah diisi air tawar, aerator baterai dan bila cuaca cukup terik maka disediakan es batu sebagai pendingin. Es batu tersebut dibungkus dengan kantong plastik kecil dan selanjutnya dimasukan ke dalam ember yang berisi air. Bibit yang tertangkap dengan serok ditampung dalam ember dan selanjutnya diberi aerasi. Suhu air di ember penampungan diusahakan terjaga pada kisaran 27-30oC.
C.        Pengembangan Dapnia
Pengembangan dapnia dapat dilakukan dalam skala kecil ataupun secara massal.
Pengembangan dapnia skala kecil
Wadah pemeliharaan bibit dapnia adalah akuarium atau fiberglas ukuran 25 liter. Wadah pemeliharaan dicuci dan dikeringkan kemudian diisi air tawar sebanyak 80-90% dari ketinggian wadah. Pemupukan dilakukan dengan kotoran ayam kering sebanyak 2-5 g untuk setiap 1 liter air. Pupuk tersebut dibungkus dengan kain strimin kemudian digantungkan di dalam air. Setelah 4-5 hari, air akan ditumbuhi diatome sehingga terlihat berwarna kecoklatan. Setelah ditumbuhi diatome, bibit dapnia siap ditebarkan.
Pengembangan dapnia secara massal
Wadah yang digunakan untuk pengembangan dapnia skala massal adalah bak semen atau fiberglas ukuran 1 ton.
Bak pemeliharaan dibersihkan dan dikeringkan kemudian diisi air tawar 80-90% dari ketinggian dan diberi aerasi.
Pupuk yang digunakan dalam pengembangan dapnia yaitu kotoran ayam kering dan bisa ditambahkan tepung bungkil kelapa. Jumlah pupuk yang diberikan sebanyak 2-5 g kotoran ayam dan 0,2 g tepung bungkil kelapa untuk setiap 1 liter air. Kedua jenis pupuk tersebut dicampur kemudian dimasukan dalam kain strimin dan digantungkan dalam air.
Sehari setelah pemupukan, bibit dapnia siap ditebarkan dengan kepadatan 10-20 ekor/liter air.
Pemupukan ulang dilakukan rutin setiap 7-8 hari sekali setelah pemupukan sebelumnya. Jumlah pupuk yang diberikan pada pemupukan ulang sebanyak setengah dari jumlah pupuk pada pemupukan pertama.
Panen dilakukan setelah 7-8 hari masa pemeliharaan dan dapat dilakukan secara berkesinambungan. Jumlah yang dipanen untuk sekali panen sebaiknya hanya 1/3 dari populasi yang ada. Panen dilakukan dengan alat serok atau seser dengan ukuran mata jaring 1,5-2 mm. Dengan ukuran mata jaring ini, diharapkan hanya dapnia yang besar saja yang dipanen.