Thursday, October 31, 2019


PENYAKIT INFEKSI PADA IKAN LELE






Penyakit infeksi (infectious diseases) adalah penyakit yang disebabkan oleh jasad penyakit. Penyakit infeksi tersebut dapat disebabkan oleh jasad parasitic, virus, jamur dan bakteri. Infeksi jasad parasitic tersebut meliputi organisme dari golongan protozoa dan metazoa. Beberapa penyakit infeksi yang sering menyerang ikan lele adalah sebagai berikut :
1. Penyakit yang disebabkan oleh Protozoa
            Protozoa adalah hewan kecil yang terbentuk dari satu sel dengan satu  membran sel. Pembelahannya dilakukan secara aseksual. Protozoa merupakan kelompok mikroba yang memiliki keragaman yang tinggi baik dari segi morfologi maupun ukurannya. Protozoa penyebab infeksi pada ikan dapat ditularkan secara langsung maupun secara tidak langsung melalui inang antara. Hal tersebut berkaitan erat dengan siklus hidup protozoa bersangkutan. Jenis penyakit yang disebabkan oleh protozoa diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Penyakit bintik putih
Penyebab :
- Ichtyphyhirius multifiliis
Gejala :
- adanya bintik putih pada permukaan tubuh
- tubuhnya berwarna pucat
- terlihat megap-megap
- menggosok-gosokan tubuhnya pada dinding     kolam
Pencegahan :
- peralatan yang digunakan didesinfeksi
- suhu dipertahankan 28oC
Pengobatan :
- direndam dengan larutan formalin 25 cc/m3 yang ditambah dengan Malachite Green 0,15 g/m3 selama 12-24 jam
b. Penyakit gatal
Penyebab :
- Trichodina sp
Gejala :
- ikan lemah
- warna tubuh kusam
- menggosokan tubuhnya pada bagian dinding
Pencegahan :
- perbaikan kualitas air
- menjaga kebersihan sarana budidaya
- mengatur tingkat padat penebaran
Pengobatan :
- direndam larutan formalin 40 ppm selama 12-24 jam
- direndam Malachite Green 0,1/m3 selama 24 jam
2. Penyakit yang disebabkan oleh Bakteri
            Bakteri merupakan mikroorganisme dengan struktur intraseluler yang sederhana yang mempunyai daerah penyebaran luas. Ciri-ciri bakteri adalah berbentuk rantai atau benang, tumbuh dan bertambah banyak dalam kelompok, mempunyai koloni yang berwarna dan berkilau atau tidak, membutuhkan media tertentu untuk mengultur, serta menghasilkan asam atau gas. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri diantaranya adalah :
a. Aeromonas hydrophila
Penyebab :
- bakteri Aeromonas hydrophila
Gejala :
- kehilangan nafsu makan
- gelembung besar di perut
- luka pada permukaan tubuh
- ikan lemas
Pencegahan :
- mengontrol kualitas air
- mencegah kelebihan pakan
- mengkarantina ikan yang baru datang
- menggunakan vaksin
Pengobatan :
- direndam dengan larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam
- direndam dengan larutan PK dengan dosis 10-20 ppm selama 30-60 menit
b. Flexibacter columnaris
Penyebab :
- bakteri Flaxibacter columnaris
Gejala :
- luka pada permukaan tubuh
- terjadi pendarahan
- gerakan renang lambat
Pencegahan :
- pengontrolan kualitas air
- pemberian jumlah pakan yang tepat
- ikan yang baru datang dikarantina
Pengobatan :
- pellet dicampur dengan oksitetrasiklin dengan dosis 50 mg/kg pakan. Obat tersebut diberikan setiap hari selama 7-10 hari
- direndam dengan larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam

3. Penyakit yang disebabkan oleh Virus
            Virus adalah penyakit yang hingga kini belum dapat ditanggulangi oleh obat-obatan. Virus patogen ikan umumnya berbentuk peluru. Penyakit yang disebabkan oleh virus adalah :
a.Channel catfish virus
Penyebab :
- virus Channel catfish
Gejala :
Ikan tampak lemah
hilang keseimbangan
berenang berputar-putar
mata menonjol
Pencegahan :
menjaga kualitas air
disinfektan peralatan
pengeringan dan pengapuran dasar kolam
Pengobatan :
- penggantian air setiap 2 hari sekali sampai kesehatan pulih





OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

Wednesday, October 23, 2019

FORMALIN DALAM IKAN


Pendahuluan
            Merebaknya isu penggunaan bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan hasil perikanan akhir-akhir ini akan berdampak negatif terhadap upaya pemerintah untuk melaksanakan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan. Pasalnya, masyarakat yang sudah mempunyai minat akan makan ikan akan surut begitu mendengar sebagian ikan yang tersedia di pasar mengandung bahan berbahaya, apalagi bagi masyarakat yang belum memahami pentingnya makan ikan. Di samping itu, kandungan formalin pada produk-produk perikanan indonesia dapat menjadi alat bagi negara-negara importir untuk menolak produk-produk perikanan asal indonesia. Lalu, apa sebenarnya formalin, fungsinya dan efeknya terhadap kesehatan?
Cara Mengenali Formalin
Formalin merupakan gas formaldehid yang tersedia dalam bentuk larutan 40 %, berupa cairan jernih, tidak berwarna dengan bau menusuk.
Berbagai macam fungsi formalin diantaranya adalah :
1. Sebagai antiseptik untuk membunuh  mikroorganisme
2. Bahan pengawet hewan kecil, serangga hingga mayat manusia
3. Desinfektan misal untuk mensterilkan kandang
4. Dalam kosmetika digunakan sebagai deodorant dan antihidrolitik ( menghambat keriingat )
5. Bahan tambahan dalam pembuatan kertas tissue untuk toilet
6. Bahan baku dalam industri lem playwood, resin maupun tekstil
Berdasarkan penelitian, formalin bersifat karsinogen yaitu senyawa yang dapat menyebabkan kanker pada manusia. Konsumsi formalin dalam dosis rendah, dapat menyebabkan mual, muntah, rasa terbakar pada tenggorakan, sakit perut akut, mencret darah, depresi syaraf dan gangguan peredaran darah. Pada dosis tinggi berakibat konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah), muntah darah dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Jika formalin dikonsumsi secara terus menerus dan dalam jangkla waktu yang panjang dapat mengakibatkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Mengingat besarnya bahaya yang ditombulkan, formalin dilarang digunakan sebagai bahan tambahan makanan.
Alasan penggunaan formalin bagi sebagian nelayan adalah lebih ekonomis karena 1 kg formalin dapat dibeli dengan harga lebih murah dibandingkan harga es batu, daya awetnya lebih lama, resiko kerusakan lebih rendah, penampakan lebih baik, formalin lebih mudah diperoleh serta lebih praktis dan tidak makan tempat yang luas dibandingkan dengan es batu.
Sedangkan alasan bagi pengolah ikan adalah biaya produksi lebih rendah, rendemen hasil lebih tinggi karena selama pengeringan ikan, formalin dapat mencegah turunnya bobot dari sekitar 60 % hanya menjadi 30 %, proses pengeringan lebih cepat dan penampakan lebih baik.
Ciri-ciri ikan yang mengandung formalin
Ikan Basah :
a.         Penampakan luar bersih dan cemerlang
b.        Tekstur daging kaku/kenyal
c.         Mata ikan merah tetapi insang pucat
d.        Sedikit lendir, bau amis (spesifik ikan) berkurang
e.         Ada bau seperti kaporit, lalat kurang / tidak mau hinggap
Ikan Kering :
a.         Penampakan luar bersih, cerah
b.        Tekstur keras, kenyal
c.         Bau hampir netral (bau amis berkurang)
Peraturan yang melarang penggunaan formalin :
a.         UU Perikanan No. 31 tahun 2004, Pelaku penggunaan bahan kimia berbahaya pada makanan diancam kurungan 6 tahun penjara atau denda Rp. 1,5 milyar
b.        UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen penggunaan bahan terlarang sebagai bahan tambahan makanan dikenai ancaman hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun serta denda paling banyak 2 milyar
c.         UU No. 7 tahun 1996 tentang pangan. Pelaku penggunaan bahan yang dilarang dipakai sebagai bahan tambahan pangan seperti formalin diancam hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda Rp. 600 juta
d.        Kepmenkes No. 722 tahun 1988 tentang bahan tambahan makanan
e.         Peraturan Menteri Kesehatan No. 472/1996 tentang pengamanan bahan bahaya bagi kesehatan
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 254/2000 tentang tata niaga impor dan peredaran bahan berbahaya tertentu.



OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN

2019

Thursday, October 17, 2019

BUDIDAYA IKAN BELUT
( Synbranchus )







1. SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

2. MANFAAT
Manfaat dari budidaya belut adalah:
a) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
b) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
c) Sebagai obat penambah darah.

3. PERSYARATAN LOKASI
1.    Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
2.    Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
3.    Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
4.    Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm.

4. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
4.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1)      Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belutukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
2)      Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
3)      Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 3-50 cm.
4)      Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester.
5)      Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
6)      Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik + air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah.
Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.
4.2. Penyiapan Bibit
1)      Menyiapkan Bibit
  1. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
  2. Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
  3. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
  4. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

4.3. Pemeliharaan Pembesaran
  1. Pemupukan
Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.
  1. Pemberian Pakan
Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
  1. Pemberian Vaksinasi
  2. Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

5. HAMA DAN PENYAKIT
5.1. Hama
  1. Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut.
  2. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan ikan gabus.
  3. Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama.
5.2. Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

6. PANEN
Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
a.    Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak /dibudidayakan.
b.    Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).
Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya denganperalatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja. akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.



OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN

2019

Tuesday, October 8, 2019

TEKNIK PENGOBATAN DAN VAKSINASI IKAN

PENGOBATAN
Dalam dunia budidaya ikan serangan penyakit merupakan salah satu yang mengakibatkan kerugian besar. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pencegahan sedini mungkin supaya ikan tidak terserang panyakit.
Tetapi, kadangkala walaupun sudah dilaksanakan pencegahan terhadap penyakit, penyakit pada ikan masih muncul. Oleh karena itu perlu diketahui teknik pengobatannya. Pengobatan merupakan alternatif terakhir setelah usaha pencegahan gagal dilakukan. Teknik ini relatif mudah dan hasilnya lebih cepat terlihat. Tetapi apabila dilakukan dengan prosedur yang salah, akan berdampak negatif.
Dalam pengobatan yang perlu diperhatikan adalah ketepatan diagnosa penyebab penyakit, jenis dan dosis efektif obat, kemudahan memperolehnya, waktu luruh obat yang pendek dan teknik aplikasi yang hendak diterapkan.
Beberapa cara pengobatan adalah sebagai berikut :
1.             Melalui perendaman
Perendaman dapat dilakukan secara langsung di kolam, akuarium atau secara tidak langsung dengan menggunakan wadah lain.
Perendaman dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu :
a.    Pencelupan/dips, pengobatan dilakukan pada dosisobat yang tinggi selama beberapa detik
b.    Perendaman jangka pendek/short bath, pengobatan dilakukan pada dosis obat relatif tinggi selama beberapa menit.
c.    Perendaman jangka panjang/long bath, umumnya dilakukan dalam akuarium, wadah lain atau kolam selama beberapa jam atau hari
2.             Melalui pakan
Pengobatan melalui pakan lebih sedikit menimbulkan stress pada ikan, tetapi hanya efektif pada tahap awal infeksi. Hal ini disebabkan ikan masih mempunyai nafsu makan.
Prosedur pengoban melalui pakan adalah :
a.    pakan ikan yang hendak diberikan terlebih dahulu dibasahi permukaannya dengan menggunakan alat semprot
b.    obat dilekatkan ke permukaan pakan hingga merata
c.    obat yang telah menempel pada pakan dilapisi dengan zat pelapis seperti minyak sayur atau putih telur, bertujuan untuk mengurangi proses pencucian oleh air pada saat diberikan kepada ikan
d.   pakan diangin-anginkan atau dijemur beberapa saatpemberian pakan yang mengandung obat sebaiknya diberikan selama beberapa hari
3.             Aplikasi langsung ke tubuh
a.      Oles, teknik ini umumnya hanya dapat dilakukan terhadap ikan sakit yang memiliki gejala klinis sangat nyata ( luka atau borok ), jumlahnya relatif sedikit dan ukuran ikan cukup besar.
b.      Penyuntikan, biasa dilakukan pada ikan berukuran besar, kuntungannya adalah penggunaan obat sangat efisien dan dosis tepat. Dosis dinyatakan dalam satuan mg obat/kg bobot tubuh. Ada dua cara penyuntikan yang biasa dilakukan, yaitu dimasukan ke rongga perut (intra peritoneal) dan dimasukan ke otot (intra muscular). Penyuntikan cecara intra peritoneal dilakukan diantara kedua sirip perut atau sedikit di depan anus, dengan sudut kemiringan jarum suntik kira-kira 30o. penyuntikan secara intra muscular dilakukan di daerah punggung, pada ikan yang bersisik di sela-sela sisik ke 3-5 dari kepala, dengan sudut kemiringan kira-kira 30o-40o.

VAKSINASI IKAN
Vaksinasi ikan bermanfaat untuk memberi bekal kekebalan spesifik (antibodi) pada tubuh ikan, ramah lingkungan dan tidak berdampak negatif terhadap ikan maupun manusia. Selain dapat mengurangi mortalitas ikan, vaksinasi juga akan mengurangi penggunaan antibiotik pada budidaya ikan serta resistensi bakteri terhadap antibiotik.
Sebaiknya vaksinasi dilakukan lebih dari satu kali, karena antibodi yang diperoleh pada vaksinasi pertama relatif rendah, sehungga perlu dilakukan vaksinasi ulang yang dapat diberikan 2-3 bulan kemudian melalui pakan atau perendaman.
Adapun syarat ikan yang akan divaksinasi adalah :
a.    ikan telah berumur 3 minggu atau lebih, karena pada umur kurang dari 3 minggu organ-organ yang berperan dalam sistem pembentukan antibodi belum sempurna
b.    status kesehatan ikan harus dalam kondisi optimal
c.    suhu air relatif hangat (di atas 25oC). hal ini akan mempercepat respon antibodi yang terbentuk
Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan 3 cara :
a.    Perendaman dalam larutan vaksin selama 15-30 menit, untuk ikan-ikan benih dalam jumlah banyak, dosisnya 10 ml vaksin/100 liter air
b.         Penyuntikan, untuk ikan-ikan yang berukuran besar dan berharga misalnya induk ikan. Dosisnya 0,1 ml vaksin/ 1 kg ikan
Melalui pakan ikan/pellet, ini sesuai untuk ikan yang sudah dipelihara dalam kolam ataupun sebagai vaksinasi ulang. Cara melekatkan vaksin ke pakan sama dengan mencampurkan obat ke pakan ikan. Sebaiknya dilakukan 3-7 hari berturut-turut, dosisnya 4 ml vaksin/1 kg pakan ikan.



OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN

2019