Budidaya Pakan Alami
Dapnia
sp
A.
Pendahuluan
Dapnia sp merupakan salah satu jenis makanan alami bagi
ikan terutama untuk ikan ukuran kecil. Dapnia termasuk organisme yang bersifat planktonik dan bergerak aktif
dengan alat geraknya yaitu kaki renang. Organisme ini termasuk dalam filum
Artropoda, kelas Crustacea, sub kelas Entomos, ordo Phylopoda dan sub ordo
Cladocera. Tubuh dapnia berbentuk lonjong, pipih dan segmen badan tidak
terlihat. Tubuh ditutupi cangkang yang terbuat dari kitin transparan. Pada
bagian belakang cangkang ada sebuah kantong yang berfungsi sebagai tempat
penampungan dan perkembangan telur. Ukuran tubuh dapnia antara 1.000 – 5.000
mikron. Dapnia berkembang biak dengan cara partenogenesis
(bertelur tanpa kawin) dan selanjutnya telur yang dihasilkan induk betina
ditampung pada kantong di bagian belakang cangkang. Telur di dalam kantong
terus berkembang hingga membentuk nauplius. Nauplius ini akan dikeluarkan dari
tubuh induknya saat induknya mengalami proses ganti kulit. Umur dapnia sekitar
34 hari dan mulai bertelur setelah umur 5 hari.
Di daerah yang beriklim dingin, perkembangbiakan selama
musim dingin terjadi secara kawin. Sementara itu pada musim panas,
perkembangbiakan terjadi secara partenogenesis. Pada saat musim dingin akan
dihasilkan individu-individu jantan yang selanjutnya menjadi pejantan dan akan
mengawini induk-induk betina.
Dapnia hidup di air tawar seperti di danau atau kolam dan
dapat ditemui di daerah tropis maupun sub tropis. Dapnia tumbuh baik pada
perairan dengan suhu 21oC dan pH 6,5-9. Pakan dapnia adalah
fitoplankton, detritus dan zooplankton. Cara makannya dengan
menggerak-gerakan kakinya sehingga timbul arus yang kan membawa pakan tersebut.
B.
Pembibitan
Bibit bisa diperoleh dari peternak ikan yang melakukan
usaha pengembangan dapnia. Bisa juga dengan malakukan penangkapan di perairan
umum seperti sungai, danau, waduk atau di rawa-rawa. Keberadaan dapnia dapat
diketahui dengan cara membenamkan lempengan putih atau piring secchi ke dalam
perairan pada saat pagi hari yang cerah. Lempengan putih tersebut dapat dibuat
dari papan kayu atau tripleks yang dibuat
berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 20 cm, selanjutnya dicat putih dan
diberi gagang kayu di tengahnya. Bila terlihat seperti kumpulan awan yang
bergerak-gerak menandakan bahwa perairan tersebut mengandung banyak spesies
dari kelompok Cladocera. Alat-alat yang digunakan untuk menangkap dapnia ialah
serok/seser yang terbuat dari kain saringan plankton, ember yang tutupnya
berlubang-lubang yang sudah diisi air tawar, aerator baterai dan bila cuaca
cukup terik maka disediakan es batu sebagai pendingin. Es batu tersebut
dibungkus dengan kantong plastik kecil dan selanjutnya dimasukan ke dalam ember
yang berisi air. Bibit yang tertangkap dengan serok ditampung dalam ember dan
selanjutnya diberi aerasi. Suhu air di ember penampungan diusahakan terjaga
pada kisaran 27-30oC.
C.
Pengembangan
Dapnia
Pengembangan dapnia dapat dilakukan dalam skala kecil
ataupun secara massal.
Pengembangan dapnia
skala kecil
Wadah
pemeliharaan bibit dapnia adalah akuarium atau fiberglas ukuran 25 liter. Wadah
pemeliharaan dicuci dan dikeringkan kemudian diisi air tawar sebanyak 80-90%
dari ketinggian wadah. Pemupukan
dilakukan dengan kotoran ayam kering sebanyak 2-5 g untuk setiap 1 liter air.
Pupuk tersebut dibungkus dengan kain strimin kemudian digantungkan di dalam
air. Setelah 4-5 hari, air akan ditumbuhi diatome sehingga terlihat berwarna
kecoklatan. Setelah ditumbuhi diatome, bibit dapnia
siap ditebarkan.
Pengembangan dapnia
secara massal
Wadah
yang digunakan untuk pengembangan dapnia skala massal adalah bak semen atau fiberglas
ukuran 1 ton.
Bak
pemeliharaan dibersihkan dan dikeringkan kemudian diisi air tawar 80-90% dari
ketinggian dan diberi aerasi.
Pupuk
yang digunakan dalam pengembangan dapnia yaitu kotoran ayam kering dan bisa
ditambahkan tepung bungkil kelapa. Jumlah pupuk yang diberikan sebanyak 2-5 g
kotoran ayam dan 0,2 g tepung bungkil kelapa untuk setiap 1 liter air. Kedua
jenis pupuk tersebut dicampur kemudian dimasukan dalam kain strimin dan
digantungkan dalam air.
Sehari setelah pemupukan, bibit dapnia siap ditebarkan dengan
kepadatan 10-20 ekor/liter air.
Pemupukan ulang dilakukan rutin setiap 7-8 hari sekali
setelah pemupukan sebelumnya. Jumlah pupuk yang diberikan pada pemupukan ulang
sebanyak setengah dari jumlah pupuk pada pemupukan pertama.
Panen dilakukan setelah 7-8 hari masa pemeliharaan dan
dapat dilakukan secara berkesinambungan. Jumlah yang dipanen untuk sekali panen
sebaiknya hanya 1/3 dari populasi yang ada. Panen dilakukan dengan alat serok atau seser dengan
ukuran mata jaring 1,5-2 mm. Dengan ukuran mata jaring ini, diharapkan hanya
dapnia yang besar saja yang dipanen.
OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin
DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

No comments:
Post a Comment