Monday, September 9, 2019


Budidaya Pakan Alami
Dapnia sp






A.           Pendahuluan
Dapnia sp merupakan salah satu jenis makanan alami bagi ikan terutama untuk ikan ukuran kecil. Dapnia termasuk organisme yang bersifat planktonik dan bergerak aktif dengan alat geraknya yaitu kaki renang. Organisme ini termasuk dalam filum Artropoda, kelas Crustacea, sub kelas Entomos, ordo Phylopoda dan sub ordo Cladocera. Tubuh dapnia berbentuk lonjong, pipih dan segmen badan tidak terlihat. Tubuh ditutupi cangkang yang terbuat dari kitin transparan. Pada bagian belakang cangkang ada sebuah kantong yang berfungsi sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur. Ukuran tubuh dapnia antara 1.000 – 5.000 mikron. Dapnia berkembang biak dengan cara partenogenesis (bertelur tanpa kawin) dan selanjutnya telur yang dihasilkan induk betina ditampung pada kantong di bagian belakang cangkang. Telur di dalam kantong terus berkembang hingga membentuk nauplius. Nauplius ini akan dikeluarkan dari tubuh induknya saat induknya mengalami proses ganti kulit. Umur dapnia sekitar 34 hari dan mulai bertelur setelah umur 5 hari.
Di daerah yang beriklim dingin, perkembangbiakan selama musim dingin terjadi secara kawin. Sementara itu pada musim panas, perkembangbiakan terjadi secara partenogenesis. Pada saat musim dingin akan dihasilkan individu-individu jantan yang selanjutnya menjadi pejantan dan akan mengawini induk-induk betina.
Dapnia hidup di air tawar seperti di danau atau kolam dan dapat ditemui di daerah tropis maupun sub tropis. Dapnia tumbuh baik pada perairan dengan suhu 21oC dan pH 6,5-9. Pakan dapnia adalah fitoplankton, detritus dan zooplankton. Cara makannya dengan menggerak-gerakan kakinya sehingga timbul arus yang kan membawa pakan tersebut.
B.            Pembibitan
Bibit bisa diperoleh dari peternak ikan yang melakukan usaha pengembangan dapnia. Bisa juga dengan malakukan penangkapan di perairan umum seperti sungai, danau, waduk atau di rawa-rawa. Keberadaan dapnia dapat diketahui dengan cara membenamkan lempengan putih atau piring secchi ke dalam perairan pada saat pagi hari yang cerah. Lempengan putih tersebut dapat dibuat dari papan kayu atau  tripleks yang dibuat berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 20 cm, selanjutnya dicat putih dan diberi gagang kayu di tengahnya. Bila terlihat seperti kumpulan awan yang bergerak-gerak menandakan bahwa perairan tersebut mengandung banyak spesies dari kelompok Cladocera. Alat-alat yang digunakan untuk menangkap dapnia ialah serok/seser yang terbuat dari kain saringan plankton, ember yang tutupnya berlubang-lubang yang sudah diisi air tawar, aerator baterai dan bila cuaca cukup terik maka disediakan es batu sebagai pendingin. Es batu tersebut dibungkus dengan kantong plastik kecil dan selanjutnya dimasukan ke dalam ember yang berisi air. Bibit yang tertangkap dengan serok ditampung dalam ember dan selanjutnya diberi aerasi. Suhu air di ember penampungan diusahakan terjaga pada kisaran 27-30oC.
C.           Pengembangan Dapnia
Pengembangan dapnia dapat dilakukan dalam skala kecil ataupun secara massal.
Pengembangan dapnia skala kecil
Wadah pemeliharaan bibit dapnia adalah akuarium atau fiberglas ukuran 25 liter. Wadah pemeliharaan dicuci dan dikeringkan kemudian diisi air tawar sebanyak 80-90% dari ketinggian wadah. Pemupukan dilakukan dengan kotoran ayam kering sebanyak 2-5 g untuk setiap 1 liter air. Pupuk tersebut dibungkus dengan kain strimin kemudian digantungkan di dalam air. Setelah 4-5 hari, air akan ditumbuhi diatome sehingga terlihat berwarna kecoklatan. Setelah ditumbuhi diatome, bibit dapnia siap ditebarkan.
Pengembangan dapnia secara massal
Wadah yang digunakan untuk pengembangan dapnia skala massal adalah bak semen atau fiberglas ukuran 1 ton.
Bak pemeliharaan dibersihkan dan dikeringkan kemudian diisi air tawar 80-90% dari ketinggian dan diberi aerasi.
Pupuk yang digunakan dalam pengembangan dapnia yaitu kotoran ayam kering dan bisa ditambahkan tepung bungkil kelapa. Jumlah pupuk yang diberikan sebanyak 2-5 g kotoran ayam dan 0,2 g tepung bungkil kelapa untuk setiap 1 liter air. Kedua jenis pupuk tersebut dicampur kemudian dimasukan dalam kain strimin dan digantungkan dalam air.
Sehari setelah pemupukan, bibit dapnia siap ditebarkan dengan kepadatan 10-20 ekor/liter air.
Pemupukan ulang dilakukan rutin setiap 7-8 hari sekali setelah pemupukan sebelumnya. Jumlah pupuk yang diberikan pada pemupukan ulang sebanyak setengah dari jumlah pupuk pada pemupukan pertama.
Panen dilakukan setelah 7-8 hari masa pemeliharaan dan dapat dilakukan secara berkesinambungan. Jumlah yang dipanen untuk sekali panen sebaiknya hanya 1/3 dari populasi yang ada. Panen dilakukan dengan alat serok atau seser dengan ukuran mata jaring 1,5-2 mm. Dengan ukuran mata jaring ini, diharapkan hanya dapnia yang besar saja yang dipanen.





OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

No comments:

Post a Comment