Wednesday, August 28, 2019

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN GURAMI










Pendahuluan
Ikan gurami merupakan salah satu ikan yang mempunyai nilai ekonomis penting yang  merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke wilayah Asia Tenggara dan Cina. Merupakan salah satu ikan labirinth dan secara taksonomi termasuk famili Osphronemidae. Ikan gurami adalah salah satu komoditas yang banyak dikembangkan oleh para petani. Hal ini dikarenakan permintaan pasar cukup tinggi, pemeliharaan mudah serta harga yang relatif stabil.
Secara morfologi, ikan ini memiliki garis lateral tunggal,lengkap dan tidak terputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah. Sirip ekor membulat. Jari-jari lemah pertama sirip perut merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.
Tahap-tahap pembenihan meliputi :
A.    Pemijahan
Ikan gurami dapat memijah sepanjang tahun, namun produktivitasnya lebih tinggi terutama pada musim kemarau. Adapun hal yang perlu diperhatikan untuk pemijahan ini adalah padat tebar induk, tata letak sarang, panen telur dan kualitas air media pemijahan. Induk jantan ditandai dengan adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah yang tebal terutama pada saat musim pemijahan dan tidak adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Sedangkan induk betina ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawah tipis dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Ikan gurami memiliki daging yang tebal dan rasa yang khas. Padat tebar induk adalah 1 ekor/5m2 dengan perbandingan jumlah jantan : betina adalah 1:3 atau 1:4. Penebaran induk di kolam pemijahan dapat dilakukan secara berpasangan(sesuai perbandingan) pada kolam yang disekat ataupun secara komunal (satu kolam diisi beberapa pasangan). Induk betina dapat memproduksi telur 1.500 sampai dengan 2.500 butir/kg induk. Sarang diletakan 1 s/d 2 m dari tempat bahan sarang dengan kedalaman 10 s/d 15 cm dari permukaan air. Sarang dipasang mendatar sejajar dengan permukaan air dan menghadap ke arah tempat bahan sarang. Tempat bahan sarang diletakan di permukaan air dapat berupa anyaman kasar dari bambu atau bahan lainnya diatur sedemikian rupa sehingga induk ikan mudah mengambil sabut kelapa/ijuk untuk membuat sarang. Pembuatan sarang dapat berlangsung selama 1 sampai dengan 2 minggu bergantung pada kondisi induk dan lingkungannya. Pemeriksaan sarang yang sudah berisi telur dapat dilakukan  dengan cara meraba, dan menggoyangkan  sarang secara perlahan atau dengan menusuk sarang menggunakan lidi/kawat
dan menggonyangkannya. Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak/telur dari sarang ke permukaan air. Sarang yang sudah berisi telur di angkat. Telur dipisahkan dari sarang dengan cara membuka sarang dengan hati-hati. Karenamengadung minyak, telur akan mengambang di permukaan air. Telur yang baik berwana kuning bening sedangkan telur berwana kuning keruh dipisahkan dan dibuang karena telur yang demikian tidak akan menetas. Minyak yang timbul dapat dikurangi dengan cara diserap memakai kain. Kualitas media pemijahan yang baik adalah suhu 25 s/d 30 C. Nilai PH 6,5 s/d 8,0, laju pergantian air 10 s/d 15 % perhari dan ketinggian air kolam 40 s/d 60 cm.
B. Penetasan Telur
Padat tebar telur 4 s/d 5 butir/cm2 dengan ketinggian air 15 s/d 20 cm. Kepadatan  dihitung per satuan  luas permukaan wadah sesuai dengan sifat telur yang mengembang.  Untuk mempertahankan kandungan oksigen terlarut,  di dalam media penetasan perlu ditambahkan aerasi kecil, tetapi  harus dijaga agar telur tidak teraduk. Kualitas air media penetasan yang baik adalah suhu  29 s/d 30 0 C, nilai pH 6,7 s/d 8,6 dan bersumber dari air tanah. Bila air sumber mengandung karbondioksida tinggi, nilai pH rendah atau mengandung bahan logam (misalnya besi), sebaiknya air diendapkan dulu selama 24 jam. Telur akan menetas setelah 36 s/d 48 jam.

C. Pemeliharaan Larva
Setelah telur menetas, larva dapat terus dipelihara di corong penetasan/waskom  sampai umur 6 hari kemudian dipindahkan ke akuarium. Bila penetasan dilakukan di akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan larva, penggantian air hanya perlu dilakukan untuk membuang minyak bila minyak yang dihasilkan ketika penetasan cukup banyak. Sedangkan bila larva sudah diberi makan, penggantian air dapat disesuaikan dengan kondisi air yaitu bila sudah banyak kotoran dari sisa pakan dan Faeces .
Pemeliharaan larva di akuarium dilakukan dengan padat tebar 15 s/d 20 ekor/liter. Pakan mulai dilakukan pada saat larva berumur 5 s/d 6 hari berupa cacing Tubifex, Artenia, Moina atau Daphnia yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Kualitas air sebaiknya dipertahankan pada tingkat suhu 29 s/d 30 0C, nilai pH 6,5 s/d 8,0 dan ketinggian air 15 s/d 20 cm.



OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN

2019

No comments:

Post a Comment