‘’TEKNIK PEMBENIHAN IKAN GURAMI’’
Disusun
Oleh :
Barnas
Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh
Perikanan Muda
KABUPATEN BANYUASIN
2019
TEKNIK PEMBENIHAN IKAN GURAMI
Pendahuluan
Ikan gurami
merupakan salah satu ikan yang mempunyai nilai ekonomis penting yang merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke
wilayah Asia Tenggara dan Cina. Merupakan salah satu ikan labirinth dan secara
taksonomi termasuk famili Osphronemidae.
Ikan gurami adalah salah satu komoditas yang banyak dikembangkan oleh para
petani. Hal ini dikarenakan permintaan pasar cukup tinggi, pemeliharaan mudah
serta harga yang relatif stabil.
Secara morfologi, ikan ini
memiliki garis lateral tunggal,lengkap dan tidak terputus, bersisik stenoid
serta memiliki gigi pada rahang bawah. Sirip ekor membulat. Jari-jari lemah
pertama sirip perut merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat
peraba.
Tahap-tahap pembenihan
meliputi :
A.
Pemijahan
Ikan gurami dapat memijah
sepanjang tahun, namun produktivitasnya lebih tinggi terutama pada musim
kemarau. Adapun hal yang perlu diperhatikan untuk pemijahan ini adalah padat
tebar induk, tata letak sarang, panen telur dan kualitas air media pemijahan. Induk
jantan ditandai dengan adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah yang
tebal terutama pada saat musim pemijahan dan tidak adanya bintik hitam pada
kelopak sirip dada. Sedangkan induk betina ditandai dengan bentuk kepala bagian
atas datar, rahang bawah tipis dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada.
Ikan gurami memiliki daging yang tebal dan rasa yang khas. Padat tebar
induk adalah 1 ekor/5m2 dengan perbandingan jumlah jantan : betina
adalah 1:3 atau 1:4. Penebaran induk di kolam pemijahan dapat dilakukan secara
berpasangan(sesuai perbandingan) pada kolam yang disekat ataupun secara komunal
(satu kolam diisi beberapa pasangan). Induk betina dapat memproduksi telur
1.500 sampai dengan 2.500 butir/kg induk. Sarang diletakan 1 s/d 2 m dari tempat
bahan sarang dengan kedalaman 10 s/d 15 cm dari permukaan air. Sarang dipasang
mendatar sejajar dengan permukaan air dan menghadap ke arah tempat bahan
sarang. Tempat bahan sarang diletakan di permukaan air dapat berupa anyaman
kasar dari bambu atau bahan lainnya diatur sedemikian rupa sehingga induk ikan
mudah mengambil sabut kelapa/ijuk untuk membuat sarang. Pembuatan sarang dapat
berlangsung selama 1 sampai dengan 2 minggu bergantung pada kondisi induk dan
lingkungannya. Pemeriksaan sarang yang sudah berisi telur dapat dilakukan dengan cara meraba, dan menggoyangkan sarang secara perlahan atau dengan menusuk
sarang menggunakan lidi/kawat
dan menggonyangkannya.
Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak/telur dari
sarang ke permukaan air. Sarang yang sudah berisi telur di
angkat. Telur dipisahkan dari sarang dengan cara membuka sarang dengan
hati-hati. Karenamengadung minyak, telur akan mengambang di permukaan air.
Telur yang baik berwana kuning bening sedangkan telur berwana kuning keruh
dipisahkan dan dibuang karena telur yang demikian tidak akan menetas. Minyak
yang timbul dapat dikurangi dengan cara diserap memakai kain. Kualitas media
pemijahan yang baik adalah suhu 25 s/d 30 C. Nilai PH 6,5 s/d 8,0, laju
pergantian air 10 s/d 15 % perhari dan ketinggian air kolam 40 s/d 60 cm.
B. Penetasan Telur
Padat tebar telur 4 s/d 5
butir/cm2 dengan ketinggian air 15 s/d 20 cm. Kepadatan dihitung per satuan luas permukaan wadah sesuai dengan sifat
telur yang mengembang. Untuk mempertahankan
kandungan oksigen terlarut, di dalam
media penetasan perlu ditambahkan aerasi kecil, tetapi harus dijaga agar telur tidak teraduk.
Kualitas air media penetasan yang baik adalah suhu 29 s/d 30 0 C, nilai pH 6,7 s/d 8,6
dan bersumber dari air tanah. Bila air sumber mengandung karbondioksida tinggi,
nilai pH rendah atau mengandung bahan logam (misalnya besi), sebaiknya air
diendapkan dulu selama 24 jam. Telur akan menetas setelah 36 s/d 48 jam.
C.
Pemeliharaan Larva
Setelah telur menetas,
larva dapat terus dipelihara di corong penetasan/waskom sampai umur 6 hari kemudian dipindahkan ke
akuarium. Bila penetasan dilakukan di akuarium, pemindahan larva
tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan larva, penggantian air hanya perlu
dilakukan untuk membuang minyak bila minyak yang dihasilkan ketika penetasan
cukup banyak. Sedangkan bila larva sudah diberi makan, penggantian air dapat
disesuaikan dengan kondisi air yaitu bila sudah banyak kotoran dari sisa pakan
dan Faeces .
Pemeliharaan
larva di akuarium dilakukan dengan padat tebar 15 s/d 20 ekor/liter. Pakan
mulai dilakukan pada saat larva berumur 5 s/d 6 hari berupa cacing Tubifex,
Artenia, Moina atau Daphnia yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Kualitas
air sebaiknya dipertahankan pada tingkat suhu 29 s/d 30 0C, nilai pH
6,5 s/d 8,0 dan ketinggian air 15 s/d 20 cm.

No comments:
Post a Comment