1. SEJARAH SINGKAT
Ikan mujair merupakan jenis ikan
konsumsi air tawar, bentuk badan pipih dengan warna abu-abu, coklat atau
hitam. Ikan ini berasal dari perairan Afrika dan pertama kali di Indonesia
ditemukan oleh bapak Mujair di muara sungai Serang pantai selatan Blitar Jawa
Timur pada tahun 1939. Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap
kadar garam/salinit as. Jenis ikan ini mempunyai kecepatan pertumbuhan yang
relatif lebih cepat, tetapi setelah dewasa percepatan pertumbuhannya akan
menurun. Panjang total maksimum yang dapat dicapai ikan mujair adalah 40 cm.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra perikanan terdapat didaerah
Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan.
3. JENIS
Klasifikasi ikan mujair adalah
sebagai berikut:
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis mossambicus
Adapun jenis ikan mujair yang
dikenal antara lain: mujair biasa, mujair merah (mujarah) atau jamerah dan mujair
albino.
4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein
hewani.
5. PERSYARATAN LOKASI
- Tanah
yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan
tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
- Kemiringan
tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
- Ikan
mujair dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian antara 150-1000 m dpl.
- Kualitas
air untuk pemeliharaan ikan mujair harus bersih, tidak terlalu keruh dan
tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
- Ikan
mujair dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air
deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi
pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mujair. Debit air untuk kolam
air tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air
deras debitnya 100 liter/menit/m 3 .
- Keasaman
air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
- Suhu
air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
- Penyiapan
Sarana dan Peralatan
- Kolam
Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan
mujair tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam
dlsb). Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan
mujair antara lain:
- Kolam
pemeliharaan induk/kolam pemijahan, Kolam ini berfungsi sebagai kolam
pemijahan, kolam sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya 50-100
meter persegi dan kepadatan kolam induk hanya 2 ekor/m². Adapun syarat
kolam pemijahan adalah suhu air berkisar antara 20-22 derajat C;
kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir.
- Kolam
pemeliharaan benih/kolam pendederan, Luas kolam tidak lebih dari
50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan
sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam
pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran
3-5 cm.
- Kolam
pembesaran, Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara
dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:
- Kolam
pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari
kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah
dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam. Pembesaran tahap I
ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini
memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil
maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual
kepada pera petani.
- Kolam
pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih gelondongan
besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah. Keramba apung juga
dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah penebaran
pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
- Pembesaran
tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah
antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.
- Kolam/tempat
pemberokan, Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan
- Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mujair
diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari
jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser,
ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan
besar (Kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc)
untuk mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan
untuk memanen/menangkap ikan mujair antara lain adalah warring/scoopnet
yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean
diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak,
fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat
penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk
penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan
benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk
pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas),
anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap
ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu
keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring
berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
- Persiapan
Media, yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media
untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,
diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing- masing
dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk
buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan
10 gram/meter persegi.
- Pembibitan
Untuk menyiapkan bibit ikan mujair yang akan dipelihara, perlu
diperhatikan hal-hal penyiapan media pemeliharaan, pemilihan dan
pemeliharaan induk, penetasan dan persyaratan bibit, ciri-ciri bibit dan
induk unggul.
- Pemilihan
Induk
Ciri-ciri induk bibit mujair yang unggul adalah
sebagai berikut:
- Mampu
memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas yang tinggi.
- Pertumbuhannya
sangat cepat.
- Sangat
responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
- Resisten
terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
- Dapat
hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.
- Ukuran
induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 100 gram lebih per ekornya.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan
induk betina adalah sebagai berikut:
1. Betina
§ Terdapat 3 buah lubang pada
urogenetial yaitu: dubur, lubang pengeluaran telur dan lubang urine.
§ Ujung sirip berwarna
kemerah-merahan pucat tidak jelas.
§ Warna perut lebih putih.
§ Warna dagu putih.
§ Jika perut distriping tidak
mengeluarkan cairan.
2. Jantan
§ Pada alat urogenetial terdapat 2
buah lubang yaitu: anus dan lubang sperma merangkap lubang urine.
§ Ujung sirip berwarna
kemerah-merahan terang dan jelas.
§ Warna perut lebih
gelap/kehitam-hitaman.
§ Warna dagu kehitam-hitaman dan
kemerah-merahan.
§ Jika perut distriping mengeluarkan
cairan.
Sistim Pembibitan, Pembibitan ikan mujair dapat
dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
Sistim satu kolam, Pada sistim ini kolam
pemijahan/pembenihan disatukan dengan kolam pendederan/ pemeliharaan anak.
Setelah dilakukan persiapan media pembibitan, tebarkan induk jantan dan
betina dengan perbandingan 1:2 atau 1:4 dengan jumlah kepadatan 2 pasang/10
meter persegi. Pamanenan dilakukan setiap 2 minggu sekali.
Sistim dua kolam, Pada sistim ini proses pemijahan
dan pendederan dilakukan pada kolam terpisah, dengan perbandingan luas kolam
pemijahan dengan kolam pendederan adalah 1:2 atau 1:4. Dasar kolam pendederan
harus lebih rendah dari dasar kolam lainnya agar aliran air cukup deras
mengalir dari kolam pemijahan ke kolam pendederan. Pada pintu kedua kolam
tersebut dipasang saringan kasar agar hanya anak-anak ikan saja yang dapat lewat.
Jumlah dan kepadatan induk jantan dan betina yang disebarkan sama dengan
sistim satu kolam.
Sistim platform Pada sistim ini kolam dibagi dalam 4
bagian, yaitu kolam pertama sebagai tempat induk jantan dan betina bertemu
atau tempat pemijahan. Kolam kedua tempat induk betina dimana disekat oleh
kisi atau krei bambu dengan ukuran lubang-lubang sebesar badan induk betina
sehingga hanya induk betina yang dapat lolos ke kolam kedua ini. Kolam ketiga
merupakan temapt pelepasan larva dan temapat yang ke empat adalah tempat
pendederan. Persiapan media dan jumlah induk yang dilepas sama dengan sistim
yang pertama.
Pembenihan, Pemijahan dan penetasan ikan
mujair berlangsung sepanjang tahun pada kolam pemijahan dan tidak memerlukan
lingkungan pemijahan secara khusus. Hal yang perlu dilakukan adalah penyiapan
media pemeliharaan seperti pengerikan pengapuran dan pemupukan. Ketinggian
air di kolam dipertahankan sekitar 50 cm. Untuk menambah tingkat produkivitas
dan kesuburan, maka diberikan makanan tambahan dengan komposisi sebagai
berikut: tepung ikan 25%, tepung kopra 10% dan dedak halus sebesar 65%.
Komposisi ransum ini digunakan dalam usaha budidaya ikan mujair secara
komersial. Dapat juga diberi makanan yang berupa pellet yang berkadar protein
20-30% dengan dosis 2-3% dari berat populasi per hari, diberikan sebanyak 2
kali/hari yaitu pada pagi dan sore hari. Pemijahan akan terjadi setelah induk
jantan membuat lubang sarang yang berupa cekungan di dasar kolam dengan garis
tengah sekitar 10-35 cm. Begitu pembuatan sarang pemijahan selesai, segera
berlangsung proses pemijahan. Setelah proses pembuahan selesai, maka
telur-telur hasil pemijahan segera dikumpulkan oleh induk betina ke dalam
mulutnya untuk dierami hingga menetas. Pada saat tersebut induk betina tidak aktif
makan sehingga terlihat tubuhnya kurus. Telur akan menetas setelah 3-5 hari
pada suhu air sekitar 25-27°C. Setelah sekitar 2 minggu sejak penetasan,
induk betina baru melepaskan anak-anaknya, karena telah mampu mencari makanan
sendiri.
Pemeliharaan Bibit, Pendederan atau pemeliharaan anak
ikan mujair dilakukan setelah telur-telur hasil pemijahan menetas. Kegiatan
ini dilakukan pada kolam pendederan yang sudah siap menerima anak ikan dimana
kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan
liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan
pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan. Jumlah penebaran
dalam kolam pendederan tergantung dari ukuran benih ikan. Benih ikan ukuran
1-3 cm, jumlah penebarannya sekitar 30-50 ekor/meter persegi, ukuran 3-5 cm
jumlah penebarannya berkisar 5-10 ekor/meter persegi. Sedangkan anak ikan
ukuran 5-8 cm jumlah penebarannya 2-5 ekor/meter persegi. Untuk benih yang
ukuran 5-8 cm ini, sebaiknya dilakukan secara monoseks kultur, karena pada
ukuran tersebut benih ikan sudah dapat dibedakan yang berjenis kelamin jantan
atau betina.
Pemeliharaan Pembesaran, Pemeliharaan pembesaran dapat
dilakukan secara polikultur maupun monokultur.
Polikultur
ikan mujair 50%, ikan tawes 20%, dan mas 30%, atau ikan mujair 50%, ikan
gurame 20% dan ikan mas 30%.
Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan dengan
polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk
jantan dan betina. Pembesaran ikan mujair pun dapat pula dilakukan di jaring
apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100
cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah
yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan
pemeliharaan benih ikan mujair. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam
dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1-1,5
m dengan kedalaman 60-75 cm.
Pemupukan, Pemupukan kolam bertujuan untuk
meningkatkan dan produktivitas kolam, yaitu dengan cara merangsang
pertumbuhan makanan alami sebanyak-banyaknya. Pupuk yang biasa digunakan
adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50–700 gram/m²
Pemberian Pakan, Apabila tingkat produkivitas dan
kesuburan kolam sudah semakin berkurang, maka bisa diberikan makanan tambahan
dengan komposisi sebagai berikut: tepung ikan 25%, tepung kopra 10% dan dedak
halus sebesar 65%. Komposisi ransum ini digunakan dalam usaha budidaya ikan
munjair secara komersial. Dapat juga diberi makanan yang berupa pellet yang
berkadar protein 20-30% dengan dosis 2-3% dari berat populasi per hari,
diberikan sebanyak dua kali per hari yaitu pada pagi dan sore hari. Disamping
itu juga kondisi pakan dalam perairan tersebut sesuai dengan dosis atau
ketentuan yang ada. Yaitu selain pakan dari media dasar juga perlu diberi
makanan tambahan berupa hancuran pellet atau remah dengan dosis 10% dari
berat populasi per hari. Pemberiannya 2-3 kali/hari.
Pemeliharaan Kolam/Tambak Dalam hal pemeliharaan
ikan mujair yang tidak boleh terabaikan adalah menjaga kondisi perairan agar
kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak tercemari/teracuni oleh zat
beracun.
7. HAMA DAN PENYAKIT
- Hama
- Bebeasan
(Notonecta) Berbahaya bagi benih karena sengatannya.
Pengendalian: menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter
persegi.
- Ucrit
(Larva cybister) Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian:
sulit diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
- Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
- Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.
- Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
- Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah,
kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.
- Penyakit
Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya
penyakit dan hama pada budidaya ikan mujair:
- Pengeringan
dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
- Pemeliharaan
ikan yang benar-benar bebas penyakit.
- Hindari
penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
- Sistem
pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu
pemasukan air.
- Pemberian
pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
- Penanganan
saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan secara hati-hati
dan benar.
- Binatang
seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.
8. PANEN
Pemanenan ikan mujair dapat
dilakukan dengan cara: panen total dan panen sebagian.
- Panen
sebagian atau panen selektif, Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan
kolam, ikan yang akan dipanen dipilih dengan ukuran tertentu (untuk
pemanenan benih). Ukuran benih yang akan dipanen (umur 1-1,5 bulan)
tergantung dari permintaan konsumen, umumnya digolongkan untuk ukuran:
1-3 cm; 3-5 cm dan 5-8 cm. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan waring
yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak terpilih
(biasanya terluka akibat jaring), sebelum dikembalikan ke kolam
sebaiknya dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green
0,5-1,0 ppm selama 1 jam.
- Panen
total, Umumnya panen total dilakukan untuk menangkap/memanen ikan hasil
pembesaran. Umumnya umur ikan mujair yang dipanen berkisar antara 5
bulan dengan berat berkisar antara 30-45 gram/ekor. Panen total
dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal
10-20 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m persegi di
depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan
ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan
menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan
secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan mujair
dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.
- Penanganan
ikan hidup, Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila
dijual dalam keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan
tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara
lain:
- Dalam
pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat C.
- Waktu
pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
- Jumlah
kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
- Penanganan
ikan segar, Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun
kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran
antara lain:
- Penangkapan
harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
- Sebelum
dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
- Wadah
pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat (2
jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun
pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng
atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak
maksimum 50 cm.
- Ikan
diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm.
Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu
disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding
kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah
sebagai berikut:
- Benih
ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
- Air
yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan
penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
- Sebelum
diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari. Gunakan
tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan aerasi
yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2
m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat menampung
benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah
benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.
- Berdasarkan
lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua
bagian, yaitu:
- Sistem
terbuka, Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau
tidak memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
Setiap
keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut
sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
- Sistem
tertutup, Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang
memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik.
Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik:
- masukkan
air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;
- hilangkan
udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan air;
- alirkan
oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume
keseluruhan rongga (air:oksigen=1:1);
- kantong
plastik lalu diikat.
- kantong
plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau
ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan
tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan adalah sebagai berikut:
- Siapkan
larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam 10
liter air bersih).
- Buka
kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat
sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik
terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan
benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2 menit.
- Masukan
benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih ikan
diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan
tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat
juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin
sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah
1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
|
No comments:
Post a Comment