BUDIDAYA IKAN
AIR TAWAR
DENGAN JARING
APUNG (KJA)
Wadah budidaya ikan selanjutnya yang dapat digunakan oleh masyarakat yang
tidak memiliki lahan darat dalam bentuk kolam, masyarakat dapat melakukan
budidaya ikan di perairan umum. Budidaya ikan dengan menggunakan karamba
merupakan alternatif wadah budidaya ikan yang sangat potensial untuk
dikembangkan karena seperti diketahui wilayah Indonesia ini terdiri dari 70%
perairan baik air tawar maupun air laut.
Dengan menggunakan wadah budidaya karamba dapat diterapkan beberapa system
budidaya ikan yaitu secara ekstensif, semi intensif maupun intensif disesuaikan
dengan kemampuan para pembudidaya ikan. Jenis-jenis wadah yang dapat digunakan
dalam membudidayakan ikan dengan karamba ada beberapa antara lain adalah
karamba jarring terapung, karamba bambu tradisional dengan berbagai bentuk
bergantung pada kebiasaan masyarakat sekitar. Teknologi yang digunakan dalam
membudidayakan ikan dengan karamba ini relatif tidak mahal dan sederhana, tidak
memerlukan lahan daratan menjadi badan air yang baru serta dapat meningkatkan
produksi perikanan budidaya.
Kemudian Dalam mendesain konstruksi wadah budidaya ikan disesuaikan dengan
lokasi yang dipilih untuk membuat budidaya ikan dijaring terapung. Budidaya
ikan dijaring terapung dapat dilakukan untuk komoditas ikan air tawar dan ikan
air laut. Sebelum membuat konstruksi wadah karamba jaring terapung pemilihan
lokasi yang tepat dari aspek sosial ekonomis dan teknis benar. Sama seperti
wadah budidaya ikan sebelumnya persyaratan secara teknis dan sosial ekonomis
dalam memilih lahan yang akan digunakan untuk melakukan budidaya ikan harus
diperhatikan.
Aspek sosial ekonomis yang sangat umum yang harus dipertimbangkan adalah
lokasi tersebut dekat dengan pusat kegiatan yang mendukung operasionalisasi
suatu usaha seperti tempat penjualan pakan, pembeli ikan dan lokasi yang
dipilih merupakan daerah pengembangan budidaya ikan sehingga mempunyai
prasarana jalan yang baik serta keamanan terjamin. Persyaratan teknis yang
harus diperhatikan dalam memilih lokasi usaha budidaya ikan di karamba jaring
terapung antara lain adalah :
1. Arus air.
Arus air pada lokasi yang dipilih diusahakan tidak terlalu kuat namun tetap
ada arusnya, agar tetap
terjadi pergantian air dengan baik dan kandungan oksigen terlarut dalam wadah
budidaya ikan tercukupi, selain itu dengan adanya arus maka dapat menghanyutkan
sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang terjatuh di dasar perairan. Dengan tidak
terlalu kuatnya arus juga berpengaruh terhadap keamanan jaring dari kerusakan
sehingga masa pakai jaring lebih lama. Bila pada perairan yang akan dipilih
ternyata tidak ada arusnya (kondisi air tidak mengalir), disarankan agar unit
budidaya atau jaring dapat diusahakan di perairan tersebut, tetapi jumlahnya
tidak boleh lebih dari 1% dari luas perairan. Pada kondisi perairan yang tidak
mengalir, unit budidaya sebaiknya diletakkan ditengah perairan sejajar dengan
garis pantai.
2. Tingkat
kesuburan.
Pada perairan umum dan waduk ditinjau dari tingkat kesuburannya dapat
dikelompokkan menjadi perairan dengan tingkat kesuburan rendah (oligotropik),
sedang (mesotropik) dan tinggi (eutropik). Jenis perairan yang sangat baik
untuk digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung dengan sistem intensif
adalah perairan dengan tingkat kesuburan rendah hingga sedang.Jika perairan
dengan tingkat kesuburan tinggi digunakan dalam budidaya ikan di jaring
terapung maka hal ini sangat beresiko tinggi karena pada perairan eutropik
kandungan oksigen terlarut pada malam hari sangat rendah dan berpengaruh buruk
terhadap ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi.
3. Bebas
dari pencemaran.
Dalam dunia perikanan, yang dimaksud dengan pencemaran perairan adalah
penambahan sesuatu berupa bahan atau energi ke dalam perairan yang menyebabkan
perubahan kualitas air sehingga mengurangi atau merusak nilai guna air dan
sumber air perairan tersebut. Bahan pencemar yang biasa masuk kedalam suatu
badan perairan pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu bahan
pencemar yang sulit terurai dan bahan pencemar yang mudah terurai. Contoh bahan
pencemar yang sulit terurai berupa persenyawaan logam berat, sianida, DDT atau
bahan organik sintetis. Contoh bahan pencemar yang mudah terurai berupa limbah
rumah tangga, bakteri, limbah panas atau limbah organik. Kedua jenis bahan
pencemar tersebut umumnya disebabkan oleh kegiatan manusia, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Penyebab kedua adalah keadaan alam seperti :
banjir atau gunung meletus. Jika lokasi budidaya mengandung bahan pencemar maka
akan berpengaruh terhadap kehidupan ikan yang dipelihara didalam wadah budidaya
ikan tersebut.
4. Kualitas
air.
Dalam budidaya ikan, secara umum kualitas air dapat diartikan sebagai
setiap perubahan (variabel) yang mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup
dan produktivitas ikan yang dibudidayakan. Jadi perairan yang dipilih harus
berkualitas air yang memenuhi persyaratan bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan
yang akan dibudidayakan. Kualitas air meliputi sifat fisika, kimia dan biologi.
Setelah mendapatkan lokasi yang memenuhi persyaratan teknis maupun sosial
ekonomis maka harus dilakukan perencanaan selanjutnya. Perencanaan disesuaikan
dengan data yang diperoleh pada waktu melakukan survey lokasi. Perencanaan
tersebut dapat dibuat dengan membuat gambar dari konstruksi wadah budidaya yang
akan dibuat. Konstruksi wadah jaring terapung terdiri dari beberapa bagian,
antara lain :
1. Kerangka
Kerangka (bingkai) jaring terapung dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau
besi yang dilapisi bahan anti karat (cat besi). Memilih bahan untuk kerangka,
sebaiknya disesuai-kan dengan ketersediaan bahan di lokasi budidaya dan nilai
ekonomis dari bahan tersebut.
Kayu atau bambu secara ekonomis memang lebih murah dibandingkan dengan besi
anti karat, tetapi jika dilihat dari masa pakai dengan menggunakan kayu atau
bambu jangka waktu (usia teknisnya) hanya 1,5–2 tahun. Sesudah 1,5–2 tahun masa
pakai, kerangka yang terbuat dari kayu atau bambu ini sudah tidak layak pakai
dan harus direnofasi kembali. Jika akan memakai besi anti karat sebagai
kerangka jaring pada umumnya usia ekonomis/ angka waktu pemakaiannya relatif
lebih lama, yaitu antara 4–5 tahun.
Pada umumnya petani ikan di jaring terapung menggunakan bamboo sebagai
bahan utama pembuatan kerangka, karena selain harganya relatif murah juga
ketersediaannya di lokasi budidaya sangat banyak.
Bambu yang
digunakan untuk kerangka sebaiknya mempunyai garis tengah 5 – 7 cm di bagian
pangkalnya, dan bagian ujungnya berukuran antara 3 – 5 cm. Jenis bambu yang
digunakan adalah bambu tali. Ada juga jenis bambu gombong yang mempunyai
diameter 12 -15 cm tetapi jenis bambu ini kurang baik digunakan untuk kerangka
karena cepat lapuk.
Ukuran kerangka jaring terapung berkisar antara 5 X 5 meter sampai 10 X 10
meter. Petani ikan jaring terapung di perairan cirata pada umumnya menggunakan
kerangka dari bambu dengan ukuran 7 X 7 meter. Kerangka dari jaring apung
umumnya dibuat tidak hanya satu petak/kantong tetapi satu unit. Satu unit
jaring terapung terdiri dari empat buah petak/kantong.
2. Pelampung
Pelampung berfungsi untuk mengapungkan kerangka/ jaring terapung. Bahan
yang digunakan sebagai pelampung berupa drum (besi atau plastik) yang
berkapasitas 200 liter, busa plastik (stryrofoam) atau fiberglass. Jenis
pelampung yang akan digunakan biasanya dilihat berdasarkan lama pemakaian.
3. Pengikat
Tali pengikat sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat, seperti tambang
plastik, kawat ukuran 5 mm, besi beton ukuran 8 mm atau 10 mm. Tali pengikat
ini digunakan untuk mengikat kerangka jaring terapung, pelampung atau jaring.
Jika akan menggunakan pelampung dari drum maka drum harus terlebih dahulu dicat
dengan menggunakan cat yang mengandung bahan anti karat.
Jumlah pelampung yang akan digunakan disesuaikan dengan besarnya kerangka
jaring apung yang akan dibuat. Jaring terapung berukuran 7 X 7 meter, dalam
satu unit jaring terapung membutuhkan pelampung antara 33 – 35 buah.
4. Jangkar
Jangkar berfungsi sebagai penahan jarring terapung agar rakit jaring
terapung tidak hanyut terbawa oleh arus air dan angin yang kencang. Jangkar
terbuat dari bahan batu, semen atau besi. Pemberat diberi tali pemberat/tali
jangkar yang terbuat dari tambang plastic yang berdiameter sekitar 10 mm – 15
mm. Jumlah pemberat untuk satu unit jaring terapung empat petak/kantong adalah
sebanyak 4 buah. Pemberat diikatkan pada masing-masing sudut dari kerangka
jaring terapung. Berat jangkar berkisar antara 50 – 75 kg. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Gambar.
5. Jaring
Jaring yang digunakan untuk budidaya ikan di perairan umum, biasanya
terbuat dari bahan polyethylene atau disebut jaring trawl.
Ukuran mata
jaring yang digunakan tergantung dari besarnya ikan yang akan dibudidayakan.
Kantong jaring terapung ini mempunyai ukuran bervariasi disesuaikan dengan
jenis ikan yang dibudidayakan, untuk ikan air laut ukuran kantong jaring yang
biasa digunakan berukuran mulai 2 X 2 X 2 m sampai 5 X 5 x 5 m. Sedangkan untuk
jenis ikan air tawar berkisar antara 3 X 3 X 3 m sampai 7 X 7 X 2,5 m. Untuk
mengurangi resiko kebocoran akibat gigitan binatang lain.
Biasanya kantong jaring terapung dipasang rangkap (doubel) yaitu kantong
jaring luar dan kantong jaring dalam. Ukuran jaring bagian luar biasanya
mempunyai mata jaring (mesh size) yang lebih besar.
Salah satu
contohnya adalah sebagai berikut :
a. Jaring
polyethylene no. 380
D/9 dengan ukuran mata jaring (mesh size) sebesar 2 inch (5,08 cm) yang
dipergunakan sebagai kantong jaring luar.
b. Jaring polyethylene no. 280
D/12 dengan ukuran mata jaring 1 inch (2,5 cm) atau 1,5 inch (3,81 cm)
dipergunakan sebagai kantong jaring dalam.
Jaring yang mempunyai ukuran mata jaring lebih kecil dari 1 inch biasanya
digunakan untuk memelihara ikan yang berukuran lebih kecil. Di perairan umum,
khususnya dalam budidaya ikan di jaring terapung ukuran jaring yang digunakan
adalah ukuran ¾ - 1 inch.
BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR
DENGAN
JARING APUNG (KJA)
BARNAS
SUSANTO Z, S.St.Pi
PENYULUH PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
PROVINSI
SUMATERA SELATAN

No comments:
Post a Comment