1. SEJARAH SINGKAT
Gurame merupakan
jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar, bagian punggung
berwarna merahsawo dan bagian perut berwarnakekuning-kuningan/
keperak-perakan. Ikan gurame merupakan keluarga Anabantidae, keturunan
Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah
Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke Malaysia, Thailands, Ceylon
dan Australia. Pertumbuhan ikan gurame agak lambat dibanding ikan air tawar
jenis lain. Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya gurami, Gurameh, orang
Sumatra ikan kalau, kala, kalui, sedangkan di Kalimantan disebut Kalui. Orang
Inggris menyebutnya “Giant Gouramy”, karena ukurannya yang besar sampai
mencapai berat 5 kg.
2. SENTRA PERIKANAN
Daerah di Indonesia
yang menjadi sentra perikanan yaitu: Sumatera, NTB dan Jawa. Sedangkan di
luar negeri yaitu: Thailand, Jepang dan Filipina.
3. JENIS
Klasifikasi ikan
gurame adalah sebagai berikut:
Klas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub Ordo : Anabantoidae
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus goramy (Lacepede)
Jenis gurami yang
sudah dikenal masyarakat diantaranya: gurami angsa, gurami jepun, blausafir,
paris, bastar dan porselen. Empat terakhir banyak dikembangkan di Jawa Barat,
khususnya Bogor. Dibanding gurame jenis lain, porselen lebih unggul dalam
menghasilkan telur. Jika induk bastar dalam tiap sarangnya hanya mampu
menghasilkan 2000-3000 butir telur, porselen mampu 10.000 butir. Karena itu masyarakat
menyebutnya sebagai top of the pop, dan paling banyak diunggulkan.
4. MANFAAT
Sebagai sumber
penyediaan protein hewani.
5. PERSYARATAN
LOKASI
- Tanah
yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat
menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat
pematang/dinding kolam.
- Kemiringan
tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
- Ikan
gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian 50-400 m dpl.
- Kualitas
air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak
berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia
beracun, dan minyak/limbah pabrik.
- Kolam
dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang mengalir sangat
baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan gurame. Untuk
pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air yang
diperkenankan adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk pemeliharaan secara
polikultur, debit air yang ideal adalah antara 6-12 liter/detik.
- Keasaman air (pH) yang baik
adalah antara 6,5-8.
- Suhu air yang baik berkisar
antara 24-28 derajat C.
6. PEDOMAN TEKNIS
BUDIDAYA
- Penyiapan Sarana dan
Peralatan
- Kolam
Jenis kolam yang umum dipergunakan
dalam budidaya ikan gurame antara lain:
- Kolam
penyimpanan induk
Kolam ini berfungsi untuk menyimpan
induk dalam mempersiapkan kematangan telur dan memelihara kesehatan induk,
kolam berupa kolam tanah yang luasnya sekitar 10 meter persegi, kedalamam
minimal 50 cm dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.
- Kolam
pemijahan
Kolam berupa kolam tanah yang luasnya
200/300 meter persegi dan kepadatan kolam induk 1 ekor memerlukan 2-10 meter
persegi (tergantung dari sistim pemijahan). Adapun syarat kolam pemijahan
adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100 cm;
dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur berupa injuk
atau ranting-ranting.
- Kolam
pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100
meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50
ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara
3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
- Kolam
pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai
tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan.
Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam jaring 1,25–1,5
cm. Jumlah penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
- Kolam/tempat
pemberokan
Merupakan tempat pembersihan ikan
sebelum dipasarkan Adapun cara pembuatan kolam adalah sebagai berikut:
1. Ukurlah tanah 10 x
10 m (100 m 2 ).
2. Buatlah pematangnya
dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m, bagian bawahnya 1 m dan tingginya
1 m.
3. Pasanglah pipa/bambu
besar untuk pemasukan dan pengeluaran air. Aturlah tinggi rendahnya, agar
mudah memasukkan dan mengeluarkan air.
4. Cangkullah tanah
dasar kolam induk agar gembur, lalu diratakan lagi. Tanah akan jadi lembut
setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan tertutup, dan air tidak
keluar akibat bocor dari pori-pori itu. Dasar kolam dibuat miring ke arah
pintu keluar air.
5. Buatlah saluran
ditengah-tengah kolam induk, memanjang dari pintu masuk air ke pintu keluar.
Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.
6. Keringkanlah kolam
induk dengan 2 karung pupuk kandang yang disebarkan merata, kemudian air
dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu, agar pupuk hancur dan meresap ke tanah
dan membentuk lumut, serta menguji agar kolam tidask bocor. Tinggi air 0,75-1
m.
- Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam
usaha pembenihan ikan gurame diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa
(kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih),
seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan
besar (Kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk
mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk
memanen/menangkap ikan gurame antara lain adalah warring/scoopnet yang halus,
ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat
menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut
ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat
melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol)
atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari
alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap
benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap ikan), lambit dari
jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih
ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi
ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk
ikan atau ikan konsumsi).
- Pembibitan
- Pemilihan
Induk
Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:
- Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.
- Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan
berat badan ideal).
- Ukuran kepala relatif kecil
- Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap
serta tidakluka.
- Gerakan normal dan lincah.
- Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut
kecil dan tidak berjanggut.
- Berumur
antara 2-5 tahun.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
§ Betina
§ Dahi meninjol.
§ Dasar sirip dada
terang gelap kehitaman.
§ Dagu putih
kecoklatan.
§ Jika diletakkan pada
tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.
§ Jika perut
distriping tidak mengeluarkan cairan.
§ Jantan
§ Dahi menonjol.
§ Dasar sirip dada
terang keputihan.
§ Dagu kuning.
§ Jika diletakkan pada
tempat datar ekor akan naik.
§ Jika perut
distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
Pemeliharaan Induk
Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk
kolam seluas 10 m 2 ) disimpan dalam kolam penyimpanan induk. Beri makanan
selama dalam penampungan. Untuk setiap induk dengan berat antara 2-3 kg
diberi makanan daun-daunan sebanyak 1/3 kg setiap hari pada sore hari.
Makanan tambahan berupa dedak halus yang diseduh air panas diberikan 2 kali
seminggu dengan takaran 1/2 blekminyak tanah setiap kali pemberian.
Pembenihan
Bila proses pematangan gonada (kandung
telur dan sperma) di kolam penampungan sudah mencapai puncaknya, induk segera
dimasukkan dalam kolam pemijahan. Adapun cara pemijjahan ikan gurame adalah
sebagai berikut:
Kolam dikeringkan terlebih dahulu
selama 5 hari, perbaiki tanggul dan dasar kolam.
Lakukan pengapuran dan pemupukan.
Pemupukan dasar dengan pupuk kandang dosis 7,5 kg/100 meter persegi dan
biarkan selama 3 hari.
Tanami dasar kolam dengan tanaman
ganggang buntut anjng
Isikan air yang telah dicampur dengan
pupuk buatan TSP sebantak 500 gram/100 meter persegi, biarkan selama 1 minggu
kemudian isikan air hingga kedalaman 75 cm.
Untuk kolam seluas 100 meter persegi
bisa disebar induk sebanyak 30 ekor betina dan 10 ekor jantan. Setelah
pemijahan berlangsung, 1-2 hari induk betina akan melepaskan telur-telurnya
ke dalam sarang yangkemudian disemproti sperma oleh si jantan sehingga
terjadi pembuahan sel telur. 20-30 hari kemudian, induk-induk yang
terpelihara baik akan berpijah lagi dan beberapa hari kemudian telur akan
menetas.
Pemeliharaan Bibit
Benih-benih yang telah berumur 1-2
bulan sejak menetas dapat dibesarkan pada kolam pendederan atau disawah
sebagai penyelang. Dalam pelaksanaan pendederan adalah melakukan pengeringan
kolam atau sawah, pemupukan, perbaikan pematang dan pemasangan saringan atau
perbaikan pipa-pipa pada pintu pemasukan atau pengeluaran air. Setelah
persiapan selesai, benih ditebarkan dengan kepadatan 30 ekor/meter persegi
dengan ukuran benih 5-10 cm pada kolam pendederan. Makanan yang dapat
diberikan selama pemeliharaan adalah rayap atau daun-daunan yang telah
dilunakkan dengan dosis 20-30% berat badan rata-rata. Makanan tambahan berupa
dedak halus yang diseduh air panas diberikan 1 kali seminggu dengan takaran 1
blek minyak tanah untuk 100 ekor benih. Lamanya pendederan sekitar 1-2 bulan.
Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat
dilakukan secara polikultur maupun monokultur.
Polikultur
Ikan gurame dipeliharan bersama ikan tawes, ikan mas, nilem, mujair atau
lele. Cara ini lebih menguntungkan karena pertumbuhan ikan gurame yang cukup
lambat.
Monokultur
Pada pemeliharaan gurame tersendiri, bibit yang disebar minimal harus
berumur 2 bulan. Penebaran bibit sejumlah 500 ekor (ukuran 10-15 cm)
diperlukan luas kolam sekitar 1500 meter persegi
Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan dengan bahan kimia dan pupuk kandang. Pada
umumnya pemupukan hanya dilakukan 1 kali dalam setiap pemeliharaan, dengan
maksud untuk meningkatkan makanan alami bagi hewan peliharaan. Tahap pertama
pemupukan dilakukan pada waktu kolam dikeringkan. Pada saat ini pupuk yang
diberikan adalah pupuk kandang sebanyak 7,5 kg untuk tiap 100 m 2 kolam, air
disisakan sedikit demi sedikit sampai mencapai ketinggian 10 cm dan dibiarkan
selama 3 hari. Pada tahap berikutnya pemupukan dilakukan dengan menggunakan
pupuk buatan seperti TSP atau pupuk Urea sebanyak 500 gram untuk setiap 100 m
2 kolam. Pemberian kedua pupuk tersebut ditebarkan merata ke setiap dasar dan
sudut kolam.
Pemberian Pakan
Makanan pokok ikan gurame berupa pelet yang dapat diatur gizinya, namun
di daerah yang agak sulit memperoleh pelet, daun-daunan merupakan alternatif
yang sangat baik untuk dijadikan makanan ikan, diantaranya: daun pepaya,
keladi, ketela pohon, genjer, kimpul, kangkung, ubi jalar, ketimun, labu dan
dadap. Pemberian makanan yang teratur dengan kualitas dan kuantitas yang
tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan tubuh ikan lebih cepat. Induk-induk
gurame yang sehat dan terjamin makanannya dapat dipijahkan dua kali setahun
berturut-turut selama 5 tahun.
Pemeliharaan
Kolam/Tambak
Setiap habis panen, kolam dibersihkan/kuras. setelah itu dilakukan
pemupukan agar mempengaruhi kesuburan kolam, sehingga bila benih disebarkan,
kesuburan ikan akan terjamin dan pertumbuhan ikan akan cepat.
7. HAMA DAN PENYAKIT
- Penyakit
Gangguan yang dapat menyebabkan
matinya ikan adalah penyakit yang disebut penyakit non parasiter dan penyakit
yang disebabkan parasit. Gangguan-gangguan non parasiter bisa berupa
pencemaran air seperti adanya gas-gas beracun berupa asam belerang atau amoniak;
kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturunan.
Penanggulangannya adalah dengan mendeteksi keadaan kolam dan perilaku
ikan-ikan tersebut. Memang diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup
untuk mengetahuinya. ikan-ikan yang sakit biasanya menjadi kurus dan lamban
gerakannya. Gangguan lain yang berupa penyakit parasiter, yang diakibatkan
oleh bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Bila ikan
terkena penyakit yang disebabkan parasit, dapat dikenali sebagai berikut:
- Penyakit pada kulit; pada bagian-bagian
tertentu berwarna merah terutama di bagian dada, perut dan pangkal
sirip.
- Penyakit pada insang; tutup insang mengembang.
Lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan
kelabu
- Penyakit pada organ dalam; perut ikan
membengkak, sisik berdiri. Pencegahan timbulnya penyakit ini dapat
dilakukan dengan mengangkat ikan dan melakukan penjemuran kolam
beberapa hari agar parasit pada segala stadium mati. Parasit yang
menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. Pengobatan bagi
ikan-ikan yang sudah cukup memprihatikan keadaannya, dapat dilakukan
dengan menggunakan bahan kimia diantaranya:
- Pengobatan
dengan Kalium Permanganat (PK)
- Sediakan air sumur atau
sumber air lainnya yang bersih dalam bak penampungan sesuai dengan
berat ikan yang akan diobati.
- Buat larutan PK sebanyak 2
gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.
- Rendam ikan yang akan
diobati dalam larutan tersebut selama 30-60 menit dengan diawasi
terus menerus.
- Bila belum sembuh betul,
pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari kemudian.
- Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada
larutan neguvon dengan 2-3,5% selama 3 mernit. Untuk pembe-rantasan
parasit di kolam, bahan tersebut dilarutkan dalam air hingga
konsentrasi 0,1% Neguvon lalu disiramkan ke dalam kolam yang telah
dikeringkan. Biarkan selama 2 hari.
- Pengobatan
dengan garam dapur. Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit
mendapatkan bahan-bahan kimia. Caranya:
- siapkan wadah yang diisi
air bersih. setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram (NaCl),
diaduk sampai rata;
- ikan yang sakit direndam
dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat ini berbahaya, lamanya
perendaman cukup 5-10 menit saja.
- Setelah itu segera ikan
dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk selanjutnya
dipindahkan kembali ke dalam kolam;
- pengobatan ulang dapat
dilakukan 3-4 hari kemudian dengan cara yang sama.
- Hama
Bagi benih gurame musuh yang paling
utama adalah gangguan dari ikan liar/pemangsa dan beberapa jenis ikan
peliharaan seperti tawes, gurame dan sepat. Musuh lainnya adalah biawak,
katak, ular dan bermacam-macam burung pemangsa.
8. PANEN
- Penangkapan
Pemanenan benih dapat dilakukan
setelah benih berumur 1 bulan. Caranya dengan menyurutkan air sedikit demi
sedikit sementara saluran air masuk diperkecil. Pasanglah jaring lembut di
pintu pengeluaran untuk menampung benih atau bisa juga dengan membuat parit
di tengah kolam menuju ke lubang pengeluaran. Bibit yang terawat baik bisa
mencapai bobot 0,3 gram/ekor pada saat dipanen. Pemanenan hasil pembesaran
ikan gurame sangat tersantung dari ukuran yang diminta konsumen. Umumnya
pemanenan dilakukan setelah ikan berumur 2-3 tahun, ikan yang berumur 2 tahun
mempunyai panjang sekitar 25 cm dan berat 0,3 kg/ekor, sedangkan untuk ikan
yang berumur 3 tahun panjangnya sekitar 35 cm dan berat badan 0,7 kg/ekor.
Untuk ikan berumur 4 tahun panjangnya dapat mencapai 40 cm dan berat 1.5
kg/ekor. Adapun cara penangkapan: air disurutkan sedikit demi sedikit,
penangkapan dilakukan pada pagi hari. Hindari cara penangkapan yang dapat
menyebabkan ikan terluka.
- Pembersihan
Setelah air kolam surut, benih
digiring masuk ke petak kecil. Kemudian diserok dan dimasukkan ke dalam
keranjang panen. Biasanya waktu panen tidak hanya gurame saja yang
tertangkap, sehingga sebelum ikan dimasukkan ke kolam pemberokan, harus
diseleksi dan dibersihkan terlebih dahulu. Pembersihan benih dilakukan selama
1 hari. tujuannya agar ikan tidak mabuk sewaktu diangkut ke pasar. Lamanya
pembersihan disesuaikan dengan besarnya benih.
9. PASCAPANEN
- Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan
lebih mahal harganya bila dijual dalam keadaan hidup. Hal yang perlu
diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan hidup, segar
dan sehat antara lain:
- Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu
rendah sekitar 20 derajat C.
- Waktu
pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
- Jumlah
kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
- Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang
cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan
kesegaran antara lain:
- Penangkapan
harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
- Sebelum
dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
- Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup.
Untuk pengangkutan jarak dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan
keranjang yang dilapisi dengan daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan
jarak jauh digunakan kotak dan seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum
50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm.
- Ikan diletakkan di dalam
wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil
(es curai) dengan perbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi
es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10
cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding
kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak. Sedangkan
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan pascapanen benih adalah
sebagai berikut:
- Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu
bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan
baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba
(sistem terbuka).
- Air yang dipakai media pengangkutan harus
bersih, sehat, bebas hama dan penyakit serta bahan organik lainya.
Sebagai contoh dapat digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.
- Sebelum diangkut benih ikan harus diberok
dahulu selama beberapa hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang
berisi air bersih dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat
dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran
tersebut, bak pemberokan dapat menampung benih ikan mas sejumlah
5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan
harus disesuaikan dengan ukuran benihnya.
- Berdasarkan
lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua
bagian, yaitu:
- Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan
waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat
diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor
benih ukuran 3-5 cm.
- Sistem
tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih
jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong
plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang
diberi buffer Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik:
- masukkan air bersih ke
dalam kantong plastik kemudian benih;
- hilangkan udara dengan
menekan kantong plastik ke permukaan air;
- alirkan oksigen dari
tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan
rongga (air:oksigen=1:2);
- kantong plastik lalu
diikat.
- kantong
plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau
ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan
tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat
tujuan adalah sebagai berikut:
- Siapkan
larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam
10 liter air bersih).
- Buka
kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan
benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2
menit.
- Masukan
benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih ikan
diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan
tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli
dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau
formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah
1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
|