PARAMETER KUALITAS AIR
UNTUK
BUDIDAYA IKAN
Sebagai
parameter untuk pemeliharaan atau budidaya ikan adalah karakteristik fisik dan
kimia air. Karakteristik fisik
dan kimia air ini sangat mendasar dan sangat berpengaruh pada ikan. Adapun karakteristik tersebut meliputi keasaman (pH),
suhu, kekerasan (dH), salinitas, CO2 terlarut, O2
terlarut.
1.
Keasaman (pH)
Nilai
keasaman (pH) merupakan indikasi atau tanda kalau air bersifat asam, basa
(alkali) atau netral. Keasaman
sangat menentukan kualitas air karena juga sangat menentukan proses kimiawi
dalam air. Hubungan keasaman air dengan kehidupan ikan sangat besar. Titik
kematian ikan pada pH asam adalah 4 dan pada pH basa adalah 11. Ikan air tawar
kebanyakan akan hidup baik pada kisaran pH sedikit asam sampai netral, yaitu
6,5 – 7,5. Sementara keasaman air untuk reproduksi atau perkembangbiakan
biasanya akan baik pada pH 6,4-7,0 sesuai jenis ikan. Oleh karena itu, dalam
pemeliharaan ikan sebaiknya kondisi air dijaga agar berada pada kisaran nilai
tersebut.
2. Suhu
Ikan
merupakan hewan berdarah dingin (poikilothermal) sehingga metabolisme dalam
tubuh tergantung pada suhu lingkungannya, termasuk kekebalan tubuhnya. Suhu luar atau eksternal yang berfluktuasi besar akan
berpengaruh pada sistem metabolisme. Konsumsi oksigen dan fisiologi tubuh ikan
akan mengalami kerusakan sehingga ikan akan sakit. Suhu yang terlalu rendah
akan mengurangi imunitas (kekebalan tubuh) ikan, sedangkan suhu yang terlalu
tinggi akan mempercepat ikan terkena infeksi bakteri. Suhu yang optimal untuk
usaha budidaya ikan adalah 220C – 270C.
3.
Kekerasan (dH)
Kekerasan (hardness) disebabkan oleh banyaknya mineral
dalam air yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun
ikatan molekul. Derajat kekerasan air
biasanya dinyatakan dalam odH. Derajat keasaman menggunakan nilai
standar yang dinyatakan oleh kadar Ca++ dan Mg++ dalam
bentuk CaCO3 atau CaO dan MgO dalam satuan mg/liter. Secara umum
pertumbuhan dan perkembangan ikan akan baik pada kekerasan 3O-10O
dH.
4.
Salinitas
Salinitas atau kadar garammerupakan jumlah total material
terlarut dalam air. Umumnya salinitas dihitung dengan satuan ppt (part per
thousand), yaitu gram material terlarut per liter air.
Berdasarkan salinitas, badan air dapat dibedakan dalam
tiga katagori, yaitu air tawar (0-3 ppt), air laut (lebih dari 20 ppt) dan air
payau (4-20 ppt).
Pengukuran salinitas dapat dilakukan dengan menggunakan
alat salinometer atau refraktometer. Dengan cara meneteskan air ke dalam alat
tersebut maka nilai salinitas air yang diteteskan sudah bisa terbaca pada skal
alat.
Pengaruh salinitas pada ikan terjadi dalam proses
osmoregulasi. Ikan air tawar tidak toleran dengan salinitas. Akibat perubahan
fisiologi osmose sel-sel tubuh maka ikan akan mengalami stress. Toleransi
terhadap salinitas oleh ikan dari daerah air payau umumnya tinggi atau lebih
lebar dibanding ikan air tawar atau ikan air laut.
5.
CO2 terlarut
Gas karbondioksida/asam arang merupakan hasil buangan
oleh semua makhluk hidup melalui proses pernafasan. Karbondioksida ini di dalam
air dapat berada dalam bentuk CO2 bebas terlarut dan karbonat
terikat. CO2 dari udara masuk ke dalam air melalui difusi, hasil
fotosintesis tanaman air dan senyawa yang masuk bersama air hujan.
Karbondioksida sangat mudah larut dalam pelarut, termasuk
air. Dalam jumlah atau kadar tertentu, karbondioksida ini dapat merupakan
racun. Ikan mempunyai naluri yang kuat dalam mendeteksi kadar karbondioksida
dan akan berusaha menghindari daerah atau area yang kadar CO2nya
tinggi. Dengan kadar CO2 mencapai lebih dari 10 mg/l sudah bersifat
racun bagi ikan karena ikatan atau kelarutan oksigen dalam darah terhambat.
Tanda visual pada ikan budidaya yang kadar CO2nya tinggi adalah berkumpulnya
ikan dengan kondisi susah bernafas.
6. O2
terlarut
Gas oksigen larut dalam air, tetapi tidak bereaksi dengan
air. Keberadaan oksigen dalam air dibanding di udara sangat berbeda, yaitu jauh
lebih banyak di udara karena mencapai hampir dua puluh kali. Oleh karena itu,
kehidupan di air, termasuk ikan sangat membutuhkan cara atau kreativitas agar
kebutuhan oksigen terpenuhi.
Kebutuhan oksigen untuk setiap jenis ikan sangat berbeda
karena perbedaan sel darahnya. Ikan yang gesit umumnya lebih banyak membutuhkan
oksigen. Sementara ikan labirintisiseperti lele, catfish dan gurame yang dapat
mengambil oksigen langsung dari udara tentunya kadar oksigen dalam air tidak
terlalu berpengaruh pada kehidupannya. Secara teori, kadar oksigen terendah
agar ikan bisa hidup dengan baik adalah lebih dari 5 mg/l.
OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin
DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019
No comments:
Post a Comment