Friday, November 29, 2019


Tips budidaya lobster air tawar






            Budidaya lobster memang perlu di pikir matang-matang. Karena modal yang di perlukan relative besar, untuk itu kami akan memberikan tips budidaya lobster bagi Anda yang akan memulai usaha budidaya lobster. Mari kitak simak tips di bawah ini.

Gunakan indukan besar
Gunakan indukan berukuran fisik besar (bisa menghasilkan +/-500 s/d +/-900 per ekor 1 kali bertelur)sebagai produksi bibit dan untuk mempercepat pertumbuhan bibit ukuran 2Cm beri makanan ekstra berupa cacing sutra, dan berikan cacing tanah untuk mempercepat proses bertelur untuk yang dikawainkan, kemudian perlu Anda ketahui juga pada proses pergantian kulit berarti proses pertumbuhan,(bertambah besar).Terutama pada proses pembesaran di aquarium,oleh karena itu guna merangsang pergantian kulit sesering mungkin seiring dengan seringnya Anda melakukan pergantian air pada aquarium (tiap 3hari atau seMinggu 1kali) tergantung tingkat kekeruhan airnya.
Pengawasan sesering mungkin
Lakukan pengawasan sesering mungkin, untuk menghidari serangan sekelompok Lobster lain terhadap Lobster yang sedang mengalami proses ganti kulit (moulting). Oleh karena pada saat proses moulting, disamping kondisinya yang lemah,pada saat itu juga mengeluarkan cairan zat yang bisa merangsang sifat kanibal dan melakukan penyerangan terhadap lobster yang sedang tidak berdaya. Dan berikan juga pengaman pada tempat (Kolam atau Aquarium) agar Lobster tidak kabur karena sifat pengembaraanya yang tinggi, dan bisa bertahan hidup hingga 8 s/d 12 jam diluar kolam/aquarium.
Makanan tambahan
Berikan makanan tambahan/ekstra, terutama pada malam hari, sekitar Pkl.19.00~21.00 secukupnya, periksa dan berikan makan berupa pelet, bila sudah tidak terdapat sisa makanan yang diberikan pada waktu sore hari. Hal ini dilakukan guna menghinadri saling menyerang diantara sesama Lobster, oleh karena hewan ini mempuyai sifat kanibalisme yang sangat tinggi di samping itu aktivitas kelompok hewan ini meningkat pada malam hari termasuk untuk mencari mangsa. Jenis hewan ini tidak menebar bau anyir/amis seperti jenis udang atau ikan lainnya, jadi budidaya ternak bisa/layak dilakukan dilingkungan rumah/tempat tinggal.
Siapkan kolam untuk pembesaran
Apabila pilihan Budidaya/ternak pembesaran,siapkan kolam untuk pembesaran mulailah dengan skala kecil dengan tujuan untuk menbisakan pengetahuan tetang sifat sifat yang spesifk dari hewan ini yang salah satunya adalah sifat kanibalisme yang tinggi.Agar skala resiko penyusutan pupulasi yang diakibatkan kematian dan kekurang terampilan bisa ditekan sekecil mungkin jika kelak memasuki usaha skla besar. Dan apa bila pengetahuan tersebut sudah dibisa, mulailah dengan prencanaan produksi untuk target panen setiap bulan, untuk melihat ilustrasi perencanaan.


Memperhatikan iklim
Pilihan budidaya ternak pembibitan sama dengan halnya dengan langkah budidaya pembesaran hanya pembibitan lebih sensitif lagi,sebaiknya biarkan s/d usia +/-1.5 bulan baru pindahkan kekolam pembesaran. Hewan ini memang hidup lebih sesuai di iklim tropis dengan suhu udara 24 sampai dengan 30 derajat celcius demikian juga kondisi air, khusus untuk anak yang baru dipisahkan dari induknya (burayak) pergunakan alat atau cairan pengukur Ph air, kemudian apa bila Ph air tidak ideal (Ph air ideal untuk LAT = 7 s/d 9 ) bisa diatasi dengan cara memberikan additive Ph up ataupun Ph Down, guna mempetahankan Ph ideal. Semua perlengkapan untuk mengontrol keadaan Ph air bisa didapat di tempat penjualan accessories ikan hias terdekat.


Pilihan tempat
Rencanakan lokasi penempatan aquarium maupun kolam pemeliharaan pilih yang nuansanya tidak bising karena hewan ini mudah stress oleh hal-2 yang demikian,terutama pada proses perkawinan dan kehamilan kemungkinan telur yang dikandungan akan mudah rontok, sehingga akan menghambat proses pengembang biakan yang diinginkan. Hindari lingkungan hama pemangsa, tikus, kucing, dan sejenis nya,dengan memasang pelindung tutup kawat ayam dan sejenisnya. Ketinggian permukaan air 15 s/d 20 Cm dan supply oksigen yang cukup dengan memasang aerotor/air stone(gelembug-2 udara) dan Filter pump, agar selalu terjadi sirkulasi air yang bersih.




OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

Friday, November 22, 2019

Ternak Ikan Nila Di Kolam Terpal












Ikan nila merupakan salah satu ikan air tawar yang paling banyak di budidayakan. Ikan jenis ini bisa di budidayakan di berbagai habitat seperti di air tawar, payau, dan laut. Karena nila toleran pada salinitas yang luas. Kini, nila bisa juga di budidayakan di kolam terpal yang merupakan salah satu inovasi pengembangan kolam tadah hujan, dan pemanfaatan lahan kritis dan sempit.
Cara ternak ikan nila di kolam terpal
  • Sumber air untuk mengisi kolam terpal
Sumber air bisa memakai air sumur, air PAM, air hujan yang ditampung, dan lain-lain yang layak dipakai. Lebih ideal bila jika kolam terpal mendapat pasokan dari sungai, saluran irigasi, waduk, atau danau.
  • Ketinggian lokasi
Ketinggian lokasi perlu diperhatikan karena terkait dengan suhu air. Untuk budidaya ikan nila, ketinggian yang cocok adaiah 0-500 m dpl.
  • Ukuran ikan
Ukuran yang akan dipelihara perlu dipertimbangkan karena terkait dengan kedalaman air di dalam kolam. Seperti, benih nila cocok dipelihara pada kedalaman air 40-50 cm. Untuk menampung air sedalam 40 cm, cukup dibuat kolam dengan ketinggian atau kedalaman sekitar 60 cm. Untuk usaha pembesaran yang memakai benih ukuran 20-30 g/ekor, dibutuhkan kedalaman air berkisar 80-100 cm. Untuk menampung air sedalam 100 cm, dibutuhkan kolam dengan ketinggian atau kedalaman sekitar 120 cm.

  • Dasar tanah dan kerangka yang dipakai
Dasar tanah untuk peletakan kolam terpal harus rata, begitu pula dengan kerangka yang dipakai hendaknya tidak berbahan tajam karena bisa membuat terpal sobek. Bila tanah tidak rata, sebaiknya diberi lapisan dan pelepah batang pisang atau sekam padi. Selain berfungsi meratakan tanah, kedua bahan ini bisa menstabilisasi suhu.
  • Peralatan Pendukung
Dalam pengelolaan kualitas air di kolam terpal, dibutuhkan beberapa peralatan, baik untuk menjaga ketersediaan air maupun untuk memelihara kualitas air. Beberapa peralatan yg perlu disediakan adalah Aerator atau blower  yg hanya dibutuhkan sewaktu-waktu untuk meningkatkan kandungan oksigen, Pompa, selang atau pipa yang dipakai untuk mengalirkan air dari sumber air ke kolam terpal ataupun untuk membersihkan dasar kolam dengan cara melakukan sifon
Jenis kolam terpal
Berdasarkan bahan dan cara membuatnya, terutama dinding atau kerangka kolam maka dikenal adanya beberapa jenis kolam terpal, antara lain:
  • Kolam terpal dengan kerangka bambu, kayu, pipa ledeng, atau besi.
  • Kolam terpal dengan dinding batako atau batu bata.
  • Kolam terpal dengan dinding tanah.
  • Kolam beton atau kolam tanah berlapis terpal.
Keunggulan kolam terpal
Keunggulan dari kolam terpal adalah bisa diterapkan (dibangun) di berbagai tempat, tidak harus di lahan yang ideal sebagaimana pembangunan kolam konvensional. Kolam terpal juga mudah dibersihkan dan dipindahkan. Membudidayakan  ikan dikolam terpal, padat penebarannya bisa ditingkatkan, sintasan atau kelangsungan hidup (survival rate) lebih tinggi, pertumbuhan ikan bisa dipacu, dan ikan hasil panen tidak berbau lumpur. Selain itu itu, pembuatan dan pemeliharaan ikan di kolam terpal juga lebih mudah (secara teknis) dan lebih murah (secara finansial). Karena keunggulan itulah maka budidaya ikan di kolam terpal ini berkembang pesat, termasuk untuk pemeliharaan ikan nila.
Keunggulan kolam terpal ini merupakan salah satu peluang yang baik bagi pengembangan budidaya nila. Kolam terpal bisa diterapkan untuk pembenihan nila, pendederan, dan pembesaran untuk menghasilkan nila konsumsi dan induk.



OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN

2019

Thursday, November 14, 2019


DIAGNOSA PENYAKIT
 PADA IKAN AIR TAWAR

Dalam dunia budidaya ikan diagnosa terhadap jenis penyakit sangatlah penting. Diagnosa penyakit adalah pemeriksaan secara cermat  terhadap ikan yang terkena penyakit, mengingat ciri luar yang terlihat belum cukup untuk membuat kesimpulan yang pasti tentang kondisi ikan, jenis penyakit dan penyebabnya. Diagnosis terhadap ikan yang terkena penyakit sangat penting untuk kesuksesan langkah pengobatan selanjutnya. Sehingga dengan diagnosa yang tepat diharapkan ikan yang terserang penyakit segera ditemukan alternatif pengobatannya.
Pada saat mendiagnosa penyakit ikan, ciri-ciri penyerangan suatu jenis penyakit harus diketahui karena setiap penyakit ikan  biasanya memperlihatkan tanda-tanda yang berbeda.
Berikut ini adalah cara mendiagnosa penyakit ikan dengan mengamati ciri-cirinya dan tingkah laku ikan :
1.      Kelainan pada tulang belakang (bengkok), scoliosis dan lordosis
Diagnosa :
-          Keturunan
-          Myxosoma cerebralis
-          Infeksi bakteri/virus
-          Kekurangan vitamin

2.      Kelainan pada rahang atas atau bawah
Diagnosa :
-          Myxosoma cerebralis
-          Kelainan kelenjar tiroid

3.      Rontok sirip
Diagnosa :
-          Infeksi bakteri Flexibacter sp
-          Parasit Costia sp
-          Sifat air terlalu basa
-          Parasit Gyrodactylus
4.      Perut gembung (dropsy)
Diagnosa :
-          Bacterial hemorrhagic septicaemia (BHS)
-          Viral hemorrhagic septicaemia (VHS)
5.      Ikan menjadi kurus
Diagnosa :
-          Tuberkulosis
-          Penyakit cacing
-          Penyakit Octomitus sp
6.      Sisik kasar
Diagnosa :
-          Infeksi bakteri
-          Air terlalu asam
7.      Mata menonjol
Diagnosa :
-          Tuberkulosis
-          Infeksi cacing
-          Infeksi virus
8.      Mata masuk ke dalam
Diagnosis :
-          Infeksi bakteri
-          Infeksi trypanoplasma (Cryptobia)

9.      Serabut seperti kapas pada kulit
Diagnosa :
-          Penyakit jamur Saprolegnia sp
10.   Perdarahan (hemorrhage)
Diagnosa :
-          Serangan Argulus sp
-          Infeksi bakteri
-          Infeksi Trichodina sp
-          Gigitan lintah
11.   Kulit terasa kasar dan bintik hitam
Diagnosa :
-          Ichthyosporodium
12.   Insang pucat (anemia)
Diagnosa :
-          Infeksi bakteri
-          Infeksi virus
13.   Insang rontok
Diagnosa :
-          Bakteri Flexibacter sp
-          Myxobacteria
-          Parasit Dactylogyrus sp
14.   Bintik putih kemerahan
Diagnosa :
-          Myxobolus sp
15.   Frekwensi pernafasan bertambah
Diagnosa :
-          Myxobacteria
-          Flexibacter sp
-          Parasit Dactylogyrus sp





OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

Wednesday, November 6, 2019


PARAMETER KUALITAS AIR
UNTUK BUDIDAYA IKAN

Sebagai parameter untuk pemeliharaan atau budidaya ikan adalah karakteristik fisik dan kimia air. Karakteristik fisik dan kimia air ini sangat mendasar dan sangat berpengaruh pada ikan. Adapun karakteristik tersebut meliputi keasaman (pH), suhu, kekerasan (dH), salinitas, CO­2 terlarut, O2 terlarut.
1. Keasaman (pH)
Nilai keasaman (pH) merupakan indikasi atau tanda kalau air bersifat asam, basa (alkali) atau netral. Keasaman sangat menentukan kualitas air karena juga sangat menentukan proses kimiawi dalam air. Hubungan keasaman air dengan kehidupan ikan sangat besar. Titik kematian ikan pada pH asam adalah 4 dan pada pH basa adalah 11. Ikan air tawar kebanyakan akan hidup baik pada kisaran pH sedikit asam sampai netral, yaitu 6,5 – 7,5. Sementara keasaman air untuk reproduksi atau perkembangbiakan biasanya akan baik pada pH 6,4-7,0 sesuai jenis ikan. Oleh karena itu, dalam pemeliharaan ikan sebaiknya kondisi air dijaga agar berada pada kisaran nilai tersebut.
2. Suhu
Ikan merupakan hewan berdarah dingin (poikilothermal) sehingga metabolisme dalam tubuh tergantung pada suhu lingkungannya, termasuk kekebalan tubuhnya. Suhu luar atau eksternal yang berfluktuasi besar akan berpengaruh pada sistem metabolisme. Konsumsi oksigen dan fisiologi tubuh ikan akan mengalami kerusakan sehingga ikan akan sakit. Suhu yang terlalu rendah akan mengurangi imunitas (kekebalan tubuh) ikan, sedangkan suhu yang terlalu tinggi akan mempercepat ikan terkena infeksi bakteri. Suhu yang optimal untuk usaha budidaya ikan adalah 220C – 270C.


3. Kekerasan (dH)
Kekerasan (hardness) disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan molekul.  Derajat kekerasan air biasanya dinyatakan dalam odH. Derajat keasaman menggunakan nilai standar yang dinyatakan oleh kadar Ca++ dan Mg++ dalam bentuk CaCO3 atau CaO dan MgO dalam satuan mg/liter. Secara umum pertumbuhan dan perkembangan ikan akan baik pada kekerasan 3O-10O dH.
4. Salinitas
Salinitas atau kadar garammerupakan jumlah total material terlarut dalam air. Umumnya salinitas dihitung dengan satuan ppt (part per thousand), yaitu gram material terlarut per liter air.
Berdasarkan salinitas, badan air dapat dibedakan dalam tiga katagori, yaitu air tawar (0-3 ppt), air laut (lebih dari 20 ppt) dan air payau (4-20 ppt).
Pengukuran salinitas dapat dilakukan dengan menggunakan alat salinometer atau refraktometer. Dengan cara meneteskan air ke dalam alat tersebut maka nilai salinitas air yang diteteskan sudah bisa terbaca pada skal alat.
Pengaruh salinitas pada ikan terjadi dalam proses osmoregulasi. Ikan air tawar tidak toleran dengan salinitas. Akibat perubahan fisiologi osmose sel-sel tubuh maka ikan akan mengalami stress. Toleransi terhadap salinitas oleh ikan dari daerah air payau umumnya tinggi atau lebih lebar dibanding ikan air tawar atau ikan air laut.
5. CO2 terlarut
Gas karbondioksida/asam arang merupakan hasil buangan oleh semua makhluk hidup melalui proses pernafasan. Karbondioksida ini di dalam air dapat berada dalam bentuk CO2 bebas terlarut dan karbonat terikat. CO2 dari udara masuk ke dalam air melalui difusi, hasil fotosintesis tanaman air dan senyawa yang masuk bersama air hujan.
Karbondioksida sangat mudah larut dalam pelarut, termasuk air. Dalam jumlah atau kadar tertentu, karbondioksida ini dapat merupakan racun. Ikan mempunyai naluri yang kuat dalam mendeteksi kadar karbondioksida dan akan berusaha menghindari daerah atau area yang kadar CO2nya tinggi. Dengan kadar CO2 mencapai lebih dari 10 mg/l sudah bersifat racun bagi ikan karena ikatan atau kelarutan oksigen dalam darah terhambat. Tanda visual pada ikan budidaya yang kadar CO2nya tinggi adalah berkumpulnya ikan dengan kondisi susah bernafas.
6. O2 terlarut
Gas oksigen larut dalam air, tetapi tidak bereaksi dengan air. Keberadaan oksigen dalam air dibanding di udara sangat berbeda, yaitu jauh lebih banyak di udara karena mencapai hampir dua puluh kali. Oleh karena itu, kehidupan di air, termasuk ikan sangat membutuhkan cara atau kreativitas agar kebutuhan oksigen terpenuhi.
Kebutuhan oksigen untuk setiap jenis ikan sangat berbeda karena perbedaan sel darahnya. Ikan yang gesit umumnya lebih banyak membutuhkan oksigen. Sementara ikan labirintisiseperti lele, catfish dan gurame yang dapat mengambil oksigen langsung dari udara tentunya kadar oksigen dalam air tidak terlalu berpengaruh pada kehidupannya. Secara teori, kadar oksigen terendah agar ikan bisa hidup dengan baik adalah lebih dari 5 mg/l.





OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

Saturday, November 2, 2019


PENYAKIT NON-INFEKSI
PADA IKAN LELE

Ikan lele dapat terserang oleh penyakit non-infeksi. Penyakit ini disebabkan oleh kesalahan lingkungan atau kesalahan nutrisi. Pemicu terjadinya penyakit non-infeksi atau nonparasiter diantaranya adanya gas-gas beracun (amonia) akibat penumpukan sisa-sisa kotoran (feses) dan pakan pada dasar kolam, kekurangan oksigen dalam air, derajat keasaman (pH) yang terlalu rendah, perubahan suhu yang mendadak, kekurangan vitamin dan mineral, komposisi gizi pakan yang buruk, serta pakan yang telah membusuk dan mengandung kuman. Adapun jenis-jenis penyakit non-infeksi yang sering menyerang ikan lele adalah sebagai berikut :
1.      Penyakit Kuning (Jaundice)
Penyebab :
Biasanya penyakit ini muncul jika ikan tidak diberi pakan yang cukup, pakan kadaluarsa atau pakan disimpan ditempat lembab. Beberapa literatur dan penelitian menunjukan bahwa lele yang diberi pakan campuran jeroan ayam dan secara penuh diberi pakan tersebut banyak yang menunjukan gejala jaundice.
Gejala :
Penyakit ini ditandai dengan perubahan warna tubuh ikan menjadi kuning dan diikuti dengan kematian. Selain terlihat pada bagian tubuh bagian luar, warna kuning juga terlihat pada organ dalam seperti hati, ginjal dan usus ikan saat ikan tersebut dibedah.
Pencegahan :
Cara mengatasi penyakit ini adalah dengan menghindari pemberian pakan berupa ikan rucah dan jeroan ayam secara penuh dan kontinyu. Penggunaan pellet yang masih baru dan berkualitas sangat dianjurkan. Selain itu, dilakukan penggantian air kolam yang terus diulang.
2.      Penyakit yang disebabkan oleh pemberian pakan yang berlebihan
Pemberian pakan yang berlebihan dapat menyebabkan ikan mudah terserang penyakit. Selain itu, akan terjadi penurunan kualitas air pada kolam.
Gejala :
Pembeian pakan yang berlebihan ini akan mempengaruhi wabah gejala pecahnya usus yang dikenal dengan RIS (Reptured Intestine Syndrom) pada berbagai jenis ikan rakus, seperti ikan lele. Usus ikan yang kenyang berlebihan akan mudah pecah. Pada ikan lele muda, bagian usus yang mudah pecah, yaitu usus belakang atau usus tengah. Selanjutnya, akan menimbulkan radang pada dinding perut yang menyebabkan luka yang berasal dari dalam pecahnya dinding bagian ventral.
Pencegahan :
Cara mengatasi penyakit dengan memberikan pakan secara tepat. Pemberian pellet mengacu pada berat tubuh ikan. Selain itu, penggantian air kolam dilakukan secara berkala agar sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang menumpuk di dasar kolam.
3.      Penyakit yang disebabkan kekurangan vitamin C
Vitamin merupakan bahan organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, tetapi sangat penting. Vitamin diperlukan selama pertumbuhan dan pada waktu reproduksi (pemijahan). Jika kekurangan vitamin, akan menyebabkan ikan sakit atau avitaminosis. Vitamin C khususnya, sangat aktif dalam beberapa sistem dan merupakan vitamin terpenting untuk perkembangan kolagen dan tulang rawan.
Gejala :
Tubuh ikan menjadi bengkok dan tulang kepala lele yang retak-retak, pendarahan di kulit, mata, ginjal, usus dan mulut.
Pengobatan :
Penanggulangan penyakit tersebut adalah dengan cara menambahkan vitamin C dengan dosis 1 g/kg pakan selama 5-7 hari.
4.      Penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan
Penyebab :
Penumpukan sisa pakan dan kotoran ikan di dasar kolam akan memicu pertumbuhan bakteri patogen dan plankton. Padahal, kepadatan plankton yang terlalu tinggi akan menyebabkan fluktuasi pH harian yang tinggi. Faktor lingkungan lainnya adalah fluktuasi suhu harian antara siang dan malam yang cukup tinggi, terutama pada musim hujan. Perubahan lingkungan yang ekstrim tersebut akan menyebabkan ikan strees dan membutuhkan lebih banyak energi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
Gejala :
Lele yang mengalami gangguan akibat faktor lingkungan, seperti kelebihan sisa pakan, bahan kimia industri dan pestisida dari lahan Perikanan biasanya berenang lebih cepat dibandingkan saat normal. Tanda lain adalah lele berkumpul pada saluran pemasukan air atau mengambang pada permukaan air. Jika kondisinya lebih buruk, permukaan tubuh ikan menjadi pucat, insang membengkak, sungut melipat dan sirop geripis.
Pengobatan :
Penanggulangannya dengan pergantian air sebanyak 20 % setiap dua hari sekali sampai kesehatan lele membaik dan sehat.





OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019