TEKNIK PEMBENIHAN IKAN GURAMI
Pendahuluan
Ikan gurami merupakan salah satu ikan yang mempunyai
nilai ekonomis penting yang merupakan ikan asli perairan Indonesia yang
sudah menyebar ke wilayah Asia Tenggara dan Cina. Merupakan salah satu ikan
labirinth dan secara taksonomi termasuk famili Osphronemidae. Ikan gurami adalah salah satu komoditas yang banyak
dikembangkan oleh para petani. Hal ini dikarenakan permintaan pasar cukup
tinggi, pemeliharaan mudah serta harga yang relatif stabil.
Secara
morfologi, ikan ini memiliki garis lateral tunggal,lengkap dan tidak terputus,
bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah. Sirip ekor membulat.
Jari-jari lemah pertama sirip perut merupakan benang panjang yang berfungsi
sebagai alat peraba.
Tahap-tahap
pembenihan meliputi :
A. Pemijahan
Ikan
gurami dapat memijah sepanjang tahun, namun produktivitasnya lebih tinggi
terutama pada musim kemarau. Adapun hal yang perlu diperhatikan untuk pemijahan
ini adalah padat tebar induk, tata letak sarang, panen telur dan kualitas air
media pemijahan. Induk jantan ditandai dengan adanya benjolan di kepala bagian
atas, rahang bawah yang tebal terutama pada saat musim pemijahan dan tidak
adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Sedangkan induk betina ditandai
dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawah tipis dan adanya bintik
hitam pada kelopak sirip dada. Ikan
gurami memiliki daging yang tebal dan rasa yang khas. Padat tebar induk adalah 1
ekor/5m2 dengan perbandingan jumlah jantan : betina adalah 1:3 atau
1:4. Penebaran induk di kolam pemijahan dapat dilakukan secara
berpasangan(sesuai perbandingan) pada kolam yang disekat ataupun secara komunal
(satu kolam diisi beberapa pasangan). Induk betina dapat memproduksi telur
1.500 sampai dengan 2.500 butir/kg induk. Sarang diletakan 1 s/d 2 m dari tempat
bahan sarang dengan kedalaman 10 s/d 15 cm dari permukaan air. Sarang dipasang
mendatar sejajar dengan permukaan air dan menghadap ke arah tempat bahan
sarang. Tempat bahan sarang diletakan di permukaan air dapat berupa anyaman
kasar dari bambu atau bahan lainnya diatur sedemikian rupa sehingga induk ikan
mudah mengambil sabut kelapa/ijuk untuk membuat sarang. Pembuatan sarang dapat
berlangsung selama 1 sampai dengan 2 minggu bergantung pada kondisi induk dan
lingkungannya. Pemeriksaan sarang yang sudah
berisi telur
dapat dilakukan dengan
cara meraba, dan menggoyangkan sarang
secara perlahan atau dengan menusuk sarang menggunakan lidi/kawat
dan menggonyangkannya.
Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak/telur dari
sarang ke permukaan air. Sarang
yang sudah berisi telur di angkat. Telur dipisahkan dari sarang dengan cara
membuka sarang dengan hati-hati. Karenamengadung minyak, telur akan mengambang
di permukaan air. Telur yang baik berwana kuning bening sedangkan telur berwana
kuning keruh dipisahkan dan dibuang karena telur yang demikian tidak akan
menetas. Minyak yang timbul dapat dikurangi dengan cara diserap memakai kain.
Kualitas media pemijahan yang baik adalah suhu 25 s/d 30 C. Nilai PH 6,5 s/d
8,0, laju pergantian air 10 s/d 15 % perhari dan ketinggian air kolam 40 s/d 60
cm.
B.
Penetasan Telur
Padat
tebar telur 4 s/d 5 butir/cm2 dengan ketinggian air 15 s/d 20 cm. Kepadatan dihitung
per satuan luas permukaan wadah sesuai
dengan sifat telur yang mengembang. Untuk
mempertahankan kandungan oksigen terlarut,
di dalam media penetasan perlu ditambahkan aerasi kecil, tetapi harus dijaga agar telur tidak teraduk.
Kualitas air media penetasan yang baik adalah suhu 29 s/d 30 0 C, nilai pH 6,7 s/d 8,6
dan bersumber dari air tanah. Bila air sumber mengandung karbondioksida tinggi,
nilai pH rendah atau mengandung bahan logam (misalnya besi), sebaiknya air
diendapkan dulu selama 24 jam. Telur akan menetas setelah 36 s/d 48 jam.
C. Pemeliharaan Larva
Setelah
telur menetas, larva dapat terus dipelihara di corong penetasan/waskom sampai umur 6 hari kemudian dipindahkan ke
akuarium. Bila penetasan
dilakukan di akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama
pemeliharaan larva, penggantian air hanya perlu dilakukan untuk membuang minyak
bila minyak yang dihasilkan ketika penetasan cukup banyak. Sedangkan bila larva
sudah diberi makan, penggantian air dapat disesuaikan dengan kondisi air yaitu
bila sudah banyak kotoran dari sisa pakan dan Faeces .
Pemeliharaan larva di akuarium dilakukan dengan
padat tebar 15 s/d 20 ekor/liter. Pakan mulai dilakukan pada saat larva berumur
5 s/d 6 hari berupa cacing Tubifex, Artenia, Moina atau Daphnia yang
disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Kualitas air sebaiknya dipertahankan pada
tingkat suhu 29 s/d 30 0C, nilai pH 6,5 s/d 8,0 dan ketinggian air
15 s/d 20 cm.
OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin
DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019



