Wednesday, August 28, 2019

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN GURAMI










Pendahuluan
Ikan gurami merupakan salah satu ikan yang mempunyai nilai ekonomis penting yang  merupakan ikan asli perairan Indonesia yang sudah menyebar ke wilayah Asia Tenggara dan Cina. Merupakan salah satu ikan labirinth dan secara taksonomi termasuk famili Osphronemidae. Ikan gurami adalah salah satu komoditas yang banyak dikembangkan oleh para petani. Hal ini dikarenakan permintaan pasar cukup tinggi, pemeliharaan mudah serta harga yang relatif stabil.
Secara morfologi, ikan ini memiliki garis lateral tunggal,lengkap dan tidak terputus, bersisik stenoid serta memiliki gigi pada rahang bawah. Sirip ekor membulat. Jari-jari lemah pertama sirip perut merupakan benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba.
Tahap-tahap pembenihan meliputi :
A.    Pemijahan
Ikan gurami dapat memijah sepanjang tahun, namun produktivitasnya lebih tinggi terutama pada musim kemarau. Adapun hal yang perlu diperhatikan untuk pemijahan ini adalah padat tebar induk, tata letak sarang, panen telur dan kualitas air media pemijahan. Induk jantan ditandai dengan adanya benjolan di kepala bagian atas, rahang bawah yang tebal terutama pada saat musim pemijahan dan tidak adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Sedangkan induk betina ditandai dengan bentuk kepala bagian atas datar, rahang bawah tipis dan adanya bintik hitam pada kelopak sirip dada. Ikan gurami memiliki daging yang tebal dan rasa yang khas. Padat tebar induk adalah 1 ekor/5m2 dengan perbandingan jumlah jantan : betina adalah 1:3 atau 1:4. Penebaran induk di kolam pemijahan dapat dilakukan secara berpasangan(sesuai perbandingan) pada kolam yang disekat ataupun secara komunal (satu kolam diisi beberapa pasangan). Induk betina dapat memproduksi telur 1.500 sampai dengan 2.500 butir/kg induk. Sarang diletakan 1 s/d 2 m dari tempat bahan sarang dengan kedalaman 10 s/d 15 cm dari permukaan air. Sarang dipasang mendatar sejajar dengan permukaan air dan menghadap ke arah tempat bahan sarang. Tempat bahan sarang diletakan di permukaan air dapat berupa anyaman kasar dari bambu atau bahan lainnya diatur sedemikian rupa sehingga induk ikan mudah mengambil sabut kelapa/ijuk untuk membuat sarang. Pembuatan sarang dapat berlangsung selama 1 sampai dengan 2 minggu bergantung pada kondisi induk dan lingkungannya. Pemeriksaan sarang yang sudah berisi telur dapat dilakukan  dengan cara meraba, dan menggoyangkan  sarang secara perlahan atau dengan menusuk sarang menggunakan lidi/kawat
dan menggonyangkannya. Sarang yang sudah berisi telur ditandai dengan keluarnya minyak/telur dari sarang ke permukaan air. Sarang yang sudah berisi telur di angkat. Telur dipisahkan dari sarang dengan cara membuka sarang dengan hati-hati. Karenamengadung minyak, telur akan mengambang di permukaan air. Telur yang baik berwana kuning bening sedangkan telur berwana kuning keruh dipisahkan dan dibuang karena telur yang demikian tidak akan menetas. Minyak yang timbul dapat dikurangi dengan cara diserap memakai kain. Kualitas media pemijahan yang baik adalah suhu 25 s/d 30 C. Nilai PH 6,5 s/d 8,0, laju pergantian air 10 s/d 15 % perhari dan ketinggian air kolam 40 s/d 60 cm.
B. Penetasan Telur
Padat tebar telur 4 s/d 5 butir/cm2 dengan ketinggian air 15 s/d 20 cm. Kepadatan  dihitung per satuan  luas permukaan wadah sesuai dengan sifat telur yang mengembang.  Untuk mempertahankan kandungan oksigen terlarut,  di dalam media penetasan perlu ditambahkan aerasi kecil, tetapi  harus dijaga agar telur tidak teraduk. Kualitas air media penetasan yang baik adalah suhu  29 s/d 30 0 C, nilai pH 6,7 s/d 8,6 dan bersumber dari air tanah. Bila air sumber mengandung karbondioksida tinggi, nilai pH rendah atau mengandung bahan logam (misalnya besi), sebaiknya air diendapkan dulu selama 24 jam. Telur akan menetas setelah 36 s/d 48 jam.

C. Pemeliharaan Larva
Setelah telur menetas, larva dapat terus dipelihara di corong penetasan/waskom  sampai umur 6 hari kemudian dipindahkan ke akuarium. Bila penetasan dilakukan di akuarium, pemindahan larva tidak perlu dilakukan. Selama pemeliharaan larva, penggantian air hanya perlu dilakukan untuk membuang minyak bila minyak yang dihasilkan ketika penetasan cukup banyak. Sedangkan bila larva sudah diberi makan, penggantian air dapat disesuaikan dengan kondisi air yaitu bila sudah banyak kotoran dari sisa pakan dan Faeces .
Pemeliharaan larva di akuarium dilakukan dengan padat tebar 15 s/d 20 ekor/liter. Pakan mulai dilakukan pada saat larva berumur 5 s/d 6 hari berupa cacing Tubifex, Artenia, Moina atau Daphnia yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Kualitas air sebaiknya dipertahankan pada tingkat suhu 29 s/d 30 0C, nilai pH 6,5 s/d 8,0 dan ketinggian air 15 s/d 20 cm.



OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN

2019

Friday, August 23, 2019





TEKNIK BUDIDAYA CACING SUTRA
(TUBIFEK)












Cacing sutra/tubifek merupakan salah satu jenis pakan alternatif bagi ikan lele ukuran bibit. Cacing tubifek dikenal juga dengan sebutan cacing rambut. Tubuhnya berukuran kecil, ramping, bulat dan terdiri atas 30-60 segmen. Tubuh cacing tubifek terdiri dari dua lapis otot yang membujur dan melingkar sepanjang tubuhnya. Panjangnya antara 10-30 mm dengan warna tubuh kemerah-merahan. Spesies ini mempunyai saluran pencernaan berupa celah kecil mulai dari mulut sampai anus.
Cacing tubifek biasanya hidup di saluran air yang jernih dan sedikit mengalir dengan dasar perairan mengandung banyak bahan organik yang dijadikan makanannya. Cacing ini hidup berkoloni, bagian ekornya berada di permukaan dan berfungsi sebagai alat bernafas dengan cara difusi langsung dari udara.
Sebagaimana cacing lain,spesies ini merupakan jenis hermaprodit dan berkembang biak dengan cara bertelur dari betina yang telah matang telur. Telur cacing tubifek terjadi dalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk blat dan dibentuk oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur yang ada dalam kokon mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari, embrio cacing akan keluar dari kokon.
Budidaya cacing tubifek dapat dilakukan di parit beton atau pada kolam. Kolam yang digunakan bisa berukuran kecil atau besar yang diberi petakan papan di dalmnya.

  1. Cara Budidaya Di Parit
Wadah untuk membudidayakan cacing tubifek adalah parit beton atau kotak kayu dengan lebar 50 cm panjang 5-10 m, lebar 50 cm dan tinggi 20-30 cm, yang telah dilapisi plastik. Media budidaya yang digunakan berupa campuran kotoran ayam segar dan lumpur kolam dengan perbandingan 1 : 1. media ini diratakan di dasar parit dengan ketebalan 5 cm dan selanjutnya diairi dengan debet 900 per menit.
Sehari setelah media diairi air, bibit cacing tubifek ditebarkan sebanyak 2 g untuk setiap meter persegi media. Untuk menjaga keberadaan pakan cacing, setiap minggu sekali dilakukan pemupukan dgn kotoran ayam yg diberikan untuk pemupukan ulang sebanyak 9 % dari jumlah kotoran ayam awal.
Setelah 2 bulan pemeliharaan, cacing sudah dapat dipanen. Selanjutnya panen dilakukan setiap 2 minggu sekali. Cara memanennya, cacing diambil secara acak pada populasi yang padat dgn bantuan serokan kemudian dimasukan ke ember yg sdh diberi air. Cacing yang diambil biasanya masih kotor karena media pemeliharaan ikut terbawa. Agar cacing keluar dari medianya, permukaan ember ditutup selama 6 jam. Biasanya setelah 6 jam cacing akan naik ke permukaan air. Cacing yang bergerombol di permukan ini selanjutnya diambil dengan tangan.

  1. Cara Budidaya Di Kolam
Pada prinsipnya, budidaya cacing tubifek  di kolam sama dengan budidaya di parit. Untuk itu, kolam dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tercipta suasana seperti parit tempat budidaya cacing. Untuk keperluan ini bisa digunakan papan-papan kayu yang dibuat berbentuk kubus dgn ukuran sekitar (1x1)m. Pada dua sudut kotak yang berseberangan secara diagonal dibuat coakan yang berfungsi sebagai inlet dan outlet.
Kotak-kotak ini ditanam sebagian di dasar kolam dengan bagian yang menonjol ke permukaan sekitar 10 cm. Karena  posisi coakan sebagai inlet dan outlet maka coakan ini sebaiknya terletak di bagian yang tidak ditanam. Bagian tanah di dalam kotak digemburkan dengan dicangkul selanjutnya dipupuk. Pupuk yang digunakan berupa pupuk kandang yang telah bersih dari bahan-bahan lain dan dihaluskan. Pupuk ini dicampurkan dengan tanah dalam kotak secara merata. Setelah proses pemupukan selesai, kolam diisi air dengan ketinggian sekitar 5 cm. biarkan selama 3-4 hari untuk proses pembusukan.
Aliran air ke dalam kolam dikontrol dan diusahakan debet air yang mengalir ke dalam kolam dan masing-masing kotak relatif kecil. Bibit cacing dapat ditanam dengan membuat lubang di tanah kemudian bibit tersebut dimasukan ke dalam lubang tersebut. Selama masa pemeliharaan, aliran air harus dikontrol dan jangan sampai kolam kekeringan. Panen dilakukan dengan mengambil cacing menggunakan cangkul kecil secara acak pada populasi yang padat.



OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

Wednesday, August 21, 2019


TEKNIK PEMBESARAN IKAN BAWAL













Ikan bawal diintroduksi ke Indonesia oleh PT. Cipta Mina Sentosa, Jakarta pada tahun 1986. Pada mulanya, ikan bawal dikenal masyarakat sebagai ikan hias dan diperdagangkan di pasar-pasar tradisional ataupun pusat-pusat penjualan ikan hias.
Ikan bawal berasal dari Amerika Selatan. Ikan ini hidup dan berkembang di Venezuela, Colombia, Peru, Ekuador, Brasil dan Argentina terutama di lembah sungai orinoco dan Amazone sampai daerah aliran sungai Rio De La Plata.
Dalam klasifikasi, ikan bawal termasuk dalam keluarga kelas Ostrichthyes, ordo Characiformis, famili Characidae dan genus Colossoma. Warna tubuh abu-abu tua. Bentuk tubuh tegak agak bulat,sisik berwarna perak dan pada kedua sisi tubuhnya terdapat bercak hitam. Tubuh bagian ventral dan sekitar sirip dada pada ikan bawal muda berwarna merah. Warna ini akan memudar sejalan dengan pertambahan umur dan perkembangan fisik. Ikan ini mempunyai bibir bawah menonjol dan memiliki gigi-gigi besar serta tajam.

Ikan Bawal mempunyai beberapa keistimewaan, antara lain :
-                      a. Pertumbuhannya cukup cepat
-      Nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segala (omnivora) yang condong lebih banyak makan dedaunan
-      Ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik
b.      Rasa dagingnya cukup enak

Langkah-langkah Pembesaran Ikan Bawal
  1. Persiapan kolam
-          tanah dikeringkan selama beberapa hari
-          kolam diberi kapur sebanyak 2 kg/100m2
-          diberi pupuk kandang sebanyak 40 kg/100 m2



  1. Pengairan
Kolam diisi air sedalam 10 cm. kolam dibiarkan tergenang air selama 3-5 hari. Kemudian kolam diisi air lagi hingga kedalaman 50 cm dan dibiarkan lagi selama 1-2 hari.

  1. Seleksi dan Penebaran benih
Benih ikan bawal ditebarkan pada hari ke 5 hingga ke 7 sejak pengairan (pengisian) pertama. Waktu penebaran yang paling baik adalah pada pagi hari saat suhu air masih rendah. Benih ikan yang ditebarkan harus sehat dan seragam.
Adapun ciri benih yang baik adalah :
-          sehat
-          anggota tubuh lengkap
-          aktif bergerak
-          ukuran seragam
-          tidak cacat


Penebaran ikan ke kolam pembesaran perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu agar benih tersebut cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
Padat penebaran benih pada kolam untuk pembesaran adalah 20-25 ekor/m2.

  1. Pengelolaan pakan
Satu hari setelah ditebarkan ke kolam pembesaran , benih ikan diberi pakan. Ikan bawal bisa diberi pakan buatan. Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditebarkan meerata pada permukaan kolam. Frekwensi pemberian pakan 2-3 kali sehari. Jumlah pakan yang diberikan dibatasi maksimal 3 % dari prakiraan berat total ikan.
Pakan lain yang diberikan dalam pembesaran ikan adalah daun-daunan. Pakan ini mulai diberikan pada hari ke 10 sejak penebaran. Jenis daun-daunan untuk pakan ikan bawal adalah daun pepaya, daun talas, daun kol, daun sawi dll. Pakan ini bisa diberikan setiap hari atau 2-3 hari sekali. Daun dan tangkai yang tidak dimakan ikan segera diambil dan dibuang bersamaan dengan pemberian pakan sejenis pada hari berikutnya.

  1. Pengamatan kesehatan dan pertumbuhan
Pengamatan pertumbuhan ikan dilakukan setiap bulan sekali. Pengamatan ini dilakukan untuk menentukan persentase(jumlah) pakan buatan yang harus diberikan sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan ikan sekaligus memeriksa gejala-gejala yang menunjukan kelainan kondisi ikan dari keadaan normal dan sehat. Jika hasil pemeriksaan menunjukan adanya gejala penyimpangan maka segera dilakukan pemeriksaan kualitas air.




OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

Friday, August 16, 2019


PEMBENIHAN LELE DUMBO









Saat ini, Ikan Lele Dumbo merupakan ikan air tawar yang menjadi pilihan bisnis yang menjanjikan. Hal ini disebabkan karena Lele Dumbo mempunyai kelebihan dibandingkan ikan air tawar lainnya. Diantara kelebihan Lele Dumbo adalah mudah dipelihara dalam lahan yang terbatas, periode budidaya yang singkat, tahan terhadap penyakit dan harganya yang stabil di pasaran.
Untuk bisa menjamin berlangsungnya budidaya Lele Dumbo, diperlukan ketersediaan bibit Lele Dumbo secara kontinyu. Oleh karena itu perlu adanya petani yang berusaha di bidang Pembenihan Lele Dumbo.
Tahapan dalam pembenihan Lele Dumbo meliputi :

1.            Menyiapkan Media Pemijahan
a.       Menyiapkan bak pemijahan
Bak yang digunakan cukup dengan ukuran 2x3 m dengan dalam bak 1 m. bak dicuci dengan larutan permanganat dosis 1 sendok the dicampur dengan 3 liter air atau 5 gr / m3 air.
b.      Menyiapkan kakaban, terbuat dari ijuk yang dibingkai dengan bambu
c.       Menyiapkan air pemijahan, bak pemijahan diisi dengan air setinggi 40 cm.

2.            Menyiapkan Induk Lele
a.       Merawat induk lele, Induk lele yang akan dipijahkan harus diberi pakan yang baik agar dapat menghasilkan benih yang baik. Induk lele setiap hari diberi pakan daging bekicot atau ikan rucah. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore dengan dosis 10% dari berat badan. Bak penampungan induk dekat dengan bak pemijahan agar menangkapnya mudah. Sebaiknya induk jantan dan betina ditempatkan secara terpisah supaya tidak terjadi pemijahan liar.

b.      Memilih induk lele siap pijah
Ciri-ciri induk betina yang siap pijah adalah :
-  Bagian perut membesar dan lunak kalau diraba
-  Dubur terlihat merah dan lubang pengeluaran telur lunak melebar
-  Membuat gerakan mondar-mandir
-  Bagian dubur merah dan lunak, kalau diurut dari arah perut akan keluar cairan putih atau sperma

3.            Memijahkan Lele Dumbo
-  Isi bak pemijahan dengan air setinggi 40 cm
-  Pasang kakaban hingga menutupi 80% permukaan air. Lepaskan induk-induk lele yang sudah dipilih dengan perbandingan 1 betina dan 2 jantan
-  Proses pamijahan akan terjadi pada malam hari yang ditandai terlebih dahulu adanya kejar-kejaran antara induk betina dan jantan mengitari kakaban.
-  Amati pada pagi hari,telur-telur sudah dilepas dan menempel pada seluruh permukaan kakaban

4.            Menetaskan Telur
-  Menyiapkan bak penetasan telur, bersihkan terlebih dahulu bak-bak dengan permangkanat
-  Isi air penetasan setinggi 40 cm, pindahkan/angkat kakaban masukkan  ke dalam bak yang sudah disiapkan


-  Amati telur-telur tersebut setelah 24 jam dan telur-telur tersebut mulai menetas. Telur yang baik akan menetas setelah 35 jam. Anak ikan yang keluar dari telur masih sangat kecil dan lemah. Badan transparan dan kalau dilihat dengan mikroskop akan terlihat masih mengandung kuning telur. Telur-telur yang tidak terbuahi berwarna kuning susu dan tidak akan menetas serta akan membusuk. Telur-telur yang terbuahi terlihat kuning transparan dan akan menetas setelah 34 jam sampai dengan 48 jam dikeluarkan oleh induk.

5.            Pemeliharaan Larva
-             Menyiapkan bak untuk budidaya pakan alami berupa dapnia    atau cacing rambut. Cacing rambut  banyak dijual di kios-kios   pedagang ikan hias.
-            Setelah telur lebih dari 48 jam dan sudah terlihat banyak yang menetas maka kakaban diangkat secara hati-hati
-            Merawat larva, larva yang baru beberapa hari menetas kondisinya masih sangat lemah. Larva ini tidak memerlukan pakan tambahan sampai menunggu kandungan kuning telurnya habis. Kandungan kuning telur akan habis setelah menetas 7 hari. Untuk menjaga mortalitas yang tinggi perlu dipasang aerasi
-            Memberi pakan larva. Setelah7 hari, kandungan kuning telur yang ada sudah habis dan harus segera diberi pakan tambahan dari luar. Pakan pertama dapat diberikan kuning telur yang diblendersetiap pagi dan sore sebanyak satu butir per 5000 ekor. Pemberian pakan cacing rambut dapat diberikan setelah 11 hari dan juga dapnia.

6.            Pemanenan Benih Lele
        Panen benih lele bukan merupakan kegiatan akhir dari kegiatan budidaya. Pemungutan hasil pertama dilakukan setelah benih berumur 17 sampai 21 hari (panjang t 2,5 cm). Pada ukuran tersebut benih lele sudah bisa ditebar pada petak pembesaran secara langsung atau ditebar pada tempat penampungan sambil menunggu pembeli.
ALAT BAHAN PEMANENAN
Alat berupa seser, ember, waring, kantong plastik,  tali karet, tabung udara, dan mangkok kecil. Perhitungan hasil biasanya dilakukan secara manual. Untuk memperoleh benih yang seragam digunakan ember plastik yang berlubang-lubang.




OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Kecamatan Rambutan
Kabupaten Banyuasin


DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019

Thursday, August 15, 2019



PENYAKIT IKAN AIR TAWAR

Dalam kegiatan usaha budidaya, penyakit merupakan salah satu hal yang sering menjadi hambatan pembudidaya ikan untuk melakukan usahanya secara berkesinambungan. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, para pembudidaya ikan perlu dibekali dengan pengetahuan tentang penyakit dan cara menanggulanginya.
Beberapa Jenis Penyakit dan Cara Menanggulangi-nya :
A.    Penyakit yang disebabkan parasit
1.      Bintik Putih / White Spot
Penyebab :
-      Ichthyophthirius multifiliis
Gejala :
-      Terdapat bintik putih pada permukaan tubuh
-      Tubuhnya berwarna pucat
-      Sering menggosokan badannya ke dinding/ dasar kolam
-      Megap-megap dan sering berkumpul di sekitar air masuk
Penanggulangan :
-      Menaikan suhu di atas 280 C
-      Rendam dalam larutan Methylen Blue 3 ppm selama 24 jam
-      Rendam dalam larutan NaCl 1-3 gram tiap 100 liter air dengan waktu 5 menit

2.      Gatal / Trichodiniasis
Penyebab :
-      Trichodina sp
Gejala :
-      Keadaan ikan lemah
-      Warna tubuh kusam
-      Sering menggosokan badannya
-      Parasit menempel di seluruh tubuh  
Penanggulangan :
-      Menjaga kualitas air agar tetap baik
-      Rendam dengan larutan Formandehyda sebanyak 40ppm selama 24 jam
3.      Myxosporeasis
Penyebab :
-      Myxobolus sp
-      Myxosoma sp
Gejala :
-      Terlihat adanya benjolan di permukaan tubuh atau insang menyerpai tumor
-      Ada bintik putih pada bagian kulit dan sirip
Penanggulangan :
-      Pengendapan dan penyaringan air
-      Diberi PK 10 gram/m3 air selama 5 jam
-       
4.      Dactylogylassis
Penyebab :
-      Dactylogytus sp
-      Gyrodactylus sp
Gejala :
-      Ikan lemah nafsu makan berkurang
-      Megap-megap seperti kekurangan oksigen
Penanggulangan :
-      Rendam dengan NaCl sebanyak 12,5 gram/m3  air selama 24-36 jam
5.      Kutilen / Clinostinasis
Penyebab :
-      Clinostonum sp
Gejala :
-      Ikan kurus,ada bintik-bintik pada kulit/daging
Penanggulangan :
-      Membunuh induk semang siput air dengan saponin 5 kg/Ha
6.      Lernaeosis
Penyebab :
-      Lernaea sp
Gejala :
-      Terlihat adanya benda yang tertancap seperti jarum di permukaan tubuh ikan
Penanggulangan :
-      Rendam dgn larutan formalin 25 ppm 25 menit
-      Rendam dgn larutan pestisida 0,25 ppm selama 10 menit

7.      Argulosis
Penyebab :
-      Argulus sp
Gejala :
-      Ikan kurus, kutu ikan ini dapat dilihat menempel pada ikan
Penanggulangan :
-      Rendam dengan NHCl sebanyak 1,5% selama 15 menit
-      Rendam dengan NaCl sebanyak 1,25% selama 15 menit
B.     Penyakit yang disebabkan jamur
1.      Jamur
Penyebab :
-      Saprolegnia sp
-      Achlya sp
Gejala :
-      Terlihat ada benang-benang halus yang menyerupai kapas
Penanggulangan :
-      Rendam dengan Malachit green sebanyak 20 gram/m3  air selama 1 jam
-      Rendam dengan larutan garam dapur sebanyak 20 gram/m3  air selama 1 jam
-      Rendam dgn larutan Methelin Blue 3 ppm selama 10 menit

C.    Penyakit yang disebabkan bakteri
1.      Columnaris
Penyebab :
-      Flexibacter columnaris
Gejala :
-      - Lecet pada kulit, kepala dan insang              
-      - infeksi pada insang
Penanggulangan :
-      perbaikan kondisi lingkungan
-      mengurangi kandungan bahan organic dalam air
-      penambahan oksigen

2.      Edwardsielosis
Penyebab :
-      Edwardsiela tarda
Gejala :
-      Ikan pucat
-      Gembung perut
-      Pendarahan pada anus
-      Mata pudar
Penanggulangan :
-      Penyuntikan dengan Oxytetracycline HCl 25 mg/kg ikan
3.      Mycobacteriosis
Penyebab :
-      Mycobacterium spp
Gejala :
-      Lecet seperti cacar
-      Ikan lemah mata menonjol
-      Pembengkakan pada kulit
-      Adanya borok
Penanggulangan :
-      Belum diketemukan obatnya
4.      Bercak merah/Red spot
      Penyebab :
-      Aeromonas sp
Gejala :
-      Pendarahan pada tubuh ikan terdapat bercak merah pada kulit
-      Sisik rontok dan lendir berkurang
-      Mata melotot
Penanggulangan :
-      Dengan garam dapur sebanyak 5-10% dalam waktu 30-60 menit
-      Dengan PK sebanyak 3 gram/m3  air dengan waktu 12 jam

D.    Penyakit yang disebabkan virus
1.      Chanel Catfish Virus Disease/CCDV
Penyebab :
-      Channel Catfish Virus
Gejala :
-      Sering menggantung di permukaan
-      Hilang keseimbangan
-      Bergerak berputar-putar
-      Pendarahan pada sirip dan perut
Penanggulangan :
-      Belum ditemukan obat yang efektif
Penanggulangan :

-      Belum ada jenis obat yang efektif.






OLEH;
BARNAS SUSANTO Z, S.St.Pi






DINAS PERIKANAN
KABUPATEN BANYUASIN
2019