Mengenal Dasar Budidaya Ikan Patin
Disusun Oleh :
Barnas Susanto Z, S.St.Pi
Penyuluh Perikanan Muda
DINAS PERIKANAN KABUPATEN BANYUASIN
2019
Mengenal Dasar Budidaya Ikan Patin
Ikan
patin adalah salah satu ikan air tawar yang mempunyai peluang ekonomi untuk
diternakkan. Ternak ikan patin masih perlu diperluas lagi, karena
pemenuhan atas permintaan ikan patin masih sangat kurang. Ikan patin
seperti halnya ikan lele tidak mempunyai sisik dan mempunyai semacam duri yang
tajam di bagian siripnya keduanya tergolong dalam kelompok catfish. Ada yang
menyebut ikan patin dengan Lele Bangkok. Di beberapa daerah ikan patin
mempunyai nama yang berbed antara lain ikan Jambal, ikan Juara, Lancang dan
Sodarin. Rasa daging ikan patin yang enak dan gurih, rasa yang lebih
dibandingkan Ikan Lele. Ikan patin mempunyai kandungan minyak dan lemak yang
cukup banyak di dalam dagingnya.
Teknik
ternak ikan patin sebenarnya relatif
mudah, sehingga tidak perlu ragu bila berminat menekuni ternak ikan ini. Pada
awalnya pemenuhan kebutuhan ikan patin hanya mengandalkan penangkapan dari
sungai, rawa dan danau sebagai habitat asli ikan patin. Seiring dengan
meningkatnya permintaan dan minat masyarakat, ikan patin mulai diternakkan di
kolam, keramba maupun bak dari semen. Permintaan ikan patin yang terus
meningkat memberikan peluang usaha bagi setiap orang untuk menekuni usaha di
bidang ternak ikan patin ini. Dengan permintaan yang demikian meningkat jelas
tidak mungkin mengandalkan tangkapan alam, tetapi perlu ternak ikan patin
secara lebih intensif.
Jenis ternak ikan patin
Peluang
usaha ternak ikan patin bisa dilakukan dalam
dua bidang kegiatan yaitu kegiatan pembenihan dan kegiatan pembesaran sebagai
ikan konsumsi. Kegiatan pembenihan adalah upaya untuk menghasilkan benih pada
ukuran tertentu. Produk akhirnya adalah benih berukuran tertentu, yang umumnya
ialah benih selepas masa pendederan. Ternak ikan patin sebagai pemenuhan bibit
ini cukup mempunyai prospek yang bagus karena permintaan bibit juga cukup
besar. Ternak ikan patin sebagai persediaan bibit ini memerlukan waktu yang
relatif pendek sehingga perputaran modal bisa dipercepat. Ternak ikan patin
dalam kategori pembesaran biasanya dilakukan saat bibit ikan patin mempunyai
berat 8-12 gram/ekor, dan setelah 6 bulan bisa mencapai 600-700 gram/ekor.
Sebagian petani ikan patin memanen setelah usia 3 sampai 4 bulan karena
permintaan pasar ikan patin dengan bobot yang lebih rendah per ekornya. Budidaya
ikan patin sebagai bibit dan ikan konsumsi mempunyai peluang usaha yang
sama-sama menguntungkan, tergantung pilihan kita mana yang lebih memungkinkan.
Syarat ternak ikan
patin
Ternak
ikan patin membutuhkan beberapa persyaratan dan
kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangannya antara
lain sebagai berikut:
- Tanah yang baik untuk kolam
pemeliharaan dan budi daya ikan patin ialah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut bisa menahan massa air yang besar dan
tidak bocor sehingga bisa dibuat pematang/dinding kolam.
- Kemiringan tanah yang baik untuk
pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam
secara gravitasi.
- Jika pembesaran patin dilakukan
dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu
sungai yang berarus lambat.
- Kualitas air untuk pemeliharaan
ikan patin harus bersih, tidak terlampau keruh dan tidak tercemar
bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air haruslah
diperhatikan, untuk menghindari munculnya jamur, maka perlu ditambahkan
larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis
0,05 cc/liter).
- Suhu air yang baik pada saat
penetasan telur menjadi larva di akuarium ialah antara 26-28 derajat C.
Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater
(pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
- PH air berkisar antara: 6,5-7.

No comments:
Post a Comment